Judul mana yang lebih keren: ‘Tragedi Cinta Batuhijau’ atau ‘Love’s Tragedy of the Greenstone’?
***
Aku menulis novel, setingnya perkampungan khas Indonesia; gunung serta hutannya yang botak, sawah serta gubuknya yang reyot, alun-alun serta rumputnya yang setinggi lutut, poskamling serta penunggunya yang berkerubung sarung.
Mengapresiasi novel itu, hatiku terbelah dua; hati besar (HB) merasa bangga, hati kecil (HK) malah mencela.
HB bilang nama-nama tokoh dalam novel itu bagus dan keren, HK protes, ”biar menjual, nama Ipang harus diganti Ivank, Goni diganti Jhony, dan Baidil diganti Baydeel, Dias diganti Diaz, Naryok diganti Newyork, juga Emon diganti (Mat) Damon,” katanya.
HB puas bisa menampilkan keindahan hamparan sawah menguning, ada gubuknya, dilatari gunung yang menjulang tinggi serta langit biru di atasnya. HK malah mencibir: ”Yeee… pembaca novel sekarang lebih seneng mampir ke villa-villa indah di tengah bukit yang dikelilingi kebun anggur ketimbang berimajinasi soal gubuk di tengah sawah.”
HB bilang kampung Batuhijau keren, HK tertawa, ”Ya, keren! Tapi lebih keren kalau nama kampung itu diinggriskan.”
HB sampai berbusa-busa menceritakan adegan seorang guru muda pergi ke sekolah naik angkutan desa, berdesakan dengan para bakul yang hendak berjualan di pasar raya, melewati jalan garinjul yang tak tersentuh pembangunan karena dananya selalu dikemplang pejabat yang berkuasa. Eh, si HK malah bermajinasi guru muda itu meluncur di atas Honda Jazz pemberian ayahnya yang kaya raya.
HB ikut bergendang ria membaca adegan seorang lelaki yang sedang asyik mendengarkan lagu Caca Handika dari hp milik lelaki itu, HK menyarankan Caca Handika diubah ke Jason Mrazz saja, huh…
***
Mana yang keren? Ipang atau Ivank? Batuhijau atau The Greenstone? Angkutan desa atau Honda Jazz? Caca Handika atau Jason Mraz?
Tentu saja villa lebih keren dari gubuk. Kalau kau menganggap gubuk lebih keren, mungkin ada yang kurang waras di otakmu, hehe…
Yah, sesuatu yang berbau inggris memang keren. Tapi, oleh karena aku tak punya wawasan mengenai inggris-inggrisan, ya sudah, menulis tentang gubuk di tengah sawah sajalah.
***
Dan eit… jangan lupa! Andrea Hirata terkenal karena Belitongnya, Ahmad Tohari juga sukses dengan Dukuh Paruknya…
Semogaaaaa… diriku terkenal karena Batuhijau. *mimpi*
***
O ya, banyak sekali novel populer mengangkat tema hedonism. Aku jadi ingin menulis novel seperti itu, tapi aku tak tega berimajinasi tingJudul mana yang lebih keren: ‘Tragedi Cinta Batuhijau’ atau ‘Love’s Tragedy of the Greenstone’?
***
Aku menulis novel, setingnya perkampungan khas Indonesia; gunung serta hutannya yang botak, sawah serta gubuknya yang reyot, alun-alun serta rumputnya yang setinggi lutut, poskamling serta penunggunya yang berkerubung sarung.
Mengapresiasi novel itu, hatiku terbelah dua; hati besar (HB) merasa bangga, hati kecil (HK) malah mencela.
HB bilang nama-nama tokoh dalam novel itu bagus dan keren, HK protes, ”biar menjual, nama Ipang harus diganti Ivank, Goni diganti Jhony, dan Baidil diganti Baydeel, Dias diganti Diaz, Naryok diganti Newyork, juga Emon diganti (Mat) Damon,” katanya.
HB puas bisa menampilkan keindahan hamparan sawah menguning, ada gubuknya, dilatari gunung yang menjulang tinggi serta langit biru di atasnya. HK malah mencibir: ”Yeee… pembaca novel sekarang lebih seneng mampir ke villa-villa indah di tengah bukit yang dikelilingi kebun anggur ketimbang berimajinasi soal gubuk di tengah sawah.”
HB bilang kampung Batuhijau keren, HK tertawa, ”Ya, keren! Tapi lebih keren kalau nama kampung itu diinggriskan.”
HB sampai berbusa-busa menceritakan adegan seorang guru muda pergi ke sekolah naik angkutan desa, berdesakan dengan para bakul yang hendak berjualan di pasar raya, melewati jalan garinjul yang tak tersentuh pembangunan karena dananya selalu dikemplang pejabat yang berkuasa. Eh, si HK malah bermajinasi guru muda itu meluncur di atas Honda Jazz pemberian ayahnya yang kaya raya.
HB ikut bergendang ria membaca adegan seorang lelaki yang sedang asyik mendengarkan lagu Caca Handika dari hp milik lelaki itu, HK menyarankan Caca Handika diubah ke Jason Mrazz saja, huh…
***
Mana yang keren? Ipang atau Ivank? Batuhijau atau The Greenstone? Angkutan desa atau Honda Jazz? Caca Handika atau Jason Mraz?
Tentu saja villa lebih keren dari gubuk. Kalau kau menganggap gubuk lebih keren, mungkin ada yang kurang waras di otakmu, hehe…
Yah, sesuatu yang berbau inggris memang keren. Tapi, oleh karena aku tak punya wawasan mengenai inggris-inggrisan, ya sudah, menulis tentang gubuk di tengah sawah sajalah.
***
Dan eit… jangan lupa! Andrea Hirata terkenal karena Belitongnya, Ahmad Tohari juga sukses dengan Dukuh Paruknya…
Semogaaaaa… diriku terkenal karena Batuhijau. *mimpi*
***
O ya, banyak sekali novel populer mengangkat tema hedonism. Aku jadi ingin menulis novel seperti itu, tapi aku tak tega berimajinasi tinggi-tinggi sementara anak istri tiap hari makan cuma dengan sambal ikan teri.
jadi inget layungwengi dan icen
eheem
*batuk-batuk*
saya cenderung mendukung mana yang lebih kamu sukai saja. kamu piawai mendeskripsikan sebuah suasana dengan mendetail, seolah kita pembacanya juga berada di suasana yang sama. jika kamu bercerita tentang suatu tempat, seolah saya tiba-tiba juga hadir di sana, itu tidak akan terjadi jika kamu melakukannya dengan terpaksa atau setengah hati. kesepenuhhatianmu dalam berkisah itulah yang dapat membuatmu menggambarkan semua dengan nyata. jadi lakukanlah yang kau sukai, tak usah pedulikan segala tetek bengek bahasa asing, jadilah dirimu sendiri. hasilnya pasti bisa maksimal. semoga berhasil, ya..:)
aku suka batuhijau saja gak perlu di inggris2kan lah…
semoga benar2 terjadi kepopuleranmu (antara lain) karena batuhijau itu
walaupun cuma makan dengan sambal & teri harus bersyukur juga,
krena lhat saja orang” di luar sana ada yg lebih menderita..
Hehehe, akhirnya ada perbandingan juga. Susah pula pilihannya…
jadilah diri sendiri Dedes, mana yang lebih sreg itulah yang harus dipilih.
Smoga mimpi besar itu kelak bisa terwujud!
yang alami yang lebih bagus.. batuhijau,.. kalau jadi greenstone malah kesannya di negeri antah berantah, tokohnya jadi terlihat imaji doang, susah mendalami ceritanya..
saya tunggu novelnya ya yah
karena aq orang indonesia… ya batuhijau lah… hehe…
kalo bisa saya pengen PDF naskahnya bang.. penasaran. hehehe