. . . Mandiangin Oh Mandiangin . . .

Ingin Mengecap Gemerlap Warna-warni Dunia.

Arap-ap Eureup-eup

Ditulis oleh Ayahnya Ranggasetya di/pada 28 Januari 2010

Tuhan menguji saya dengan ‘penyakit’ yang susah diobati.

Aids? Oh, bukan, mudah-mudahan saya terjauh dari penyakit itu.

‘Penyakit’ yang saya maksud adalah masalah berkomunikasi secara lisan, atau boleh dibilang penyakit susah ngomong.

Eit, ini bukan berarti saya bisu, atau cadel, atau gagap, atau punya kelainan fisik semisal lidah pendek, gigi rontok atau mulut sumbing, melainkan susah mengatur kosa-kata saat berbicara.

Jika saya diajak ngobrol, saya lebih banyak mendengar ketimbang bicara.

Dan jika tiba saat saya harus bicara, teman yang ngajak ngobrol mesti ‘merangkai dewek’ kata demi kata yang saya ucapkan. :-(

Terkadang pula saya salah dalam memilih kata, atau kadang saat di tengah-tengah kalimat saya harus mikir dulu selama beberapa detik kata apa nih yang pas saya ucapkan biar nyambung sama kalimat yang udah saya ucapkan dengan kalimat susulannya nanti?

Wah, repotnya!

Saya mengaku takluk kalau disuruh bercerita. Soal apa saja.

Jika saya melihat suatu peristiwa dengan mata kepala saya sendiri (kecelakaan, misalnya), kemudian ada orang bertanya;

  • Apa yang kamu lihat?
  • Bagaimana kecelakaan itu bisa terjadi?
  • Tolong jelaskan secara detil kronologisnya!

Yang pertama-tama terpikir adalah… dari mana saya harus memulai bicara?

Waduh, rasanya saya mau lari terbirit-birit saking susahnya menjelaskan penglihatan saya.

Susah ngomong ini tak cuma kepada orang lain saja, bicara pada saudara pun sami mawon.

“Arap-ap eureup-eup, teu puguh kadanguna,”kata kakak saya.

Ah, apa sebenarnya yang telah terjadi?

Padahal dulu saya tidaklah begini-begini amat.

Waktu di sekolah, saya sering disuruh tampil di depan kelas dalam acara ceramahan yang digelar setiap hari Kamis.

Saya kerap jadi MC dalam acara tersebut.

Tak ada masalah.

Di rumah, saya sering bercerita tentang kancil dan buaya, kura-kura dan kera, serta cerita-cerita lucu kepada adik saya. Juga, lancar-lancar aja.

Saya ingat, sebelum mulai bercerita saya menyiapkan tape recorder untuk merekam kata-kata saya.

Setiap kali rekaman itu diputar ulang, adik saya tertawa terpingkal-pingkal.

Memang bukan karena ceritanya lucu, tapi suara yang terdengar di tape itu seperti bukan suara saya. Itu lebih mirip suara Abah saya.

Sekarang, adik saya mengaku susah mencerna setiap ucapan saya.

Lagi-lagi, apa yang sebenarnya terjadi pada diri saya?

Jawabnya: saya tidak tahu.

Tapi, ada kemungkinan ini adalah konsekuensi dari jalan hidup saya sebagai penyadap karet di tengah hutan.

Tigabelas tahun saya hidup dijauhkan dari keramaian, tak mengenal pergaulan.

Setiap hari saya berjalan membawa pisau sadap ke tempat yang itu-itu saja, melihat yang itu-itu saja.

Kepada siapa saya harus bicara?

Kepada pohon karet?“Hai karet, keluarkan getahmu banyak-banyak!”

Kepada monyet yang bergelantungan di dahan?“Hai nyet, lu jangan kencing ke kepala gue!”

Kepada semak belukar?“Hei semak, kutebas kau jika berani halangi jalanku!”

Kepada duri rotan?“Aduuuh, sakit banget tusukanmu di kulitku!”

Ataukah kepada tubuh sendiri yang memaksa saya untuk duduk seraya mengucapkan:“Duh, lelahnya mencari sesuap nasi!”?

Tidak.

Saya bukan tarzan dan saya tidak ngomong apa-apa sama mereka.

Selama 10 jam bekerja setiap harinya, saya hanya diam membisu, mengatup mulut rapat-rapat biar nyamuk-nyamuk (yang saking banyaknya membuatku takut dibawa terbang oleh mereka) tak dapat bertelur di sana.

Saya terkadang hanya berbicara dalam pikiran, selebihnya membiarkan pikiran itu melayang-layang, lagi-lagi ke masa lalu.

Nah, kamu bisa bayangkan sendiri, kerjaan saya sehari-hari adalah seperti itu. Dan itu terjadi selama 13 tahun, sejak tahun 97 sampai sekarang.

Saya jarang ngomong.

Bahkan pernah seharian saya ngga ngomong-ngomong.

Mungkinkah ini mempengaruhi ketidak-lancaran bahasa lisan saya sekarang?

(Maka harap dimaklumi, jika teman mau menghubungi saya via handphone… please, sms aja. Hahaha…)

Ditulis dalam Tentang saya & problematika | 27 Komentar »

Lagi: Posting Photo Istanaku

Ditulis oleh Ayahnya Ranggasetya di/pada 28 Januari 2010

Di gubuk ini, di tengah hutan karet ini, aku menghabiskan hari demi hari, bulan ke bulan. Ia adalah tempat berteduh yang menyenangkan dikala panas dan hujan.

Atapnya memang dari seng, tapi diteduhi dedaunan rimbun di sekitarnya.

Di sini, jeritan singku yang dikicaui burung menjadi simponi pagi, sementara malam didendangkan oleh jengkrik dan dedaunan yang berisik.

Terkadang terdengar burung hantu menangis dari tempat yang jauh, atau pekikan anjing, atau yang paling sering adalah segrokan babi hutan begitu dekat di sekitar gubuk ini.

Memang menyeramkan untuk siapa saja yang tak biasa, tapi bagi kami, aku dan anak istri, suara-suara binatang itu menjadi teman sepanjang malam. Dan justru sebaliknya, jikalau suatu malam binatang-binatang tak berbunyi, daun-daun diam kaku, hening sehening-heningnya, maka kami semua akan merasakan suasana yang amat mencekam. Serasa itu adalah firasat alam, bahwa akan ada sesuatu yang bakal terjadi, dan sesuatu itu amatlah menakutkan kami.

Tetangga paling dekat dari gubuk ini adalah bedeng tempat tinggal orang-orang perantauan dari Pati, Jawa Tengah, sekitar 2 KM jauhnya dari gubuk ini.

Begitu jauhnya, tetapi mereka tetap saya anggap tetangga. Karena, kalau misalnya sesuatu hal yang tak saya inginkan terjadi di gubuk ini, hanya kepada merekalah saya berlari meminta bantuan.

Di gubuk ini saya terasing dari bunyi gerung kendaraan, bahkan dari bunyi kokokan ayam (saya tidak memelihara/beternak ayam karena mereka pasti akan menjadi santapan musang).

Di gubuk ini saya merindukan bunyi bedug maghrib, lantunan shalawat serta panggilan adzan, sehingga setiap berbuka puasa bulan Ramadhan, saya mengandalkan hilangnya lembayung merah di ufuk barat, atau mendengarkan bunyi burung Titiru mengiba-iba menyambut hadirnya kegelapan.

Tahukah kamu, jarak antara gubuk ini dengan keramaian desa bahkan tak cukup setengah bungkus rokok jika diisap sambil berjalan kaki.

Memang jauh, dan terasing.

Jikalau kawan pernah mengalami tinggal di gubuk nun jauh di hutan ini, apa yang terbayang?

Ditulis dalam Curhat | 11 Komentar »

Dias & Winne (Bab Enam)

Ditulis oleh Ayahnya Ranggasetya di/pada 27 Januari 2010

Mulutnya orang Pasirbambu bak berbisa. Ada isu Mang Emon maling kaos saja dapat merayap ke seantero desa, malah ada yang membesar-besarkannya lagi bahwa Emon menjual kaos itu ke pasar loak. Padahal cerita sebenarnya tidaklah sebegitu sadis, mungkin yang salah adalah kaos itu sendiri. Ketika Emon yang penjual tembakau mau pergi ke pasar, lewatlah ia di pekarangan rumah Ceu Romlah yang banyak jemuran kaosnya. Nah, salah satu dari kaos itu lepas dari tali jemuran lantas seenaknya mencantol di tas Emon dan akhirnya terbawa sampai ke pasar. Akibatnya, Emon jadi bulan-bulanan digosipin pencuri kaos. Begitulah warga Pasirbambu.

Pun kecelakaan yang menimpa Adjie tak urung jadi pembicaraan seru orang-orang Pasirbambu. Pasalnya, Adjie adalah calon menantu Wira Sudrajat, sedangkan Wira adalah mantan kepala desa yang cukup disegani.

Ironisnya, tidak ada yang mau peduli siapa yang menyebarkan kabar bahwa kecelakaan Adjie bukanlah karena kondisi Adjie yang kurang fit saat mengemudi, tapi karena diserobot preman. Padahal, seperti yang kita tahu, tak seorang pun melihat peristiwa tersebut.

Atau barangkali di tempat kejadian ada seorang petani yang jadi saksi. Tapi masak sih pak tani cuek saja melihat Adjie terjerembab ke dalam parit. Pastinya ia datang menolong, Kecuali kalau petani itu memang sudah tak tidak punya rasa prikemanusiaan.

Sekali lagi, siapakah yang memberi kabar? Kok bisa tahu?

Kalau warga Pasirbambu mau berfikir panjang, pasti ketahuan bahwa orang yang pertama kali menyebarkan berita, itulah pelakunya. Ini mah boro-boro mau mikir ke situ, enjoy aja mereka cuap-cuap tanpa peduli absah tidaknya apa yang mereka cuapkan. Mereka tak mau mencari setan yang jelas-jelas tidak kelihatan. Mereka lebih senang menebak sesuatu yang sudah tampak di depan mata.

Semua tahu, Adjie bertunangan dengan Winne. Nah, tinggal cari siapa yang bakal sakit hati jika Winne diambil Adjie. Banyak memang pemuda yang naksir Winne, tapi yang paling berpotensi melakukan kejahatan itu adalah pemuda yang menjadi pacar Winne.

Siapa lagi kalau bukan Dias?

Kalau benar si Dias pelakunya, berarti Dias sendirilah yang menyebarkan berita, lantas apa motif Dias menyebarkannya?

Duh, jadi berbelit-belit. Pusing deh!

Padahal, gara-gara dibicarakan terus-menerus, Dias jadi kurang pede menampilkan langkah gagahnya di gang Delima. Gadis-gadis yang berpapasan dengannya saling lirik dan berbisik-bisik.

“Ini mungkin rencana Dias yang kutanyakan dahulu itu.” (baca lagi di bab 1)

“Tapi aku tak sangka akan begitu.”

“Aku malah menduga menduga Dias akan menggunduli rambutnya yang ikal itu.”

“Ah, Dias, kenapa reputasi dikorbankan hanya karena cinta?”

Bahkan ada orang Pasirbambu (gadis, tentunya) sedang jalan-jalan bersama temannya orang Leuwiati, kemudian mereka berjumpa dengan Dias, orang Pasirbambu berbisik di telinga orang Leuwiati: “Tuh, dia orangnya!”sambil menunjuk ke arah Dias.

Orang Leuwiati tidak bertanya kenapa Dias ditunjuk-tunjuk segala oleh sebab perbincangannya dengan orang Pasirbambu sejak tadi adalah seputar kecelakaan Adjie. Orang Leuwiati malah melongo. “Oooh, Dias ini ya? Tukang kecap kan?”

“Iya, kamu udah kenal rupanya.”

“Pantesan…”

“Heh, kau lihat perangainya, apa dia pantes melakukan perbuatan jahat?”

“Nggak pantes sih. Maksud aku tadi dia pantes jadi pacar Winne. Gantengnya itu…”

Dias masih bersyukur gadis-gadis masih memuji ketampanannya.

Ai, kepada teman-teman di sekolah berkomentar:“100 persen aku ngga percaya Dias pelakunya. Aku tahu siapa Dias dan bagaimana ia bersikap sehari-harinya, kalem, sopan, ramah, ngga sombong, bla, bla, bla. Aku yakin ia akan berpikir ribuan kali untuk melakukan kejahatan itu. Ngga percaya. Aku ngga percaya dalam waktu singkat tiba-tiba ia menjadi seseorang berkaus oblong, bercelana pendek, pakai sepatu bot lantas naik motor dan menendang pantat Pak Adjie.”

Tapi Nunik berpendapat lain. “Ai, pernah ngga dengar pribahasa srigala berbulu domba?”

Sedangkan temannya yang lain pada protes:“Kau tahu dari mana kalau pelakunya pake kaus oblong? Yang aku dengar dia pakai jaket kulit.”

“Dia bukan nendang pantat Adjie, Ai, tapi nendang pinggang.”

Benar-benar simpang-siur.

Dias sendiri merasa sia-sia untuk membantah. Meskipun misalnya setiap waktu sembahyang tiba dirinya berlari ke mushala, menghidupkan speaker lalu mengumandangkan adzan, orang-orang tak akan berhenti membicarakannya. Dan meskipun misalnya setelah adzan ia berpidato sambil nangis sesenggukan: “Wahai saudara-saudari yang kucintai, bapak ibu warga Pasirbambu yang kuhormati, mamang-mamang yang kusenangi, sesungguhnya aku tidaklah melakukan kejahatan itu,”orang-orang tak akan berhenti mencurigainya. Maka, daripada capek berkoar, Dias memilih diam dan berusaha tak peduli. Hanya kepada buku pelanggan kecapnya ia mengadu:“Betapa malang nasibku, kawan. Belum juga sembuh luka hati yang satu, bertambah pula dengan luka hati yang baru.”

Sayang binti sayang, orang-orang tak menemukan (atau membaca) tulisan yang menyayat itu. Orang-orang tidak pula menemukan satu kata penyangkal pun di kecap-kecap bikinan Dias.

Bahkan ada seorang suami bilang sama istrinya:“Sekarang aku tak lagi merasakan nikmatnya nasi goreng.”Rupanya si istri berhenti mengkonsumsi kecap bikinan Dias yang memang lezat. Duh, sampai segitunya ya! Sebaliknya toko Iwan kebanjiran order, kecap cap Satrio jualannya mulai dilirik warga. Mungkin itu sebabnya orang yang bernama asli Gunawan ini menjadi orang yang paling vokal menggembor-gemborkan fitnah.

Di tengah-tengah suasana angkurawut begitu, tiba-tiba muncul tambahan kabar baru: katanya pelaku yang mencelakai Adjie tidaklah sendiri, tapi berdua. Yang nyetir besar kemungkinan adalah orang yang punya motor, sedangkan yang menendang adalah orang yang punya masalah dengan Adjie. Kabar itu bukan isapan jempol, diakui kebenarannya oleh jin, malaikat serta makhluk gaib lainnya.

Lalu siapa kawan si kaos oblong?

Nama Dani lalu mencuat ke permukaan. Kalau meminjam istilah selebriti, si Dani sedang naik daun sekarang ini. Eneng, adik Dani, yang super perhatian langsung protes:“Kenapa harus Dani?”Orang-orang menjawab enteng:“Karena Dani satu-satunya ojek pribadi Dias.”

Tak mau mengalah macam si Dias, Dani berseru lantang menyangkal keterlibatannya:“Barangsiapa yang bilang aku pelakunya, segera datang padaku untuk duel satu lawan satu.”

Tapi ketika Ai berpura-pura mencurigainya, Dani merasa perlu meralat ucapannya:“Khusus perawan, duelnya di peraduan.”

Bagaimana Wira menyikapi masalah yang santer dibicarakan orang ini?

Pertama-tama ia meminta Adjie berterus-terang prihal kecelakaannya. Pada akhirnya Adjie mengiyakan bahwa kecelakaannya adalah ulah preman, namun Adjie juga wanti-wanti agar orangtuanya di Cikaso tidak usah dikasih tahu dulu.

Maka yakinlah Wira akan kebenaran isu yang berhembus di desanya, tapi bukan berarti ia langsung percaya Dias dan Dani pelakunya. Kedua pemuda itu akan diinterogasi lebih dulu.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Cerber | 12 Komentar »

Dias & Winne (Bab Lima)

Ditulis oleh Ayahnya Ranggasetya di/pada 26 Januari 2010

Usia Adjie 25 tahun. Lulus sarjana langsung tes ujian PNS. Gagal. Ada yang menyarankan supaya Adjie memakai ‘jalur cepat’, minimal tiga ekor kerbau musti dijual untuk memuluskan jalan menuju harapan. Tapi Djaliel, bapak Adjie, tak ingin mencoreng nama baiknya sebagai seorang haji. Setiap tawaran yang berbau KKN ditolaknya.

Untunglah, lelaki berumur 60 tahunan itu punya banyak kenalan asal Lebaksari. Salah satunya menyarankan agar Adjie menghonor dulu di SMP Lebaksari. Maka, selesai mengurus administrasi, Adjie resmi mengajar di sana untuk mata pelajaran… Kerajinan Tangan.

Di sekolah tersebut, Adjie adalah satu-satunya guru dari luar kecamatan Lebaksari. Tempat tinggalnya yang jauh di kecamatan Cikaso menempatkan dirinya sebagai guru yang paling banyak kendala dalam masalah transfortasi.

Perjalanan Cikaso-Lebaksari yang terentang 18 km bukanlah perjalanan semacam tur yang menyenangkan. Dari Cikaso Adjie bisa naik bis kecil jurusan Tasik (menjauh dari pusat kota kabupaten Kuningan yang jaraknya tinggal 5 km lagi), kemudian turun di sebuah persimpangan yang tertancap plang bertuliskan KE LEBAKSARI. Di simpang itu, beberapa angkutan pedesaan goprok menunggunya. Adjie tak punya pilihan, kecuali ia bisa memilih mobil mana yang sudah berpenumpang dan yang mesinnya siap dihidupkan.

Di dalam angkutan pedesaan ini Adjie duduk bersama ibu-ibu penjual pasaran yang mulutnya tak bisa berhenti wak-wak wek-wek. Bagaimana jadinya jika celotehan mereka digabung dengan bunyi raungan mesin yg rebek?

Yang namanya penjual di pasar pasti bawaaannya keranjang atau bakul. Satu dua dari sekian banyak bakul itu isinya mungkin saja ikan asin atau mungkin juga terasi. Keadaan itu kadang diperparah pula oleh ulah lelaki tua yang merokok di sebelahnya. Nah, bagaimana kalau separuh penumpangnya belum mandi pagi? Dan bagaimana pula kalau tiba-tiba seseorang kentut? Hidung pastinya akan menderita.

Ketika mobil melewati jalan garinjul banyak lubang, pantat Adjie menjadi makin terasa ambeien-nya. Sebentar-sebentar terangkat dari jok yang keras, sedetik kemudian terhempas. Kadang kala mobil meliuk di kelokan tajam, penumpang di sebelahnya ikut meliuk dan mendesak tempat duduknya.

Wuaaah… Adjie tak bisa berkutik. Benar-benar sengsara. Dan itu terjadi selama satu jam, sebelum mobil sampai di wilayah kecamatan Lebaksari yang jalannya agak mulusan.

Itu baru perjalanan dari rumah ke sekolah. Bagaimana saat pulangnya di siang hari?

Dasar nasibnya harus jelek, jam kepulangan Adjie dari mengajar berbarengan dengan jam kepulangan para ibu-ibu penjual di pasaran itu. Silakan bertanya; apakah mereka tak kehabisan celoteh wak-wak wek-wek-nya?

Kasihan melihat anaknya kerap mengeluh soal pengangkutan, maka Djaliel pergi ke dealer motor Honda. Pulangnya ia menuntun Revo.

Sejak ada sepeda motor, Adjie mulai merasakan nikmatnya perjalanan. Ia bisa berhenti istirahat sesuka hati di mana saja sambil menikmati pemandangan desa. Telaga, sawah, sungai, gunung dan perbukitan, serta… ah, perempuan. Setiap desa yang dilewatinya senantiasa menyuguhkan gadis-gadis, baik yang sengaja nongkrong di tepi jalan, mau pun yang memang lagi nunggu angkutan.

Ngomong-ngomong soal perempuan, Adjie jadi teringat sama Tini Anggraeni, sejawatnya di SMP yang rada-rada menarik. Melihat sikap Tini yang suka grogi kalau disapa, Adjie dapat menebak bahwa gadis itu cinta kepadanya. Tapi, Adjie bukan cowok gampangan dalam soal cinta. Ia senantiasa mengorek sisi terburuk pribadi Tini. Terlepas dari itu, Adjie tak mau profesionalitasnya terusik gara-gara menjalin hubungan asmara dengan wanita sekantor.

Saat masih bimbang-bimbangnya memikirkan Tini, pada suatu pagi di bulan September, motornya tanpa sengaja nyeruduk lengan seorang gadis desa Pasirbambu. Adjie tidak mengalami luka-luka dalam insiden tersebut, tetapi gadis bernama Winne yang disenggolnya terkapar pingsan di jalan.

Nah, setelah itu, setelah ia perhatikan cantiknya wajah Winne, pikirannya jadi selalu terpusat ke Pasirbambu. Tini? Harus bye-bye dari ingatan.

Nyaris setiap hari sepulang mengajar Adjie mampir ke rumah Winne, dan ia selalu diterima dengan suka cita oleh kedua orang tua Winne. Tapi sayangnya, Winne kerap menghindari pertemuan. Winne tak mau duduk dua-duaan. Ia ingin ibunya ikut menemani Adjie, dan ia akan diam seribu bahasa di depan Adjie.

Ternyata oh ternyata, gadis tertutup seperti inilah yang disukai Adjie.

“Sepanjang aku mengenal wanita, baru pertama kali aku dipertemukan dengan gadis yang matanya tidak berbinar melihat ketampananku,” pikir Adjie. Ia semakin penasaran. Ia ingin menaklukan keangkuhan hati gadis itu.

Sebulan kemudian, Adjie memantapkan pikiran untuk segera melamar. Ia memboyong kedua orang tuanya ke Pasirbambu.

Wira, ayah Winne, tentunya gembira akan punya menantu seorang guru. Setelah bertanya agak jual mahal, apakah niat Adjie melamar didorong oleh hati nurani yang suci (kalau banyak noda, nantinya akan direndam dulu pake Rinso), Wira menerima lamaran tersebut.

Djaliel dan istrinya, Rokayah, tak dapat begitu saja gembira mendengar lamaran anaknya diterima. Rokayah heran karena Wira tidak meminta persetujuan dari putrinya. Perempuan 55 tahun itu melirik Adjie sesaat lalu menatap ke arah Winne yang sedang menundukkan kepala.

“Kalau pendapat Neng Winne bagaimana?” tanya Rokayah.

“Dia anak penurut. Tak pernah membantah kehendak orang tua,” Wira yang menjawab.

Winne semakin menundukkan wajahnya. Dan Wira dengan ceroboh menafsirkan gerakan menunduk itu sebagai anggukan kepala.

Djaliel kemudian menyerahkan cincin tuntangan. Dengan begitu, resmilah pertunangan antara Adjie dengan Winne.

Rencana nikah akan diselenggarakan… oh, maaf, belum ada keputusan pasti.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Cerber | 14 Komentar »

Dias & Winne (Bab Empat)

Ditulis oleh Ayahnya Ranggasetya di/pada 25 Januari 2010

Kalau ada orang bertanya rumah siapa yang paling sering dikunjungi tetangga, telunjuk mengarah ke hidung Apip. Sangat beralasan, nyaris setiap hari rumah tembok bercat merah muda di pertengahan gang Cilamba itu disatroni para perempuan, tua maupun muda.

Semenjak usaha kerupuknya maju pesat, orang tua Apip merekrut ibu-ibu rumah tangga (termasuk salah satunya adalah ibuku) yang ingin mencari penghasilan tambahan untuk bekerja mengemas kerupuk di rumahnya. Dalam perkembangannya, ternyata bukan ibu-ibu saja yang datang, gadis-gadis pun tak mau ketinggalan. Daripada nongkrong di jalan, kata mereka, lebih baik kerja mungkus (kata populer di Pasirbambu untuk menyebut nama pekerjaan itu).

Hari ini, suasana rumah Apip amat ramai. Ruang tengah seluas 15 meter persegi dijejali belasan karyawan. Mereka duduk berjejer di lantai bertikar dari pintu depan sampai ke pintu dapur. Suara berisik berisik plastik berbaur dengan celotehan pemungkus rewel, ditambah pula dengan musik guak-ngiuk yang diputar di tape compo butut, membuat gendang telinga terasa gatal pengen digaruk.

Lilis, kakak perempuan Apip, sibuk membentangkan rol-rol plastik yang nanti akan diisinya dengan kerupuk. Setiap pemungkus tinggal mengambil salah satu ujung bentangan yang telah terisi kemudian membagi-baginya menjadi bungkusan kecil. Caranya, setelah cukup takaran isi kerupuk, plastik dilipat dan lipatan itu dirapatkan dengan meleletkannya ke api lampu tempel. Setiap hitungan sepuluh bungkus rantaian tersebut diputus, lalu ditaruh di depan. Siapa yang paling lihai mungkus dapat dilihat dari tingginya onggokan kerupuk yang ada di depannya.

(hwadddoh… maaf nih, deskripsinya terlalu ngayayay)

Susi boleh senang hati sebab onggokan kerupuknya selalu paling tinggi di antara yg lain. Gadis berambut panjang sepinggang itu dikenal paling cepat dalam mungkus. Ia tak hanya gesit menggerakan jemari tangannya, tapi juga jarang membuat gerakan-gerakan yang bisa memperlambat pekerjaan.

Tidak seperti Ipah yang duduk di sebelahnya. Ipah paling doyan memindahkan ceceran kerupuk dari baskom ke mulutnya, atau ―lazim dilakukan ibu-ibu lain― membuat sebungkus kerupuk dalam ukuran jumbo, mencabutnya dari rantaian lalu diselipkannya ke saku Endan, anaknya yang tak bosan-bosannya muncul di jendela.

Kelebihan Susi lainnya adalah sifat pendiamnya. Ia jarang berbunyi, berbeda 180 derajat dengan pemungkus-pemungkus lain yang rata-rata bawel macam burung beo. Itulah alasan mengapa Susi selalu unggul dalam pendapatan.

Tapi hari ini, lantaran suatu hal, Susi jadi kurang konsentrasi pada pekerjaannya…

Gadis yang hanya mengenyam pendidikan SD itu malah sibuk memasang kuping. Ia bukan sedang menikmati Bisik-Bisik Tetangga-nya Elvi Sukaesih di tape, melainkan serius mendengarkan bisik-bisik Ipah di sebelah kanannya.

Sesekali wajah bulat Susi melongo tak percaya akan kebenaran cerita yang sedang dituturkan Ipah. Ucapan-ucapan seperti; kok bisa ya? Masak sih? Lalu? Ah, tak sangka! Pantas aja! terlontar begitu saja dari mulut Susi. Sesekali dia hentikan pekerjaannya, termangu, berkernyit, terkesiap, manggu-manggut.

Sampai akhirnya ―berbarengan dengan habisnya lagu Bisik-Bisik Tetangga di tape― kekagetan seorang Susi sampai pada puncak bin puncaknya. Ia menatap Ipah tak percaya, kemudian berbisik: “Masak iya, Ceu?”

“Kalau kau tak percaya, tanya aja sama Bi Ningsih,” Ipah mengerlingkan mata ke arah ibuku yang duduk di sebelah kiri Susi.

Ibuku ternyata sejak tadi mencuri dengar perbincangan antara Susi dengan Ipah. Ia tersenyum mengiyakan.

“Bibi juga tak akan percaya kalau saja Bibi tak melihat dengan mata kepala sendiri,”ujar ibuku.

“Bunuh diri beneran?”

“Iya, bunuh diri. Memang aneh sekali kelakuannya. Bunuh diri itu mati konyol. Sudah putus riwayat hidup, dosanya besar pula.”

“Bi Ningsih ngomong apaan sih? Kedengarannya mengucap kata bunuh diri segala?”tiba-tiba Teti nyeletuk. Perempuan 25 tahun itu kebetulan duduk di kiri ibuku.

“Ah, engga. Siapa yang ngomong bunuh diri?”ibuku berkelit. Wajahnya merona malu.

“Naaah ketahuan! Pasti sedang bercerita tentang orang tua kandung Leli,”seru Upi dari ujung barisan dekat pintu dapur.

“Itu mah sudah jadi cerita basi,”timpal yang lain.

“Ssst, kalau ngomong rahasia pelan-pelan dong, nanti ada cecak putih.”

Susi dan Ipah tak peduli. Setelah pemungkus-pemungkus lain kembali pada obrolan mereka masing-masing, Ipah berbisik lagi: “Bapak Leli yang bernama Oman itu sudah ngga peduli anaknya mau diurus siapa. Yang ada dalam pikiran cuma istrinya saja. Ia terus menyesali dirinya, kenapa tidak berusaha menolong istrinya saat diperkosa para gorombolan. Ya, akhirnya ia nekat menyusul…”

“Ia mencintai istrinya dengan cinta yg gila,”Susi berkomentar.

“Pikirannya sudah tidak waras. Istrinya mati kok masih diharap-harap. Dia tidak mikir masa depan kedua anaknya. Lagi pula, yang namanya sayang ìstri bukan dengan cara mengorbankan nyawa sia-sia. Mengurus anak itulah yang penting.”

“Ceuceu bilang bunuh diri nya Oman karena penyesalan. Menyesal kenapa?”

“Sus,”Ipah melirik kiri-kanan,“Saat istrinya diperkosa ramai-ramai oleh gorombolan, Oman ada di situ. Ia melihat bagaimana istrinya menjerit-jerit minta tolong, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa karena ia sendiri diancam akan dibunuh kalau berani melawan. Golok, celurit, kapak, palu, dihunuskan padanya.”

“Lha, kalau Oman takut mati dibacok, kenapa malah bunuh diri?”

“Nah, itulah yang tak kumengerti. Bodoh sekali ya! Setelah tahu sang istri mati, dia baru menyesal. Benar kata orang, penyesalan selalu datang terlambat. Andai kata Oman mengetahui akan seperti itu kejadiannya, mungkin ia akan memilih mati berkubang darah. Entahlah.”

“Mak,”panggilan Endan di luar jendela mengejutkan Ipah. Jendela itu berada tepat di belakangnya.

“Ada apa lagi, Ndan? Kau ini, sebentar-sebentar memanggil emak, seperti takut ditinggal kabur saja,” gerutu Ipah.

“Aku lapar, Mak!”Endan merengek sedih.

“Mau makan ya tinggal makan. Nasi tinggal ciduk dalam priuk. Ikan asinnya…”

“Habis, Mak, dimakan kucing!”

“Dimakan kucing? Yang benar?”Ipah terperanjat.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Cerber | 7 Komentar »

Dias & Winne (Bab Tiga)

Ditulis oleh Ayahnya Ranggasetya di/pada 23 Januari 2010

Akhir bulan November pertengahan musim hujan. Di saat cahaya purnama menebar di pucuk pepohonan, rumput di tengah alun-alun bergoyang dihembus angin gunung. Kerikil-kerikil kecil di jalan basah oleh gerimis yang turun sesaat sebelum sang surya tenggelam, kini berkilauan ditimpa cahaya bulan. Barisan lampu listrik 5 watt di setiap halaman rumah membantu sang bulan menerangi malam, kerlap-kerlip cahayanya di antara celah-celah daun.

Cahaya petromak di warung Leli terang benderang menyiram beberapa pemuda yang sedang menongkrong di sana.

“Saya tahu kau kesepian, Lel,”Naryo menggoda si manis.

Tohir, teman seusianya tertawa, sementara yang lain tersenyum-senyum.

“Ribut begini masak dibilang sepi?”sahut Leli.

“Maksudnya, kau akan kesepian kalau sudah tutup warung,”Naryo menjelaskan.

“Ada tipi, ada radio.”

“Tipi? Radio?”Naryo tergelak. “Benda-benda itu engga bisa… ngga bisa apa, Hir?”Naryo memandang Tohir.

“Ngga bisa angetin tubuh. Hwaa…hahaha…!”jawab Tohir tergelak.

“Jangan ngomongin yang itu-itu dong, ah. Engga bermutu!”celetuk Apip dari luar warung. Pemuda itu lalu pergi ke arah poskamling dengan wajah dongkol.

“Eh, Lel, yang kamu butuhkan itu adalah selimut, tapi selimutnya yang bisa senam,”tambah Tohir.

“Sudah dong! Pikiran kalian jangan ngeres mulu,”Leli menggerutu. Tapi meskipun kesal, masih tampak rona senyum di wajahnya.

Seorang ibu-ibu setengah baya datang memesan obat nyamuk, Leli melayaninya.

“Jangan mudah tergoda rayuan!”bisik pembeli itu.

“Kenapa kau tak kawin saja, Lel?”Naryo bertanya setelah pembeli itu pergi.

Leli menggeleng.

“Memangnya berapa usiamu sekarang?”

“Dua puluh tujuh.”

“Wadddoh, kamu engga takut dibilang perawan tua?”

“Orang kota banyak yang nikah di usia tiga puluhan.”

“Tapi, kau orang kampung…”

“Apa bedanya?”

“Teman-teman seusiamu sudah banyak yang beranak-pinak. Keliatannya mereka senang banget berumah tangga di usia muda. Kau tak iri?”ujar Naryo.

Leli cemberut. “Kasar banget ucapanmu, Kang Naryo! Perempuan kok beranak pinak?”

Naryo menoleh ke arah Tohir minta dukungan. Yang ditoleh membalas dengan pandangan menyalahkan.

“Kau sendiri umur tiga puluh dua masih bujang, Yo. Sebentar lagi kau akan jadi aki-aki,”seru Beno dari bangku luar.

“Hwaaa…hahahaha…”

“Kalau masalah kawin, saya selalu siap sedia…”jawab Naryo, yakin. “Cuma, mencari calon istri yang baik itu susah, yang cantik, solehah dan penurut. Ngga nakal, ngga matre, ngga… ngga apa lagi, Hir?”

“Engga kurapan.”

“Hwaaahahaha…”

“Itu dia, di Pasirbambu ini cuma ada satu wanita yang seperti itu. Tapi, kau lihat sendiri, ternyata nggamudah mengajaknya kawin.”

“Belum dicoba?”

“Dicoba apa?”

“Yang ada bau kemenyannya.”

“Hush!”

Leli bukan wanita bodoh. Ia mengerti ucapan miring para tamunya, tapi ia berusaha untuk tidak menanggapinya. Sembari menyibukan diri beres-beres, ia tersenyum seperti biasa.

“Memang, melamar wanita cantik jaman sekarang susah diterimanya,” Tohir berkata lagi. “Apalagi kalau tekstur wajahh kita mirip kebo… macam si Naryo.”

“Hwaaaahahaha…..”

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Cerber | 15 Komentar »

Dias & Winne (Bab Dua)

Ditulis oleh Ayahnya Ranggasetya di/pada 21 Januari 2010

(jika kamu pernah membaca postingan sebelumnya berjudul Tragisme Hidup Goni, kamu akan tahu bahwa aku menulis cerita ini banyak berdasar dari kisah nyata teman-temanku.)

Mengenang nasib ubay sungguh terasa sangat menyedihkan, tapi soal pengalaman, pengalaman getir maksudnya, dia jagoan. Boleh dibilang Ubay sudah banyak makan pahitnya racun kehidupan. Ia pernah ikut dagang asongan di Pulogadung, dalam sehari preman bisa memalaknya empat sampai lima kali. Jualan gado-gado di Monas, seminggu bangkrut, langsung dipecat bos. Alasannya karena tiap kali ia minta bayaran, pembeli bukan sodorkan duit, tapi tinju.

Masih di tengah panas terik Jakarta, ia mencoba kerja jadi kenet bangunan. Tapi sial, gara-gara ia menumpahkan adukan semen, sang mandor langsung keluarkan surat PHK. Lho? Baru kutahu kemudian kalau Ubay menumpahkan adukan semen itu ke kepala sang mandor.

Enyah dari Jakarta, Ubay ikut kawan lain merantau ke tanah Jambi di pulau Sumatra menjadi buruh penyadap karet. Entah kenapa, mentang-mentang kerjanya di bidang karet, perutnya menjadi seperti karet. Sekilo beras ia bertanak setiap harinya, untuk makan pagi sampai petang, dan itu habis sampai ke kerak-keraknya. Belum sampai jam delapan malam, perutnya kembali minta isi, maka ia bertanak lagi secanting dan dilahap habis. Mending kalau kerjanya kuat, menyadap satu bidang kebun saja (satu bidangnya rata-rata terdapat 400 batang karet) ia sendat-sendat. Otomatis, besar utang ketimbang pendapatan. Maka Ubay diusir kembali ke tanah Jawa. Mengharukan. Namun ironisnya, tubuh Ubay yang semula besar kekar menjadi agak kurusan. Lalu, kemana larinya energi dari berkilo-kilo nasi dalam perutnya?

Ubay bercerita, hawa panas Sumatra memang membuat selera makannya meningkat luar biasa. Hanya saja, buang hajatnya sehari kadang tujuh kali.

Empat bulan kemudian ia bekerja serabutan di desanya. Setiap hari pasaran, aku sering menemukan Ubay menjadi kuli tukang pikul di pasar. Upahnya memang tak seberapa, tapi itu jauh lebih baik ketimbang ia luntang-lantung tak karuan sebagai pengangguran.

Ubay juga sering mendapat job dari warga yang hendak menyelenggarakan hajat. Nyaris sehari penuh ia bekerja: memanjat kelapa, menguras kolam, mengangkut kayu bakar, mencincang daging, dan banyak lagi. Upahnya lagi-lagi tak seberapa, tapi Ubay senang karena di rumah yang empunya hajat ini, ia bebas makan sehari lima kali.

Begitulah, getirnya kehidupan yang dialami Ubay. Seakan nasib tak berpihak, pekerjaannya tak pernah jauh dari istilah memburuh. Dan lebih tragis lagi, tak hanya tanggungan perutnya musti ia penuhi, Ubay juga mesti menafkahi kedua orang tuanya yang sudah tua renta.

Ubay adalah anak satu-satunya yang hidup. Dua kakak lelakinya meninggal dunia ketika ia masih kelas 6 SD, sama-sama meninggal di perusahaan tempat mereka bekerja. Kakak yang sulung kesengat setrum listrik, kakak keduanya berusaha menolong, tapi malah ikutan disengat setrum, akhirnya mereka mati bersama-sama. Masuk surga.

Beratnya beban hidup yang dialami Ubay inilah yang kemudian menumbuhkan rasa belas kasihan di hati Dias. Ubay pada akhirnya direkrut untuk bekerja di rumah Dias mengolah kecap. Gajinya yang 800 ribu sebulan lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya sehari-hari.

Ubay diberi tempat khusus oleh Dias menghuni sebuah kamar bagian belakang. Ini menyebabkan Ubay jarang tidur di rumahnya sendiri. Ia tak khawatir dengan keadaan emak bapaknya, toh ketika ia jauh merantau ke Jakarta dan Sumatra, mereka aman-aman saja.

Setelah sang bos (Dias) pergi jualan kecap, aku beringsut menuju kamar belakang hendak menemui pemuda berambut gimbal itu. Ketika aku masuk, ia tengah bermenung di kursi dekat jendela, menghadap meja.

“Berpikir apa, Bay?” tanyaku sambil memungut segulung kertas karton dan spidol di kolong dipan.

Ubay menggeleng lesu. Ia memasang kepingan cermin nyaris bersentuhan dengan hidung jumbonya. Ia tersenyum beku, bayangan di cermin itu membalas tersenyum. Ia nyengir, bayangan di cermin itu…

Praaak! Gelap.

Ubay membanting sang cermin ke meja dengan posisi terbalik. Ia tersinggung melihat balasan cengirannya dari cermin itu. Jelek minta ampun.

“Aku pusing memikirkan hidupku,” kata Ubay akhirnya. Ia berdiri menghadap poster Britney Spears di dinding dan meneliti setiap jengkal tubuh di poster itu, kalau-kalau ia akan menemukan bekas kadas atau kurap di kulit artis itu. Hasilnya nihil.

Merasa bosan, Ubay duduk kembali dengan lesu.

“Dipikir engga dipikir hidupmu tak akan berubah, Bay. Hidup ini kalau cuma dipikirin tak akan bertemu kesudahannya,” sahutku sambil terus mencoret-coreti karton.

Ubay mengaduk-aduk rambut kepalanya pertanda pusing.

“Terima saja hidupmu apa adanya, Bay,” lanjutku.

“Kalau kau jadi Ubay, apa kau akan terima?” Ubay mendelik.

Aku menolehnya sesaat, lalu tertawa. “Mungkin aku akan bunuh diri,” jawabku.

Ubay malah tambah senewen mendengar jawabanku.

“Iya, Bay, mungkin aku akan bunuh diri,”aku mengulang dengan nada yakin. “Bunuh diri akan menyelesaikan semua beban hidupmu, kesengsaraanmu, kemelaratanmu, kebodohmu. Semua akan berakhir.”

“Berakhir di dunia, Ji,” potong Ubay, “Lalu di akherat aku masuk neraka. Mati konyol namanya!”

Waduh, si Ubay jadi pintar kini, pikirku.

“Hm… Bay, kalau kau takut sama yang namanya dosa, bukannya lebih kau mati sekarang saja, mumpung dosamu masih dikit. Tambah panjang usiamu, tambah banyak pula dosa-dosa yang kau lakukan, semakin berat lagi siksa yang akan kau terima nanti di akhirat. Iya, kan?”

Ubay termangu. Wajahnya bingung.

“Nah, kalau sudah begitu hidupmu tak akan pernah merasa senang. Ya di dunia, ya di akherat, kamu akan terus melarat. Hahaha…”

Buk!

Ubay melempariku dengan bantal.

“Memang,” aku melanjutkan bicara, “Umur panjang akan memberimu banyak kesempatan untuk tobat. Tapi… ah, aku tahu imanmu itu tipis banget, setipis kulit bawang. Betul kan, Bay?”

Ubay tak berkata lagi, mungkin kali ini ia bener-bener senewen. Aku tak peduli, asyik menggambar sesosok tubuh ringkih di atas karton.

Cukup lama berdiam tanpa suara. Aku hanya mendengar desahannya memilukan. Aku menoleh dan terkejut melihat pemuda itu menelungkupkan wajahnya di meja.

Aku sudahi segera lukisanku. Kusimpan kembali kertas dan spidol itu di bawah dipan. Lalu, dengan gagah aku menghampiri pemuda itu.

Begitu aku sampai di sampingnya… ya Tuhan, aku kaget tak alang-kepalang. Lelaki berkulit legam itu, yang kenyang akan pengalaman getir itu, sekarang tengah menangis tersedu-sedu.

“Ubay, kau menangis?” aku meraba pundaknya.

Ubay menyeka air mata. “Mungkin benar ucapanmu, Ji. Lebih baik aku mati daripada hidup menderita begini,” ratapnya.

“Hahaha… kau mudah banget dihasut, Bay. Aku tadi cuma becanda kok,”aku tertawa menghiburnya.

“Sudah, lupakan kata-kataku tadi. Sekarang kau dengar aku, Bay, kau mau hidupmu bahagia?”

Ubay mengangguk.

“Kau harus punya pacar.”

Tiba-tiba Ubay mendongak.

“Yak, aku akan membantu mencarikanmu pacar. Mau?”

Mata Ubay yang semula berkaca-kaca kini tampak berbinar bahagia.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Cerber | 27 Komentar »

Dias & Winne (Bab Satu)

Ditulis oleh Ayahnya Ranggasetya di/pada 17 Januari 2010

Rumah tembok bercat biru cerah itu berada di ujung gang Delima, memiliki halaman berupa pelataran kosong yang luas, diteduhi rindang pohon Mahoni.

Dulu waktu aku kecil, setiap sore aku mengajak teman-temanku menggelar berbagai macam permainan di sini, dari mulai angklek, petak umpet, loncat tali, kelereng, sampai adu buah kemiri.

Yang paling menyenangkan adalah ketika sudah capek bermain, biasanya aku langsung menggelosorkan tubuhku di teras. Kutempelkan pipi dan dadaku ke lantai tegel yang mengkilap. Hmmm… segerrrr!

Waktu berlalu tak menunggu, ternyata tak ada yang berubah di rumah itu. Yang berubah mungkin hanya penghuninya. Dahulu, Dias adalah seorang bocah ingusan, sekarang ia menjadi pemuda mata duitan.

Sejak ibunya wafat dua tahun lalu, dengan meninggalkan warisan rumah tersebut, sepetak sawah, tipi hitam putih 12 inchi, serta celengan duit duapuluh ribu rupiah, Dias kena tuntut mencari sendiri isi perut. Menyadari kalau bekerja di sawah bisa menguras tenaga, juga sadar akan titelnya sebagai pemuda (?), maka ia menjual sawah warisan itu kemudian membuka usaha kecap kecil-kecilan. Sejaitu, pemandangan di halaman rumahnya dihiasi oleh dua buah bak (drum plastik) berukuran besar yang setiap dibuka tutupnya, aroma permentasi kedelai akan menyengat hidungku.

Idenya bikin kecap memang boleh diacungi jempol, soalnya usaha kecap belum pernah ada di Pasirbambu. Banyak orang heran Dias ujug-ujug pintar mengolah bumbu sehingga kecap buatannya terasa lezat. Tak heran dalam beberapa minggu saja, sudah banyak orang datang berlangganan: tukang nasi goreng, tukang sate, tukang bakso, tukang mi ayam dan tukang-tukang lainnya.

Ia mengaku idenya ini tidak serta merta nongol di kepala, tidak juga karena dibelesakkan para lelembut penunggu pohon asem ketika ia sedang berteduh di bawah rimbunnya.

“Ide tidak datang sendiri, tapi dicari,” begitu katanya, mengutip ucapan para motivator dunia kepenulisan.

Sebulan sebelum sawah dijual, Dias hilir-mudik ke sana ke mari, mencari dan memilah info-info menarik tentang dunia wirausaha. Ia dengan kesabaran tinggi mencari tahu usaha apakah gerangan yang cocok dilakoninya, tentunya usaha yang bermodal tak lebih dari harga sawah yang akan dijualnya.

Percaya nggak percaya, Dias pernah berangkat ke kota hanya untuk mengejar inspirasi. Ia masuk swalayan, lalu mematung sendiri di ujung lorong, di antara rak-rak makanan. Dengan teliti ia memperhatikan barang apa yang paling sering dibeli pengunjung. Ia sengaja memilih jalur makanan karena usaha di sektor makananlah yang paling murah, dan tentunya paling disenangi warga di desanya.

Sejam kemudian, satpam datang dengan wajah garang. Tapi meskipun ia digelandang keluar ruangan layaknya pengutil, Dias senang juga karena ia sudah mengantongi jawaban atas pencariannya selama ini. Ia akan membangun usaha kecap. Ya, kecap manis.

Di kota, Dias juga melongok warung-warung kaki lima. Di warung itu, ia melihat betapa besar minat pengunjung akan kecap. Hal ini semakin memantapkan niatnya untuk segera membuka pabrik kecap.

Nah,
Ketika melewati lapak meja berisi buku-buku bekas di tepi jalan, Dias menemukan sebuah buku berjudul: Meracik Bumbu Dapur karya Hj. Naningtyas Kusumadewi. Di dalam buku itu ada bab khusus tentang resep bikin kecap manis. Dias membelinya.

Sesampainya di rumah, pemuda yang sudah tak beribu-bapak itu langsung menggelar bahan-bahan di meja dapur. Ia memulai tahap pertama pembuatan kecapnya, yaitu merendam kedelai dengan air garam. Esok harinya, ia baru mempraktekan setiap detil yang tertulis di buku resep, seperti seorang blogger meng-copy bulat-bulat postingan blogger lain untuk kemudian di-paste ke blognya sendiri.

Menarik untuk disimak, awalnya Dias menjalani usaha jalani hanya sebatas tuntutan perut tanpa impian harus jadi pengusaha kecap besar-besaran. Namun, kepahitan cinta yang ia lakoni antara dirinya dengan seorang gadis bernama Winne, menyeretnya ke dalam utopia.

Dias berharap, sangat-sangat berharap, usahanya berkembang pesat. Ia ingin menyangkal persepsi orang tua Winne selama ini terhadap dirinya. Ia dendam kepada Wira yang telah melecehkan usahanya, menghina-dinanya sebagai pemuda yang tak mandiri-lah, tak punya masa-depan-lah, tak punya penghasilan tetap-lah. Dias ingin membuktikan bahwa kelak ia akan menjadi orang paling sukses di desanya.

Tak tanggung-tanggung, Dias berencana membangun usaha ini lebih besar lagi dengan memproduksi kecap sehari 1000 botol. Ia akan merekrut banyak pengangguran di Pasirbambu untuk bekerja di pabrik khusus yang dibangun di sebelah mrumahnya, dan rumahnya akan dibangun semacam istana. Dan di dalam istana itulah, cinta Dias dan Winne bermuara.

Wah, ini mimpi yang hebat, kataku memberi semangat.

Setiap malam Dias sering berkhayal: “Jika aku sukses nanti, maka jalan menuju kebahagiaan pasti akan terbentang di hadapanku, lurus tanpa hambatan, tanpa rintangan. Di ujung jalan, aku disambut oleh calon mertua dan didudukkan di kursi pengantin bersanding dengan Winne. Dan, hei lihatlah, berpasang-pasang mata, terutama mata Pak mertua, menghijau-mijau melihat kekayaanku! Semua orang akan menghormatiku, semua orang memanggilku bos.”

Dias kerap berucap istighfar dan menyesali khayalannya itu: sejak kapan cinta bisa dibeli oleh materi? Sejak kapan martabat seseorang bisa diukur dari harta dunia? Cih!

Kembali ke soal wafatnya sang ibu tercinta, ini adalah tragedi terbesar bagi pemuda yang sejak kecil tak mengenal wajah Bapak itu, tapi sebaliknya malah dianggap mujur bagi para pemuda gang Delima, termasuk diriku.

Kepergian ibunya ke alam baka telah memberi angin kebebasan untuk menjadikan rumah Dias sebagai tempat ngumpul-ngumpul, main domino, berkelakar sampai terpingkal-pingkal tidak ada yang melarang. Meskipun sorot mata Dias menandakan rasa tidak setuju, tapi Dias tak pernah mengeluarkan kata-kata larangan main ini-itu. Sampai ada yang bilang, “Siapa-siapa yang mengaku sebagai pemuda gang Delima, tapi tak pernah menginjakkan kakinya di rumah Dias. maka ia akan dianggap bukanlah pemuda gang Delima.”

Pagi ini, seperti pagi-pagi biasanya, aku nongkrong di sana, duduk di kursi tengah sambil menikmati isapan ClassMild.

Dias tampak santai mengisi keranjang dengan botol-botol kecap yang akan diedarnya entah kemana.

Aku meraih secarik koran kucel dari atas meja, bermaksud membaca berita, namun tiba-tiba ucapan Dias membuyarkan konsentrasiku.

“Kalau dulu kutahu akan begini jadinya, mungkin aku tak akan pernah menanyai dia soa mawar itu.”
Dias selesai mengemasi botol-botol ke dalam keranjang. Ia bergerak mengambil sisir lalu merapikan rambutnya yang sebahu.

Kutaruh lagi koran di meja. Sepintas terkenang kembali masa lalu. Waktu itu, Dias dengan bangga datang padaku memperlihatkan bunga mawar hadiah dari Winne.

“Sejak kutahu jawabannya, bahwa bunga itu sebagai ungkapan cinta, aku merasakan bahwa semua ini mimpi,”Dias memasang sepatu.

“Empat tahun aku bermimpi tentang keindahan. Tak kusangka sekarang akan berubah menjadi mimpi buruk.”

“Dan ternyata semua ini bukan mimpi, kan? Coba jewer telingamu, pasti sakit,”aku menyela.

Dias tertawa kecut, lalu diam.

“Kau tipe cowok lemah,” lanjutku sambil melonjorkan kaki ke atas meja.

“Ah ya, mungkin lebih cocok disebut cowok pengecut.
Dias terkejut. Keningnya berkerut. “Kenapa?”

Kuisap rokok dalam-dalam. “Karena kau diam saja. Kamu tak berusaha mempertahankan cinta,” jawabku.

Dias mendesah lemah.

“Lelaki sejati tak perduli rintangan, bahaya, kendala atau apapun demi mempertahankan cinta. Dia punya tekad kuat, pantang menyerah. Bahkan mati pun tak jadi soal asal ia terus bertahan atas cintanya.”

Dias termenung beberapa saat.

“Entahlah, Ji, cowok macam apa aku ini, ya?” ujarnya sembari tertawa.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Cerber | 39 Komentar »

Dias & Winne (Awal Cerita)

Ditulis oleh Ayahnya Ranggasetya di/pada 14 Januari 2010

Kokok ayam berbunyi nyaring di belakang rumah, suaranya melengking sampai jauh.

Bocah tetangga merengek-rengek minta uang jajan pada ibunya yang lagi bokek, si ibu malah mengomel suaminya yang tak kunjung mendapat kerja.

Tante-tante berceloteh di bawah tiang jemuran tentang nasib tragis yang menimpa bos minyak tukang sawer di akhir film tipi malam tadi. Mereka ribut, mengekspresikan kepuasan akan akhir dari film tersebut.

Perempuan tukang gorengan berteriak menawarkan setiap dua potong bakwan seribuan. Suaranya parau, seakan menjerit: kenapa akhir-akhir ini iklan di tipi gencar menayangkan bahaya kolesterol tinggi.

Tukang ojek dan angkutan desa saling balas meraungkan gas. Bergerung, membungkam nyanyian burung.

Di tengah suasana bising itu, seorang Panji masih bermimpi dalam tidurnya yang lasak dan gelisah.

Tok, tok, tok!
Suara pintu kamar diketuk.

Dengan berat pemuda itu membuka mata. Sebentar kemudian mata itu dipejam pula.

“PANJI!”

Panji beringsut turun dan membuka pintu. Ia melihat wajah ibunya yang kesal di muka pintu.

“Akhir-akhir ini kamu suka bangun kesiangan. Sudah shalat Shubuh, belum?”

“Sudah, Bu. Selesai shalat aku malah tidur lagi.”

Sang ibu menghela napas.“Sekarang, kamu harus cuci muka lagi. Di depan ada Bu Isyah menunggumu.”

“Bu Isyah?” Panji kaget.

“Iya, katanya ia mau pesan lukisan.”

Secepat kilat Panji menyambar handuk, lalu ngacir ke kamar mandi. Di kamar mandi ia terus memikirkan lukisan apa gerangan yang akan di pesan oleh Bu Isyah? Dan apakah ada hubungannya dengan Winne, putrinya yang primadona desa itu.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Cerber | 63 Komentar »

Dias & Winne (prakata & sinopsis)

Ditulis oleh Ayahnya Ranggasetya di/pada 13 Januari 2010

Aku ingin menulis cerita bersambung (novel) di blog ini.

  • Novelnya dengan segala kerendahan hati aku juduli Dias dan Winne. Bukan hendak meniru judul novel Romi dan Juli, atau Qais dan Laila, melainkan karena aku belum menemukan judul yang pas untuk novel ini.
  • novelnya kutulis tahun 2003. Waktu itu umurku 21, masih perjaka, dan kebetulan sedang mengalami jatuh cinta (cieee…). Sekarang aku hendak mempublikasikannya di blog ini, dengan harapan mendapat apresiasi darimu.
  • Novelnya kuketik menggunakan hp, jadi kamu bisa membayangkan betapa menderitanya jempolku. Dan sekarang keypad hp-ku sudah mulai menunjukkan tanda-tanda/gejala akan segera dol.
  • Novelnya kutulis di tempat yang jauh di belantara hutan karet Jambi, sebagai pelampiasan atas beban rinduku akan suasana kampung halaman, jadi jangan heran kalau novel ini sarat dengan nuansa perkampungannya.
  • Novelnya kutulis sedikit banyak terinspirasi oleh lagunya Padi berjudul Semua Tak Sama, jadi kalau saja/misalnya/andai kata kamu berminat untuk memfilmkannya, aku menyarankan agar lagu itu dijadikan sebagai soundtrack.
  • Novelnya pernah diajukan ke penerbit, namun naskah dikembalikan dengan alasan belum masuk kriteria penerbitan. Mudahan-mudahan kalimat belum masuk kriteria penerbitan hanya alasan ketidak-sanggupan redaktur membaca kiriman novel yang naskahnya berupa tulisan tangan.

Demikianlah tentang novel ini. Sekarang, ayo dong baca sinopsisnya dulu. :-)
Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Cerber | 32 Komentar »