Langit Tanpa Ujung

Malam merayap pelan. Sunyi merasuk sampai ke relung hati, aku duduk di tepi sungai depan rumah, memandang bintang-bintang yang gemerlapan. Langit itu, begitu jauh. Seberapa jauhkah ujungnya? Orang mengatakan langit tak ada ujung, seperti halnya surga yang tak ada akhir.

Aku membayangkan jika aku bisa melesat tegak lurus ke angkasa, akan aku cari ujung langit. Aku terbang melintasi bintang-bintang, terus, terus, terus dan terus. Mungkin aku akan sampai pada suatu tempat di langit, dimana aku merasa seakan-akan aku diam tak bergerak sama-sekali, dan aku tak melihat apa pun kecuali tubuhku sendiri yang kaku, mematung, berpose terbang ala Superman, padahal pada kenyataannya aku masih sedang melesat bermiliaran kali kecepatan cahaya. Jika memang langit tak berujung, perjalananku menuju ujung langit sama artinya dengan menggantungkan diri di langit. Selamanya aku akan tergantung dengan perasaan hampa. Terus melesat dengan tujuan yang sia-sia, percuma, tak ada apa pun, abadi, tiada akhir, terus, terus dan terus.

Teman-teman, tolong jawab keraguanku, akan seperti itukah kehidupanku nanti di akhirat yang kekal
(sebagai seorang muslim aku harus yakin akan surga yang dijanjikan-Nya)?
… continue reading this entry.

Aku Tak Bahagia

Menonton acara gosip selebriti di tv, mudah ditebak pasti ada berita perceraian. Ada kemungkinan zaman kiwari orang sudah menganggap cerai adalah hal yang biasa, wajar, bagian dari lifestyle. Atau, mungkin ini tuntutan hidup di jaman yang harus serba mudah. Mau kawin, kawinlah. Mau cerai, cerailah. Celakanya bagi aku, setelah nonton berita itu dadaku terasa sesak, enek, seperti diganjal. “Kalau mereka bisa, kenapa aku tak bisa?”pikirku.

Membina rumah tangga yang rukun sakinah mawaddah ternyata susahnya minta ampun. Ketika dua insan sudah tak bisa saling memberi pengertian, ketika komunikasi dua hati sudah tak nyambung lagi, untuk apa dipertahankan? Iya, untuk apa dipertahankan?

Aku masih mencintai istriku, tak pernah redup, tak pernah mati. Empat tahun hidup bersama, perasaan cinta ini masih tetap sama seperti dulu, menggebu. Dan aku sangat tak rela jika dia harus jadi milik lelaki lain. Tidak, sekalipun hanya ujung rambutnya. Sebaliknya, istriku dari dulu tetaplah sama: ia tak pernah bisa menutup-nutupi rasa cemburunya yang terlalu.

Tapi, ternyata oh ternyata, besarnya cinta tak menjamin kebahagian dalam hidupku. Aku tak bahagia. Aku justru menderita karenanya.
… continue reading this entry.

Rukun Islam

Tak bermaksud membual, cerita nggak lucu ini bener-bener terjadi, dulu, waktu aku duduk di bangku kelas 1 MTs (MTsN Darma, Kuningan).

Pagi Kamis, menjelang pelajaran dimulai, setiap kelas wajib menggelar acara… (duh, lupa namanya. Yah, aku sebut aja ceramahan gitu, atawa siraman rohani). Dua orang anggota rohis masuk kelas dan menunjuk ―secara paksa― siapa yang akan jadi MC, qori, penceramah dan pembaca doa penutup. Sial tak dapat dielak, Kamis itu giliran aku yang diseret ke depan untuk berceramah. Tak ada persiapan sama sekali, tak ada teks. Bingung setengah mati, tentu saja, aku jauh dari bakat penceramah. Aku juga tak tahu isi ceramahku harus tentang apa.

Sampai akhirnya sang MC mempersilakan aku ke podium, baru kuputuskan bahwa aku harus mengambil tema yang ringan saja. Rukun Islam. Ya, tentang kewajiban seorang muslim menjalankan 5 rukun Islam.

Maka, setelah berdehem dua kali, dilanjutkan dengan batuk sedikit, aku mulai ceramah:
… continue reading this entry.

Kehancuran Hati

Ingatanku melayang ke masa 8 tahun yang lalu, Desember 2001. Aku masih 20 tahun, perjaka dan menganggur. Celakanya, waktu itu aku sudah kepikiran untuk nikah. Lebih celaka lagi, pacarku adalah tetangga dekat rumahku sendiri.

Dia gadis yang baik hati, lembut, penurut, rajin, manis dan setia. Jika aku memandangnya, ia tak pernah berani membalas pandanganku, ia akan tersipu malu. Senyumnya sedamai air kolam di keheningan malam. Mudah sekali untuk membuat dirinya tersenyum, semudah ketika aku membuatnya menangis. Dan, ia tetap tampak manis dalam situasi apa pun. Aku setengah gila merindukannya. Aku jatuh cinta padanya.

Cinta yang kurasakan tidak bertepuk sebelah tangan. Dia membalas cintaku dengan cinta yang sangat, dan ia mengaku mengalami kerinduan yang sama terhadapku: rindu yang memaksa diri menitikkan air mata, rindu yang membuat dada terasa sesak dan perih.

Dia menulis sepucuk surat padaku: “Aku bahagia di antara kita terjalin rasa cinta, tapi beban rindu yang kualami sungguh tak kuasa aku menanggungnya. Setiap malam aku memikirkanmu dan hatiku sedih, sedih sekali. Aku merasa sangat sepi. Aku menangis sendiri.”

Aku tak tahu harus menulis apa untuk membalas kata-katanya di surat itu. Tapi pada akhirnya aku menulis: “Kasih, aku ingin menikahimu saat ini juga.”
… continue reading this entry.

[joke] Singkong Rebus

Alkisah, seorang raja Mongol yang kejam bernama Genghis Khan ingin menikahkan putri satu-satunya. Demi mendapatkan menantu terbaik, maka diadakan sayembara.

Singkat cerita, loloslah 3 orang pemuda ke babak grand final. Di babak ini, masing-masing peserta diberi tugas khusus yang berbeda. Peserta yang paling dulu menyelesaikan tugas berhak menikahi putri Genghis Khan. Tapi kalau tidak, hukuman mati menanti. Batas waktu yang diberikan 1 tahun.

Setahun berlalu. Datanglah pemuda pertama dengan wajah lesu.

GK= Bagaimana? Apakah kamu berhasil mendapatkan telur elang raksasa di gunung Himalaya?

P1= Maaf yang mulia, saya gagal.

P1= Pengawal, pancung dia!

Tak berapa lama, datang pemuda kedua dengan baju basah kuyup.

GK= Aku harap kamu berhasil membawa taring ikan hiu putih.

P2= Saya mohon ampun. Saya gagal….

GK= Pengawal, pancung dia!

Genghis Khan mulai gelisah. Dia khawatis tak ada satu pun pemuda yang layak menikahi putrinya. Di tengah kegalauannya, datanglah pemuda ketiga dengan badan penuh luka memar, bajunya compang-camping. Dengan susah payah, pemuda tadi menarik sebuah kuali raksasa. Meski demikian, wajahnya tampak bersemangat.

GK= Wah, wah, wah! Melihat wajahmu itu, sepertinya kamu telah berhasil menyelesaikan tugas yang saya berikan. Iya, kan?

P3= Benar sekali Yang Mulia. Setelah susah payah, akhirnya tugas itu berhasil saya selesaikan.

GK= Hebat, hebat, hebat! Oke, kalau begitu mana singkong rebusnya? Saya mau mencicipi.

P3= Haaah?! Apa??? Singkong rebus??? (matanya terbelalak, wajahnya pucat pasi)

GK= Iya, singkong rebus. Memang kenapa?

P3= Saya kira kingkong rebus?! Ampun Yang Mulai, saya membawa kuali berisi kingkong rebus.

GK= Pengawal, pancung dia! Pancung!

aku lupa dapat cerita ini dari mana

Mereka Berdua Seharusnya…

Mata yang Mudah Meneteskan Air Mata

Saya bukan termasuk orang yang percaya ramalan bintang. Tapi, satu hal yang saya sadari: saya lahir tanggal 25 Agustus, berbintang virgo dengan mengibarkan ikon perempuan. Klop banget, saya memiliki hati yang rentan serta dua mata yang mudah berlinang jika melihat suatu hal yang menyedihkan. Bukankah yang demikian itu sifat bawaan perempuan? Ah, saya menganggap ini hanya kebetulan belaka. Tidak ada sangkut paut antara sifat saya (yang mirip perempuan itu) dengan zodiak. Toh, banyak lelaki virgo lain di dunia yang sifatnya justru jauh dari kesan perempuanisme. Kamu pasti kenal penyanyi legendaris bernama Iwan Fals, kan? Kamu juga kenal bintang keren pemeran film Matrix bernama Keanu Reeves, kan? Keduanya sama-sama berbintang virgo.
… continue reading this entry.

Honda SupraFit-ku

Makhluk pada photo di samping ini, yang punya nama SupraFit itu, adalah sosok yang telah begitu banyak menguras isi dompet saya. Bukan karena dia sering sakit- sakitan lantas tiap hari jadi pasien bengkel, bukan juga karena ia rewel minta tiap hari dijajanin BBM yang harganya melambung tinggi, melainkan karena sudah 30 bulan saya terus menerus keluarkan duit Rp. 550.000 untuk menebusnya agar resmi jadi milik saya. Dan apabila saya terlambat membayar 3 bulan, misalnya, itu makhluk niscaya kembali ke tuannya. 28 bulan sudah saya lewati.

Rasanya capek sekali pikiran ini mikir setorannya itu, penghasilan saya menyadap karet hampir 80 persen lari ke dia, boleh dikata saya banting tulang kerja, selain yang utama adalah untuk anak istri, melainkan juga untuk mendapatkan hak kepemilikan saya atas si SupraFit ini. Gara-gara dia, duit selalu nggak tersisa buat beli baju celana.

Begitulah konsekuensinya orang miskin kepengen ‘berlari duduk’. Ketika tak ada duit buat beli motor kontan, kesempatan beli motor kridit jadi satu-satunya jalan. Memang terasa enteng awalnya (cukup bayar 1 juta sebagai uang muka), tapi setelah dijalani… masya Allah, berat nian! Rupanya mereka (siapa mereka? FIF tentunya) tak mau tahu apakah saya sakit, apakah saya di-PHK, apakah hari hujan terus (musim penghujan adalah liburnya penyadap karet), mereka tak peduli. Toh, sudah ada perjanjian bahwa tiap bulan selama 2,5 tahun saya harus setor.

Eh, tak adil rasanya kalau saya menulis keluhan tanpa menyertakan seberapa besar jasa si Fit kepada saya. Oh, amat besar sekali jasanya. Dialah yang menyebabkan jarak yang jauh menjadi dekat, langkah yang lambat menjadi cepat, waktu perjalanan yang lama menjadi singkat. Ia menjadi tukang pikul beban-beban berat yang kalau saya pikul sendiri niscaya saya ngos-ngosan, bahkan kelenger pingsan.
Wah, seharusnya saya berterima kasih sama si Fit. Di atas punggungnya yang empuk dan hitam, aku duduk di sepanjang perjalanan menuju tempat bekerja. Di atas punggungnya pula saya, istri dan anak saya berkeliling menelusuri jalan yang satu ke jalan yang lain, tertawa-tawa, bersuka ria tanpa khawatir si Fit akan mati kecapekan. Ternyata si Fit benar-benar tumpangan yang kuat.

30 bulan sudah kebersamaan saya dengannya, selama itu pula duit saya dihisapnya. Kini, ketika krisis global datang menghantam, yang menyebabkan harga getah karet merosot tajam, alhamdulillah, angsurannya LUNAS. Cuma… Ya, cuma untuk mengambil BPKB-nya, saya musti setor duit Rp. 1.011.000 (satu juta sebelas ribu) ke FIF. Hah? Itu adalah jumlah denda tunggakan angsurannya. Saya nggak nyangka dendanya akan sebesar itu. Alhasil, sampai detik ini saya masih bingung kelimpungan mencari uang untuk membayar denda itu, karena jika tidak dibayar, mengendarai motor ini sama saja dengan mengendari motor kosong (tanpa surat resmi kepemilikan), atau motor hasil curian. Makanya, orang yang paling saya takuti ketika mengendarai motor ini adalah Polisi.

[cerpen] Hanya Bisa Memandang

Akhir bulan November pertengahan musim hujan. Di saat cahaya purnama menebar di pucuk pepohonan, rumput di tengah alun-alun bergoyang dihembus angin gunung. Kerikil-kerikil kecil di jalan basah oleh gerimis yang turun sesaat sebelum sang surya tenggelam, kini berkilauan ditimpa cahaya bulan. Barisan lampu listrik 5 watt di setiap halaman rumah membantu sang bulan menerangi malam, kerlap-kerlip cahayanya di antara celah-celah daun. Rumah Wira berdiri megah di tepi alun-alun. Halamannya luas, dikelilingi pagartembok setinggi 2 meter. Mantan kepala desa ini akan marah besar kalau kemegahan rumahnya dihubung-hubungkan dengan status lamanya sebagai bekas orang nomor satu di Pasirbambu.
… continue reading this entry.

Tamu Bloger

Terima kasih buat
Mas Udien Roy
dan
Mas Aan
yang pada hari Jum’at kemarin mampir ke rumah bututku di Mandiangin.

Kedua bloger itu sempat kuajak masuk kebun karet, ngunjungin bloger lain yang suka ngomongin politik, siapo lagi kalau bukan…
Bapaknya Si Dias

Oh ya, ini ada photonya lagi padama’am, sengaja gambarnya dibikin pudar, sebab pemasangannya nggak izin dulu sama mereka.
Bohong! Alasan yang bener adalah: biar isi piring mereka nggak keliatan, sebab Mamah-nya Dias bilang malu nggak punya makanan enak.


Mas Udien pake baju biru, duduk di bangku, sementara Mas Aan duduknya di rumput.


Nah, kalau yang ini Bapaknya Dias, pake kaos caleg. Kita tahu dia suka ngritik para politikus, seharusnya ia terima kasih karena udah dikasih kaus sama mereka, hehehe..
:-)

« Entri lama