Rumah tembok bercat biru cerah itu berada di ujung gang Delima, memiliki halaman berupa pelataran kosong yang luas, diteduhi rindang pohon Mahoni.
Dulu waktu aku kecil, setiap sore aku mengajak teman-temanku menggelar berbagai macam permainan di sini, dari mulai angklek, petak umpet, loncat tali, kelereng, sampai adu buah kemiri.
Yang paling menyenangkan adalah ketika sudah capek bermain, biasanya aku langsung menggelosorkan tubuhku di teras. Kutempelkan pipi dan dadaku ke lantai tegel yang mengkilap. Hmmm… segerrrr!
Waktu berlalu tak menunggu, ternyata tak ada yang berubah di rumah itu. Yang berubah mungkin hanya penghuninya. Dahulu, Dias adalah seorang bocah ingusan, sekarang ia menjadi pemuda mata duitan.
Sejak ibunya wafat dua tahun lalu, dengan meninggalkan warisan rumah tersebut, sepetak sawah, tipi hitam putih 12 inchi, serta celengan duit duapuluh ribu rupiah, Dias kena tuntut mencari sendiri isi perut. Menyadari kalau bekerja di sawah bisa menguras tenaga, juga sadar akan titelnya sebagai pemuda (?), maka ia menjual sawah warisan itu kemudian membuka usaha kecap kecil-kecilan. Sejaitu, pemandangan di halaman rumahnya dihiasi oleh dua buah bak (drum plastik) berukuran besar yang setiap dibuka tutupnya, aroma permentasi kedelai akan menyengat hidungku.
Idenya bikin kecap memang boleh diacungi jempol, soalnya usaha kecap belum pernah ada di Pasirbambu. Banyak orang heran Dias ujug-ujug pintar mengolah bumbu sehingga kecap buatannya terasa lezat. Tak heran dalam beberapa minggu saja, sudah banyak orang datang berlangganan: tukang nasi goreng, tukang sate, tukang bakso, tukang mi ayam dan tukang-tukang lainnya.
Ia mengaku idenya ini tidak serta merta nongol di kepala, tidak juga karena dibelesakkan para lelembut penunggu pohon asem ketika ia sedang berteduh di bawah rimbunnya.
“Ide tidak datang sendiri, tapi dicari,” begitu katanya, mengutip ucapan para motivator dunia kepenulisan.
Sebulan sebelum sawah dijual, Dias hilir-mudik ke sana ke mari, mencari dan memilah info-info menarik tentang dunia wirausaha. Ia dengan kesabaran tinggi mencari tahu usaha apakah gerangan yang cocok dilakoninya, tentunya usaha yang bermodal tak lebih dari harga sawah yang akan dijualnya.
Percaya nggak percaya, Dias pernah berangkat ke kota hanya untuk mengejar inspirasi. Ia masuk swalayan, lalu mematung sendiri di ujung lorong, di antara rak-rak makanan. Dengan teliti ia memperhatikan barang apa yang paling sering dibeli pengunjung. Ia sengaja memilih jalur makanan karena usaha di sektor makananlah yang paling murah, dan tentunya paling disenangi warga di desanya.
Sejam kemudian, satpam datang dengan wajah garang. Tapi meskipun ia digelandang keluar ruangan layaknya pengutil, Dias senang juga karena ia sudah mengantongi jawaban atas pencariannya selama ini. Ia akan membangun usaha kecap. Ya, kecap manis.
Di kota, Dias juga melongok warung-warung kaki lima. Di warung itu, ia melihat betapa besar minat pengunjung akan kecap. Hal ini semakin memantapkan niatnya untuk segera membuka pabrik kecap.
Nah,
Ketika melewati lapak meja berisi buku-buku bekas di tepi jalan, Dias menemukan sebuah buku berjudul: Meracik Bumbu Dapur karya Hj. Naningtyas Kusumadewi. Di dalam buku itu ada bab khusus tentang resep bikin kecap manis. Dias membelinya.
Sesampainya di rumah, pemuda yang sudah tak beribu-bapak itu langsung menggelar bahan-bahan di meja dapur. Ia memulai tahap pertama pembuatan kecapnya, yaitu merendam kedelai dengan air garam. Esok harinya, ia baru mempraktekan setiap detil yang tertulis di buku resep, seperti seorang blogger meng-copy bulat-bulat postingan blogger lain untuk kemudian di-paste ke blognya sendiri.
Menarik untuk disimak, awalnya Dias menjalani usaha jalani hanya sebatas tuntutan perut tanpa impian harus jadi pengusaha kecap besar-besaran. Namun, kepahitan cinta yang ia lakoni antara dirinya dengan seorang gadis bernama Winne, menyeretnya ke dalam utopia.
Dias berharap, sangat-sangat berharap, usahanya berkembang pesat. Ia ingin menyangkal persepsi orang tua Winne selama ini terhadap dirinya. Ia dendam kepada Wira yang telah melecehkan usahanya, menghina-dinanya sebagai pemuda yang tak mandiri-lah, tak punya masa-depan-lah, tak punya penghasilan tetap-lah. Dias ingin membuktikan bahwa kelak ia akan menjadi orang paling sukses di desanya.
Tak tanggung-tanggung, Dias berencana membangun usaha ini lebih besar lagi dengan memproduksi kecap sehari 1000 botol. Ia akan merekrut banyak pengangguran di Pasirbambu untuk bekerja di pabrik khusus yang dibangun di sebelah mrumahnya, dan rumahnya akan dibangun semacam istana. Dan di dalam istana itulah, cinta Dias dan Winne bermuara.
Wah, ini mimpi yang hebat, kataku memberi semangat.
Setiap malam Dias sering berkhayal: “Jika aku sukses nanti, maka jalan menuju kebahagiaan pasti akan terbentang di hadapanku, lurus tanpa hambatan, tanpa rintangan. Di ujung jalan, aku disambut oleh calon mertua dan didudukkan di kursi pengantin bersanding dengan Winne. Dan, hei lihatlah, berpasang-pasang mata, terutama mata Pak mertua, menghijau-mijau melihat kekayaanku! Semua orang akan menghormatiku, semua orang memanggilku bos.”
Dias kerap berucap istighfar dan menyesali khayalannya itu: sejak kapan cinta bisa dibeli oleh materi? Sejak kapan martabat seseorang bisa diukur dari harta dunia? Cih!
Kembali ke soal wafatnya sang ibu tercinta, ini adalah tragedi terbesar bagi pemuda yang sejak kecil tak mengenal wajah Bapak itu, tapi sebaliknya malah dianggap mujur bagi para pemuda gang Delima, termasuk diriku.
Kepergian ibunya ke alam baka telah memberi angin kebebasan untuk menjadikan rumah Dias sebagai tempat ngumpul-ngumpul, main domino, berkelakar sampai terpingkal-pingkal tidak ada yang melarang. Meskipun sorot mata Dias menandakan rasa tidak setuju, tapi Dias tak pernah mengeluarkan kata-kata larangan main ini-itu. Sampai ada yang bilang, “Siapa-siapa yang mengaku sebagai pemuda gang Delima, tapi tak pernah menginjakkan kakinya di rumah Dias. maka ia akan dianggap bukanlah pemuda gang Delima.”
Pagi ini, seperti pagi-pagi biasanya, aku nongkrong di sana, duduk di kursi tengah sambil menikmati isapan ClassMild.
Dias tampak santai mengisi keranjang dengan botol-botol kecap yang akan diedarnya entah kemana.
Aku meraih secarik koran kucel dari atas meja, bermaksud membaca berita, namun tiba-tiba ucapan Dias membuyarkan konsentrasiku.
“Kalau dulu kutahu akan begini jadinya, mungkin aku tak akan pernah menanyai dia soa mawar itu.”
Dias selesai mengemasi botol-botol ke dalam keranjang. Ia bergerak mengambil sisir lalu merapikan rambutnya yang sebahu.
Kutaruh lagi koran di meja. Sepintas terkenang kembali masa lalu. Waktu itu, Dias dengan bangga datang padaku memperlihatkan bunga mawar hadiah dari Winne.
“Sejak kutahu jawabannya, bahwa bunga itu sebagai ungkapan cinta, aku merasakan bahwa semua ini mimpi,”Dias memasang sepatu.
“Empat tahun aku bermimpi tentang keindahan. Tak kusangka sekarang akan berubah menjadi mimpi buruk.”
“Dan ternyata semua ini bukan mimpi, kan? Coba jewer telingamu, pasti sakit,”aku menyela.
Dias tertawa kecut, lalu diam.
“Kau tipe cowok lemah,” lanjutku sambil melonjorkan kaki ke atas meja.
“Ah ya, mungkin lebih cocok disebut cowok pengecut.
Dias terkejut. Keningnya berkerut. “Kenapa?”
Kuisap rokok dalam-dalam. “Karena kau diam saja. Kamu tak berusaha mempertahankan cinta,” jawabku.
Dias mendesah lemah.
“Lelaki sejati tak perduli rintangan, bahaya, kendala atau apapun demi mempertahankan cinta. Dia punya tekad kuat, pantang menyerah. Bahkan mati pun tak jadi soal asal ia terus bertahan atas cintanya.”
Dias termenung beberapa saat.
“Entahlah, Ji, cowok macam apa aku ini, ya?” ujarnya sembari tertawa.