Dua minggu yang lalu aku beranikan diri mengirimkan naskah novel kacrut ke salah satu penerbit yang lumayan keren via email. Tiga hari kemudian ada balasan: katanya diriku harus menyertakan biodata sebagai syarat penilaian naskah itu. Aku tergeragap.

Balasan email itu kuabaikan saja. Tiba-tiba aku merasa MINDER.

Kuadukan rasa minder ini pada teman. Dia menyarankan (menghasut) agar aku mengaku saja sebagai seorang penulis lokal yang sudah punya jam terbang. ”Tulislah bahwa kau bekerja di perusahaan yang lumayan bergengsi. Dan, jangan ragu mengaku dirimu lulusan fakultas sastra Universitas Jambi,” kata si teman. Aku memang tinggal nun jauh di pelosok Jambi.

Ingin aku menuruti sarannya itu, tapi setelah dipikir bolak-balik, dibeuweung-diutahkeun, rasanya sampai kapan pun aku tak akan tega menodai kiprahku sebagai penulis dengan kebohongan.

Kemarin, penerbit itu kembali mengirim email. Dengan keramahan yang hangat, dia minta aku segera mengirim biodata. Maka, sebelum minder menghajar, kukirimkan biodataku. Aku menulis pekerjaanku sebagai buruh tani, tak punya karya yang pernah dipublikasikan, dan pendidikan formalku hanya sebatas… SMP.