
Tomi suka main gitar. Ia hapal lagu-lagu yang sedang nge-trend sekarang. Instingnya kuat, sekali mendengar lagu, ia langsung tahu kuncinya. Kalau ia melihat sekumpulan pemuda sedang nongkrong di tepi sungai, Tomi lantas ambil gitar. Ia duduk di tengah-tengah mereka dan bernyanyi sebagus yang ia bisa. Ia berharap, para pemuda itu akan ikut bernyanyi, atau minimal mendengar nyanyiannya. Tapi, oh sayang disayang, para pemuda ogah menggubris nyanyiannya. Dan Katomi, nama panjang orang ini, terpaksa harus bernyanyi sendiri.
Jadi, apa yang salah dari cara Tomi bernyanyi? Atau mungkin pertanyaannya: apa yang salah dari caranya bermain gitar.
Ah, seandainya aku ini seorang Adie MS, pasti akan mudah aku menerangkannya padamu. Tapi aku cuma buruh sadap.
Baiklah, begini saja, mari kita dengar pendapat beberapa pemuda di dusunku tentang Tomi.
“Dia egois,” kata Nurwan. “Dia ingin nyanyiannya didengar orang lain, tapi tak mau mendengar nyanyian orang lain.”
Suatu ketika Nurwan sedang main gitar, datanglah Tomi dengan wajah ceria, lalu duduk di sebelah Nurwan. Belum juga semenit duduk, Tomi sudah berdiri lagi, duduk lagi, terus jongkok, berdiri pula…, sungguh tak nyaman dia. Nurwan tahu tangan si Tomi sudah sangat ‘gatal’ ingin merebut gitar itu darinya, tapi Nurwan cuek saja. Ia malah sengaja bernyanyi sambil jingkrak-jingkrak. Akhirnya Tomi angkat kaki dari tempat itu. Wajahnya dongkol bukan kepalang.
“Dia kurang peduli harmonisasi,” cetus Ilin.
Apa itu harmonisasi? Yah…, seperti itulah…, apa ya? Waddddohhh! Bingung aku harus nulis apa.
Keselarasan nada, barangkali. Yap, si Tomi ini bernyanyi fals-nya minta ampun. Suaranya memang baguslah kalau dibandingin sama Nurwan, tapi antara nyanyian dengan suara gitar tak searah. Suaranya lari ke Jawa, gitarnya kabur ke Papua. Nggak nyambung.
“Dia bernyanyi tak melihat situasi dan kondisi,” komentar Yajid.
Pernahkah saudara mendengar ada orang bernyanyi sambil batuk-batuk, buang ingus (flu), atau terus-terusan menguap karena kekantukan? Pernahkah melihat orang memaksakan diri bermain gitar, padahal senar gitarnya sudah putus sampai setiga-tiga? Si Tomi sanggup melakukannya, asalkan ada orang yang mau mendengar nyanyiannya.
“Chemistry-nya nggak dapat, ”ujar Bambang. “Dia bernyanyi tanpa menghayati lagu.”
Bagaimana Tomi bisa menghayati lagu, sementara niatnya bernyanyi hanya karena ingin menunjukan kebolehannya bermain gitar. Dia hanya ingin dipuji.
Hmmm, pantaslah kalau orang semacam Addie MS tak bosan-bosannya mengingatkan peserta IMB agar selalu memprioritaskan ‘penghayatan’ di setiap penampilan. Dan penghayatan ini, tak mesti hanya dalam soal bernyanyi.
Nah, buat kamu yang pengen ikutan audisi IMB 3 (kalau pun ada), tolong jangan meniru sifat si Tomi ini. BERBAHAYA!!!


Sugeng
Waduh !!
Gara2 modemku ngadat aku gak tau kalau ayahe ranggasetya sudah aktif nulis lagi di blog. Maklum saja aku gak pernah merasa nyaman BW dengan hp.
Btw, tentang si katami aku gak bisa ngasih saran karena gak pernah dengar dia nyanyb
Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan
Ayahnya Ranggasetya
Sekarang modemnya udah sehat, kan?
Salam pula dari Jambi.
bintangtimur
Tulisan yang sarat makna.
Melakukan apapun tergantung pada niatnya, dan niat itu, cepat atau lambat, pasti dapat dibaca orang lain…
Semua yang dilakukan hanya untuk pujian, tentu akan terasa tanpa jiwa dan hanya sekedar pamer jumawa.
Ah, mudah-mudahan kita dijauhkan dari sifat seperti itu ya!
Ayahnya Ranggasetya
Sip lah, Bu. Semuanya memang tergantung niat.
Kakaakin
Hehe… Si Tami yang egois… Kasihan banget telinga orang lain yang mendengarnya, bisa2 cedera
Nuraeni
kasihan pasti hati tami
sakit dech….
jadi seperti tami harus banyak” bersabar..!!