Bergelut di Antara Sugu dan Pena

Arsip Bulanan: Maret 2009

gubuk

Ubay adalah seorang pemuda berambut gimbal, mengaduk adonan kecap kental berwarna pekat yang menggelegak di dalam dandang, gerakannya lambat serupa adegan slowmotion di film laga India. Sesekali ia jongkok menyusun kayu bakar, hawa panas yang meruap dari tungku membuat wajahnya berlepotan peluh dan jelaga.
Akhir-akhir ini hati Ubay selalu dirundung pilu, pikiran tentang nasibnya yang tak kunjung membaik menumbuhkan kelesuan yang amat sangat pada dirinya. Ia tak bisa lagi konsentrasi bekerja. Hayalan demi hayalan datang silih berganti; andai aku kaya, punya segalanya, mungkin aku tak akan lagi capek bekerja; andai aku keturunan ningrat, orang-orang pasti pada hormat; andai aku setampan Afgan, alangkah mudah rasanya menggaet perempuan; dan seribu andai lainnya merongrongi pikiran. Ah, Ubay menyesali takdir, kenapa ia terlahir dari keluarga miskin.
Ubay beranjak dari depan tungku, perlahan menghampiri meja, membuka tudung makanan dan mencomot bakwan. Dilahapnya gorengan itu tanpa ekspresi. Ia melangkah lesu ke arah pintu. Sambil mencolek sisa bakwan yang terselip di giginya, ia menyandarkan punggungnya di kusen.
Uh, Ubay merasa jenuh hidup memburuh, muak setiap hari selalu disuruh-suruh, bosan menjalani hari-harinya dengan rutinitas kerja. Ingin sekali ia merasakan nikmatnya menjadi bos, duduk santai di kursi empuk, memakan makanan yang enak-enak, sementara wanita-wanita cantik mengipasinya di kanan kiri. Wanita? Ah, ya, Ubay mengidamkan sosok wanita cantik hadir di sisinya. Yeah, Ubay cowok normal, punya hasrat mencintai dan ingin dicintai. Tapi, Ubay sadar betul tekstur wajahnya jauh dari harapan; matanya belok, telinganya lebar, hidungnya besar, bibirnya tebal. Kulit tangan dan betisnya pun bertabur hiasan bintik-bintik hitam bekas bisul. Semua kejelekan itulah yang menjadi masalah kenapa sampai segede ini Ubay belum pernah berani menyatakan cinta pada wanita, dan ia pesimis akan menemukan jodoh sebelum usia tua menggerogotinya.
“Siapa cewek yang mau menjadi pacarku?” keluhnya.
Ubay melayangkan pandangan pada tumpukan batu di samping rumah. Matanya tiba-tiba menangkap sebuah gerakan…, kadal! Ya, kadal itu tengah menatapnya iba, seakan-akan kadal ingin menunjukan empatinya yang besar pada nasib Ubay. Dengan sigap Ubay meraih bedil angin yang tergantung di dinding, diarahkan moncong bedil itu lurus-lurus ke depan. Ia membidik. Pletakkk! Peluru menampar batu. Ubay melihat sang kadal meloncat, lari terbirit-birit dan menghilang di kerimbunan semak belukar. Ubay mengerang dalam hati. Ia buru-buru masuk kembali ke dapur untuk memeriksa adonan kecapnya yang menggelegak dalam dandang. Merasa yakin kecapnya sudah masak, Ubay meraih lap, mengangkat dandang panas itu dari atas tungku, lalu menuangkan isinya ke dalam ember besar. Asap yang menyemburat dari dandang menyapu wajahnya yang beku. Ubay meringis, memejam. Ia merasakan bola matanya seakan diperas. Dan…, byurrr! Sebagian cairan kental panas itu menyembur ke lantai.
“Kamu ini kenapa, Bay?” Dias yang baru muncul berselampir handuk di bahu langsung tertegun. Matanya nanar memandangi tumpahan kecap di lantai.
Ubay menggaruk-garuk kepala.
“Kerja nggak boleh dipaksakan, Bay. Kalau kamu capek, istirahat saja dulu.”
Ubay mengangguk lesu. ”Iya deh, Bos.”
”Jangan panggil aku bos!”
 
***


Tulisan ini dilindungi kata sandi. Untuk melihatnya mohon masukkan sandi Anda di bawah ini:

Masukkan kata sandi Anda untuk melihat komentar.

Tulisan ini dilindungi kata sandi. Untuk melihatnya mohon masukkan sandi Anda di bawah ini:

Masukkan kata sandi Anda untuk melihat komentar.

Tulisan ini dilindungi kata sandi. Untuk melihatnya mohon masukkan sandi Anda di bawah ini:

Masukkan kata sandi Anda untuk melihat komentar.

Pernahkah kau merasakan beban rindu yang mendentum kalbu, rindu yang membuat dadamu sesak, hati teriris, benak tertusuk, sehingga setiap detik waktu berlalu terasa begitu lambat dan hampa? Pernahkah kau merasa, saat tidur dan terjaga kepingan kenangan indah masa lalu terus berkelebat merobek ketegaran batinmu? Pikiran mengambang, jiwa melayang-layang, ulu hatimu enek seperti ada sebongkah batu mengganjal di sana? Yap, itulah pahitnya kerinduan yang sedang mendera Winne. Ia merindukan Dias. Winne rindu pada setiap inci lelaki itu, wajah, senyum dan tawa pemuda itu, ucapan dan tatapan cowok itu. Namun, bak kisah cinta Siti Nurbaya, orang tua tak merestui hubungan percintaan mereka.
Pagi ini, tanpa sepengetahuan orang tuanya ia menyelinap ke luar halaman, tergesa-gesa melangkah di sepanjang gang Delima. Sekali ini, ia tak bisa menghalau keinginan itu, ia akan menjumpai Dias yang rumahnya berada di ujung gang tersebut.
Suasana masih senyap ketika ia memasuki rumah Dias. Ruang tengah berantakan oleh majalah-majalah edisi silam. Winne tahu, semua keberantakan ini adalah ulah para pemuda Batuhieum yang entah kenapa memilih rumah Dias sebagai basecamp kegiatan urak-urakan mereka[i]. Winne memungut majalah-majalah usang itu, menyusunnya di atas meja. Ia bergerak mengambil sapu, lalu membersihkan lantai.
“Winne?!” Panggilan itu mengejutkannya. Winne berbalik, ia terperangah melihat sang kekasih sudah berdiri di belakangnya.
“Tumben ke mari?” Dias tersenyum, agak muram.
“Iya,” jawab Winne sambil menggeser kursi lalu mendudukinya.
“Nanti keluargamu tahu….”
”Tak ada orang melihat.”
Dias masih tampak bimbang, matanya memandang cemas ke halaman, lalu dengan lesu pemuda berambut ikal sebahu itu jongkok di depan ember besar berisi kecap hasil olahannya. “Sudah lama menunggu?” tanyanya sambil memulai pekerjaannya menuang kecap dari ember besar ke dalam botol-botol ukuran 250 ml.
“Enggak lama,” Winne mendesah.
Mereka berdiam cukup lama. Dada yang sesak membuat keduanya sulit berbicara. Kedua insan itu saling pandang.
“Aku masih merindukanmu,” bisik Dias tanpa menghentikan pekerjaannya. “Kemarin aku mencoba menghubungimu, tapi nomormu sudah tak aktif lagi. Kenapa?”
“Bapak melarangku pegang hp lagi sampai aku benar-benar bisa melupakanmu,” jawab Winne sendu.
Dias menghela napas, sedih.
“Tapi ternyata aku tak pernah bisa melupakanmu, Ias,” bisik Winne sembari tersenyum.
“O, yah?” Dias membalas tersenyum.
“Kamu senang aku terus seperti ini, Ias?”
“Seperti apa, maksudmu?”
“Yah…, seperti ini…, kusut. Setiap hari aku tersiksa karena rindu, apa kamu senang?” Winne menundukan wajah, matanya mulai berkaca-kaca.
Suasana terasa semakin pengap, mau tak mau Dias menghentikan pekerjaannya. Pemuda itu diam termangu, lalu mengangkat wajahnya memandang Winne. Cukup lama ia pandangi wajah yang tertunduk itu. Ia tak bicara sepatah pun, namun tatapan matanya yang lembut seakan ingin melipur kerinduan Winne.
“Ias,” lirih Winne setelah menyeka air mata, “Seandainya aku menikah dengan pria pilihan Bapak, apa yang akan kamu lakukan?”
Dias tersentak, pertanyaan Winne itu seperti tusukan jarum di hatinya.
“Jawab, Ias!” Winne menatap bimbang.
“Aku akan mendoakanmu, Win, semoga hidupmu bahagia. Itu saja,” jawab Dias.
Winne tersenyum hambar. “Aku sudah menyangka kamu akan menjawabnya begitu. Klise banget, nggak romantis!”
“Hm, memangnya kamu ingin aku berbuat apa?”
Winne memalingkan wajah, tatapannya menerawang ke luar jendela. Sinar matahari pagi mulai menjilati rumput di halaman. Pohon angsana berdiri kaku, belasan burung gereja berloncatan dari dahan ke dahan. Pohon kelapa pucuknya melambai diterpa angin, tampak seekor tupai sedang berusaha keras melubangi kulit buah degan.
“Ah, iya, kalau kamu menikah dengan cowok lain, aku akan konsentrasikan pikiranku pada usaha kecap ini,” ujar Dias sambil melanjutkan kembali pekerjaannya. “Aku akan membuktikan bahwa aku pun bisa sukses dan bisa merubah statusku dari orang melarat menjadi orang terhormat, biar nanti bapakmu….”
“Cita-cita yang hebat, Ias,” Winne cepat memotong.
Dias tertawa. “Kamu senang kan kalau aku sukses?” candanya.
“Ya, aku senang,” Winne menjawab datar, senyumnya tampak semakin tawar.
Seorang pemuda berambut gimbal tiba-tiba muncul dari arah dapur menenteng sendok berisi tetes adonan kecap yang masih mengepulkan asap, karyawan Dias satu-satunya itu terkesiap kaget melihat keberadaan Winne, wajah hitamnya merona malu menyadari kondisi tubuhnya yang bertelanjang dada. Dengan grogi ia menyodorkan sendok ke arah Dias. “Ini, rasanya sudah pas, belum?” tanyanya.
Dias menuangkan tetes adonan itu ke tangan, lalu mencicipinya. “Udah pas kok, tinggal aduk beberapa menit lagi.”
“Oke, bos!” si gimbal buru-buru kembali ke dapur.
Dias dan Winne kembali berdiam diri. Di luar, suara embik kambing mulai ramai. Satu-satu hewan itu memasuki halaman, menyantap rumput yang masih segar berteteskan embun.
“Ias,” Winne memecah kebisuan, “Apakah harta bagimu lebih penting ketimbang memiliki aku?”
Dias tersengat mendengar pertanyaan itu.

***

Rumah Wira memang megah, halamannya yang luas dikelilingi pagar tembok setinggi dua meteran. Mantan kepala desa ini akan marah besar kalau kemegahan rumahnya dihubung-hubungkan dengan status lamanya sebagai bekas orang nomor satu di Batuhieum. Malam ini, seorang pemuda berhasil meloncati pagar tembok itu. Ia menyusup ke bagian samping rumah yang cukup gelap. Langkahnya mendap-mendap mencurigakan. Kalau bukan mau mencuri atau merampok, lalu mau apa?
Lelaki berpostur tinggi itu sembunyi sejenak di bawah pohon belimbing yang gelap. Setelah yakin tak seorang pun melihat keberadaannya, ia melangkah lagi dengan hati-hati, melewati deretan bunga, menuju jendela sebuah kamar. Inilah kamar Winne, putri Wira yang cantik. Ah, kalau saja Wira mengetahui kehadiran cowok itu, ia pasti langsung ambil senapan, sebab ada kemungkinan nanti putrinya akan dibawa minggat dari desa.
“Aku bukan jagoan di layar kaca. Aku orang biasa, hidup menjalani realita. Kalau nasibku harus sial, ya sial. Tak ada skenario yang mengharuskan jalinan cintaku akan berakhir bahagia, kecuali skenario Tuhan yang sama-sekali tak kutahu,” pemuda itu membatin. Wajahnya beku, cermin dari suasana hati yang tak bahagia. Semua orang di Batuhieum tahu pemuda itu adalah pacar Winne, sejak dulu, empat tahun yang lalu. Akan tetapi, jalinan cinta yang dirajut serius kini tergerus oleh idealisme Wira yang tak menghendaki putrinya berpendamping seorang pria sembarangan. Dias, nama pemuda itu, yang usahanya membuat kecap, di mata Wira tak pantas menjadi pendamping Winne.
“Makanya, kamu jangan curiga aku akan nekat menculik Winne,” lanjut suara batinnya. Aku tahu, ucapan “kamu” itu ditujukan untukku. Mungkin ia teringat ucapanku dulu, yang menyarankannya mengajak Winne minggat.

“Bagaimana kamu bisa hidup senang kalau kamu takut berjuang atas cita-citamu?” begitu aku pernah menasehati.
Dias hanya senyum-senyum menanggapi ucapanku itu.
“Ias,” aku melanjutkan, “Winne sekarang bertunangan dengan Adjie, guru SMP dari kota. Dia tampan, lebih tampan daripada kamu. Ia punya apa saja yang dikehendaki Abah Wira; harta, status, jabatan, nama baik. Apa kamu sanggup menghadapi kenyataan itu, hah? Kamu sanggup melihat Winne duduk bersanding di pelaminan bersama cowok itu? Kamu sanggup membayangkan malam pertama mereka? Kamu sanggup?”
Pertanyaan yang kulontarkan bertubi-tubi itu dijawab dengan helaan napas panjang. “Mungkin dia bukan jodohku,” keluhnya, pahit, getir, tak berdaya. Bahkan Dias sendiri tak menyangka, setelah mengucapkan kalimat itu ia merasa satu tonjokkan keras menghantam telak ulu hatinya.

Sampai detik ini, detik ketika ia termangu di balik jendela kamar Winne, ia masih merasakan dadanya sesak akibat tonjokkan itu.

“Kamu cowok lemah! Pengecut”
Dias berpaling, memejam mata.
“Lalu, buat apa malam-malam kamu suka menyelinap di jendela kamarnya?”
“Rindu. Aku ingin bertemu dengannya.”
“Setelah pertemuan itu apa yang kamu dapatkan?”
“Kebahagiaan.”
“Sampai kapan bahagia?”
Dias termangu.
“Ias, kamu jangan mendustai perasaanmu sendiri. Aku tahu, selama ini pikiranmu terpengaruh oleh syair lagu dari band-band pop enggak bermutu. Apa maksudnya ‘kudoakan semoga kau bahagia…,’? Apa maksudnya ‘cinta tak harus saling memiliki….’? Cih! Itu interpretasi dari keputus-asaan, tahu?! Lagu itu mengajakmu untuk pasrah, menyerah. Dan itu munafik namanya!”
Dias semakin pusing.
“Kamu tahu, Ias, tak ada rela yang terpaksa. Keikhlasan itu tanpa beban. Jadi, lakukanlah sesuatu demi kebahagiaanmu. Bawalah Winne pergi dari desa ini. Nikahi dia seutuhnya. Seumur hidup kamu pasti akan bahagia. Itulah sejatinya kebahagiaan?”

Dias masih mematung di tengah keremangan. Angin pegunungan menyisir wajah bekunya. Dingin menusuk-nusuk, merasuk sampai ke tulang. Dengan hati-hati ia menempelkan telinganya di kaca jendela. Lamat-lamat terdengar suara orang mengobrol di dalam kamar. Dias memasang pendengarannya lebih kuat, tapi percuma, ia tak mendengar jelas obrolan mereka. Ia hanya bisa memastikan bahwa Winne ada di dalam kamar ditemani ibunya.

*

“Kamu terlihat lima tahun lebih tua dari usiamu sebenarnya,” kata Isyah, istri Wira, demi melihat wajah putrinya (Winne) yang kusut masam. Perempuan baya itu duduk di tepi ranjang.
Winne bergeming. Ia berdiri menghadap dinding, memandangi lukisan pantai. Langitnya yang biru dibubuhi kaligrafi Arab nama lengkap Winne Larasati serta tanggal kelahirannya.
“Dua minggu lagi hari pernikahanmu, Win, mestinya dari sekarang kamu mulai merawat diri. Jangan perlihatkan cemberutmu itu pada calon suami, apalagi nanti akan banyak orang melihatmu. Sering-seringlah tersenyum. Aneh kalau ada pengantin wajahnya murung begitu!”
Winne berbalik, melangkah lesu mendekati ibunya, lalu menjatuhkan pantatnya ke kursi. Sekilas ia melihat bayangan wajahnya sendiri di cermin. Memang, tampak lebih tua. “Bagaimana supaya aku bisa murah senyum, Bu?” desahnya.
Isyah mengambil guci keramik mungil lalu mengelapnya dengan sapu tangan. “Coba sesekali nonton acara lawak di televisi.”
Winne menarik sudut bibirnya ke tepi. Begitu singkat. Isyah tak menyangka bahwa itu adalah senyuman.
“Jangan menyeringai, dong!” Isyah menghela napas.
“Aku ingin selalu tersenyum di depan Ibu, tapi hatiku enggak bahagia, Bu,” ujar Winne sembari tertunduk.
“Kebahagiaanmu itu apa?” tanya Isyah.
Winne bungkam.
“Kamu sudah cukup umur untuk menikah, Win. Ibu ini nikah dengan bapakmu di usia 16 tahun. Ibu senang. Ibu bahagia.”
“Seandainya Ibu tak cinta sama Bapak?”
“Apa kamu tak cinta sama Adjie?”
Winne menggeleng sedih.
“Tampan, sopan, kaya, guru muda, dari kota. Benar kamu tak cinta?”
Jawaban Winne masih gelengan kepala.
“Seandainya Adjie jadi bupati? Gubernur? Pejabat tinggi? Menteri? Presiden?”
“Aku akan tetap mencintai Dias, Bu,” tukas Winne, mantap.
Isyah terhenyak. Guci yang dipegangnya nyaris terlepas. “Dias? Tukang kecap?”
Winne menunduk. Dadanya perih, hatinya tersayat. Mengapa kalimat ‘Dias tukang kecap’ selalu diucapkan dengan nada serendah itu?
“Kamu melupakan statusmu, anakku. Bapakmu mantan kepala desa, dihormati, disegani. Jika kamu punya suami orang mapan, itu akan menjaga martabat keluarga. Bukan seperti Dias.”
“Bu, kalau kutahu jadi anak keluarga terhormat enggak bebas menentukan pilihan dalam hidupnya, pasti aku memilih dilahirkan dari keluarga biasa.”
“WINNE!” Isyah terpekik. “Jangan bicara sembarangan. Bisa kualat!”
Winne menelan ludah.
“Kamu harus melihat masa depan, Nak. Mau kamu hidup susah? Mau kamu hidup miskin?”
“Ibu mau bilang Dias cowok miskin?”
Isyah mendengus. Sejurus terdiam. “Nanti kamu akan seperti Ibu, punya anak, punya cucu. Anakmu akan disekolahkan. Kalau dia pintar, pasti sekolahnya akan tinggi, seperti Adjie yang S2.”
“Ibu mau bilang Dias cuma lulusan SMP?”
“WINNE!” Isyah jengkel. Ia ingin membanting guci saking jengkelnya.
Winne mengerjapkan mata tak perduli.
“Win,” Isyah mencoba berkata lembut, matanya berkaca-kaca. “Bapak ibumu cuma ingin melihat kamu dan keluargamu nanti bahagia, dengan cara yang membahagiakan kami juga.”
“Mungkin aku, Ibu, Bapak akan sama-sama bahagia seandainya poliandri diperbolehkan.”
“Poliandri?” Isyah terkesima. “Apa itu?”
“Aku akan menikah dengan Adjie untuk kebahagiaan Ibu, kemudian aku akan menikah lagi dengan Dias untuk kebahagiaanku.”
Praaang…!
Barangkali Winne hanya sekedar bergurau. Tapi akibat gurauannya, guci kesayangan Isyah terhempas jatuh dan pecah.

*

Dias terkejut mendengar bunyi pecahan tadi. Disandarkan punggungnya lebih rapat ke dinding di samping jendela. Telinga kembali dipasang. Yang terdengar kemudian adalah suara pintu ditutup kuat-kuat. Ia menarik napas lega. Setelah menunggu beberapa detik untuk memastikan tidak ada lagi suara obrolan, Dias mengetuk pelan kaca jendela. Kain gorden terkuak pada ketukan yang kelima. Cahaya neon di kamar Winne langsung muncrat ke wajahnya. Cowok itu mengerjapkan mata karena silau.
“Dias?” sapa Winne setelah kaca jendela dibuka. Ada binar di matanya.
“Iya, Win, maaf…,” Dias gugup. Matanya menatap ke pintu.
Winne tersenyum. Mungkin hanya kepada Dias cewek itu bisa tersenyum. Manis, lagi.
Beberapa detik saling tatap dalam bisu. Winne menunggu Dias meneruskan ucapannya tadi. Tapi Dias tampak gugup.
“Maaf atas apa, Ias?” desak Winne.
Dias mengangkat tangan, bukan untuk meraih tangan Winne seperti yang disangka Winne sebelumnya, tapi malah membuka satu persatu jemari. Mulutnya menghitung. “Sudah hampir dua puluh hari kita tak bertemu,” desah Dias.
Winne termangu. Ya, dua puluh hari, selama itulah ia tersiksa memendam rindu. Terhitung sejak ia resmi tunangan, lebih tepatnya ditunangkan, dengan Adjie.
“Kamu rindu padaku?” bisik Dias lagi.
Winne mengangguk pelan. Ia berusaha menahan cairan bening agar tak menetes dari matanya.
“Aku sudah bertunangan, Ias. Kamu mau lihat cincinnya?” lirih Winne tiba-tiba.
Sret! Dias merasakan sembilu tajam menyayat hati.
“Mau lihat cincinnya?” Winne mengulang tanya. Tatapannya menyelidik.
Dias menggeleng. “Kenapa tak kamu pasang?” lirihnya kemudian.
“Kamu akan terluka kalau aku memasangnya,” jawab Winne.
Dias tersenyum bahagia.
“Seminggu lagi aku menikah, Ias,” sambung Winne.
Sret! Ini untuk kedua kali. Hati Dias semakin perih, tapi dicobanya mengulum senyum.
Melihat senyum Dias, wajah Winne berubah kecut. “Kamu tak cemburu?”
“Kalau cemburuku bisa membuatmu senang, aku jawab: ya, aku cemburu.”
“Tapi kamu tak berbuat apa-apa untuk melawan perasaan cemburumu!”
Dias tertegun. Apa maksudnya?
“Maksudku, kamu terlalu banyak mengalah pada kenyataan. Aku tak suka cowok model begini. Aku benci lelaki macam kau!”
Sret!
“Jadi kamu ingin aku membunuh calon suamimu?”
“Itu bodoh. Itu hanya akan membuatmu mendekam dua puluh tahun di penjara. Kalau Adjie mati dan kau dipenjara, lalu aku buat siapa?”
“Banyak cowok lain yang sanggup melamarmu, Win, sanggup di bidang materi untuk memenuhi keinginan orang tuamu.”
“Dan kamu akan membunuhnya lagi?”
“Tak mungkin, sebab aku dipenjara. Aku tak akan tahu. Aku tak akan peduli kamu milik siapa. Aku tak akan lagi pikirkan kamu. Aku capek!”
“Dias….”
“Kamu sendiri selalu mengalah pada kemauan orang tuamu, Win. Seharusnya kamu tolak lamaran pria itu. Seharusnya kamu katakan kalau kamu tak akan bisa hidup tanpa aku. Nyatanya kamu diam saja. Kamu turuti apa mau mereka. Kamu sudah mengorbankan cinta kita. Aku tak suka perempuan seperti ini!”
GELEGARRR…! Winne bagai disambar halilintar. Ia menelungkupkan wajahnya, terisak. “Aku menangis, Ias, tapi mereka tak peduli dengan tangisanku,” sedu Winne di tengah tangisannya.
Demi mendengar kata-kata itu, mencairlah kebekuan di wajah Dias. Tiba-tiba ia menyesal, sangat menyesal telah mengucapkan kalimat kasar tadi.
“Lihat bulan itu!” bisik Dias setelah Winne menghentikan isak tangisnya.
Winne mendongak. Di sela-sela ranting pohon, bulan mengintip malu-malu.
“Aku akan terus memandang bulan itu, nanti, di rumahku. Aku akan meminta supaya ia mau turun ke bumi untuk menemaniku saat sendiri. Kalau dia tak juga turun ke bumi, akan kupasang sayap buatan di tanganku agar aku bisa terbang memeluknya. Dan jika sayapku patah sebelum sempat aku memeluknya, berarti aku hanya bisa memandangnya saja.”
Winne terkesiap saat ia melihat senyum pahit terkulum di bibir cowok itu. Winne tak sempat berkata apa-apa lagi karena Dias sudah berbalik melangkah pergi, meninggalkannya. Tolehan terakhir dari Dias kembali menyeret air mata Winne dari sudut mata ke sudut bibirnya.
“Maafkan aku, Dias,” bisiknya pedih.

***


Tulisan ini dilindungi kata sandi. Untuk melihatnya mohon masukkan sandi Anda di bawah ini:

Masukkan kata sandi Anda untuk melihat komentar.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 757 pengikut lainnya.