Pagi tadi, usai subuh, aku sudah hampir sampai ke kebun tempat kerja ketika tiba-tiba diriku teringat sesuatu. Kuambil handphone yang terselip di dalam tas dan melihat tanggal. Benar, ternyata sekarang sudah tanggal 4 Agustus.

Sejurus aku termenung, tapi tak lama aku memutar sepeda motorku kembali ke dusun. Rumahku tak seberapa jauh jaraknya, mungkin sekitar satu kiloan.

Sampai di rumah, aku melihat Setya masih tertidur. Baik aku maupun istriku memang belum tega membangunkan dia di pagi hari, padahal seharusnya dibiasakan, ya.

Kupandangi wajahnya beberapa jenak. ”Maafkan, Ayahmu, Setya,” aku berbisik di dalam hatiku sendiri. ”Keinginanmu untuk merayakan ulang tahun seperti teman-temanmu tak bisa kupenuhi.”

Tiba-tiba aku sangat ingin menciumnya sembari mengucapkan selamat ulang tahun di telinganya.