KK=
Kalau memang manusia dikasih kebebasan dalam berkehendak di luar kehendak tuhan, apakah tuhan mengetahui pilihan para manusianya? Saya malah terbayang tuhan geleng kepala sambil mengusap dada karena tak menyangka banyak manusia memilih jalan yang salah.
Begitukah?
Tentu tidak. TUHAN MAHA TAHU, apa pun pilihan, perbuatan, bahkan niat yang hanya terlintas dalam hati, tuhan pasti mengetahui. Karena, sekali lagi, TUHAN MAHA TAHU.
KBM itu nonsense ketika saya memikirkan kemaha-tahuan tuhan.
—————————————————————————————————-
SM=
Yesaya 5:4 “Apakah lagi yang harus diperbuat untuk kebun anggur-Ku itu, yang belum Kuperbuat kepadanya? Aku menanti supaya dihasilkannya buah anggur yang baik, mengapa yang dihasilkannya hanya buah anggur yang asam?”
Itulah satu contoh keluh kesah Allah melihat kelakuan ciptaanNya.
Konsep kemahatahuan Allah yg anda pahamilah yang terlalu membabi-buta…
Pikirkanlah dulu konsep Kemaha tahuan Allah yg sesungguhnya….bukan yg di ucapkan oleh iman2 yg buta.
—————————————————————————————————-
KK=
Dirimu bilang saya terlalu membabi buta dalam memahami konsep kemaha-tahuan tuhan, tapi kenapa nggak sekalian jelasin aja seperti apa konsep maha tahu tuhan menurutmu, terutama dalam soal KBM ini.
Aih, saya baru tahu ternyata tuhan pun berkeluh kesah seperti manusia…
Kamu juga bilang saya punya iman yang buta, alangkah senangnya saya jika kamu jelasin di mana letak butanya. Menjudge orang itu ada ‘etika’-nya loh, xixixi…
—————————————————————————————————-
SM=
Maaf, apa dasar pemikiran MAHATAHU anda di atas? Apakah Tuhan itu mau tidak mau harus tahu segala sesuatu?
Itulah yg saya sebut membabi buta, karena tidak berpikir jernih dan secara tidak langsung membatasi kedaulatan Allah.
Begitu juga Allah maha pengampun, apakah Ia mau tidak mau harus mengampuni apa saja? Ataukah hanya jika Ia berkehendak mengampuni?
Begitu juga dgn MAHA2 lainnya.
Iman buta? seperti orang mabuk berkata-kata….
Tempatkan segala sesuatu pada tempatnya, tidak lebih tidak kurang.
Kemaha-an Allah tidak terlepas dari kehendakNya, sudah saya tulis panjang lebar disini :
http://rahasiainjil.blogspot.com/2011/05/ke-maha-allah-part-1.html
http://rahasiainjil.blogspot.com/2011/05/ke-maha-allah-part-2.html
—————————————————————————————————-
KK=
Maaf, apa dasar pemikiran MAHATAHU anda di atas? Apakah Tuhan itu mau tidak mau harus tahu segala sesuatu?
Begitu juga dgn MAHA2 lainnya.
Tuhan maha tahu artinya Tuhan mengetahui segala sesuatu. Bahkan niat kecil yang terbersit di lubuk hati terdalam pun Tuhan mengetahuinya. Apakah kamu berpikir di dunia ini ada sesuatu yang terlepas dari pengetahuannya? Ya nggak ada lah, karena kalau begitu berarti Dia bukan Tuhan, dong.
Begitu juga Allah maha pengampun, apakah Ia mau tidak mau harus mengampuni apa saja? Ataukah hanya jika Ia berkehendak mengampuni?
Loh, kok bisa menyamakan antara sifat maha tahu dengan maha pengampun? Jelas beda konsepnya. Tuhan maha pengampun menurutku adalah Tuhan akan mengampuni dosa manusia DENGAN SYARAT manusia itu bertobat dengan sungguh-sungguh. Sebesar apa pun dosa, akan diampuni asal ada pertobatan. itulah sebabnya disebut MAHA. Demikian juga maha pemberi. Tuhan akan memberi setiap hamba yang meminta. SYARATNYA: MEMINTA (BERDOA).
Sekarang kembali ke konsep maha tahu. Apakah kamu pikir kata ‘TAHU’ itu juga ada syaratnya? Apakah kamu pikir jika ingin beribadah kita harus teriak dulu agar Tuhan mengetahui ibadah kita? Ya nggak, dong.
Bukannya saya sok tahu, tapi memang keliru kok mempersamakan konsep maha tahu dengan maha pengampun.
Maha-Maha lainnya? Mungkin, yang konsepnya sama dengan maha tahu adalah MAHA MEMILIKI. Segalanya adalah milik Tuhan. Sebutir debu pun saya yakini itu adalah milik Tuhan yang dipinjamkan kepada alam. TANPA SYARAT, TANPA BATAS.
Iman buta? seperti orang mabuk berkata-kata….
Tempatkan segala sesuatu pada tempatnya, tidak lebih tidak kurang.
Kamu bilang kalau tak berfikir jernih maka secara tak langsung akan membatasi kedaulatan Tuhan? Nah, loh, siapa sih yang membatasi kedaulatan Tuhan? Dirimu atau diriku? Saya bilang Tuhan mengetahui segalanya, sama artinya dengan Tuhan berdaulat penuh untuk mengetahui segalanya. Apakah itu membatasi?
O ya, kamu belum menjawab pertanyaan saya. Itu, tentang KBM. Apa hubungannya sifat maha tahu Tuhan dengan KBM? Apakah menurutmu Tuhan tidak mengetahui apa yang jadi pilihan/kehendak para makhluknya?
—————————————————————————————————-
SM=
Tuhan maha tahu artinya tuhan mengetahui segala sesuatu. bahkan niat kecil yang terbersit di lubuk hati terdalam pun tuhan mengetahuinya. apakah kamu berpikir di dunia ini ada sesuatu yang terlepas dari pengetahuannya? ya nggak lah, karena kalau begitu berarti dia bukan tuhan dong.
loh, kok bisa menyamakan antara sifat maha tahu dengan maha pengampun? jelas beda konsepnya.
oke, begini saja. tuhan maha pengampun menurutku adalah tuhan akan mengampuni dosa manusia DENGAN SYARAT manusia itu bertobat dengan sungguh-sungguh. sebesar apa pun dosa akan diampuni asal ada pertobatan. itulah sebabnya disebut MAHA.
demikian juga maha pemberi. tuhan akan memberi setiap hamba yang meminta. SYARATNYA: MEMINTA (BERDOA).
Apakah kalau syarat itu di penuhi oleh manusia maka itu otomatis langsung terjadi? Bgmn jika Allah tidak berkehendak mengabulkan/mengampuni?
sekarang kembali ke konsep maha tahu. Apakah kamu pikir kata ‘TAHU’ itu juga ada syaratnya? apakah kamu pikir jika ingin beribadah kita harus teriak dulu agar tuhan mengetahui ibadah kita? ya nggak dong.
bukannya saya sok tahu, tapi memang keliru kok mempersamakan konsep maha tahu dengan maha pengampun.
maha-maha lainnya? mungkin yang konsepnya sama dg maha tahu adalah MAHA MEMILIKI. segalanya adalah milik tuhan. sebutir debu pun saya yakini itu adalah milik tuhan yang dipinjamkan kepada alam. TANPA SYARAT, TANPA BATAS.
kamu bilang kalau tak berfikir jernih maka secara tak langsung akan membatasi kedaulatan tuhan? nah, loh, siapa sih yang membatasi kedaulatan tuhan? dirimu atau diriku?
saya bilang tuhan mengetahui segalanya, sama artinya dengan tuhan berdaulat penuh untuk mengetahui segalanya. apakah itu membatasi?
o ya, kamu belum menjawab pertanyaan saya. itu, tentang KBM. apa hubungannya sifat maha tahu tuhan dengan KBM? apakah menurutmu tuhan tidak mengetahui apa yang jadi pilihan/kehendak para makhluknya?
ke-Maha tahuan Allah adalah sebatas “maha potensi/ability”, yg harus di gerakkan dengan kehendakNya. Dan ketika kehendak itu ada, maka tidak ada yg tidak bisa di ketahuiNya.(Inherent Omniscience)
Mungkin anda akan bertanya : “Bagaimana jika Tuhan mau agar Dia tau segala sesuatu tanpa harus berkehendak?”
Ya, Jika Tuhan mauNya begitu maka Diapun sedang berkehendak. Tapi apakah Tuhan seperti itu?
I don’t think so…Di Alkitab penuh dgn kehendak Allah yg membuat segala sesuatu terjadi.
Kemahatahuan versi anda akan membelenggu Tuhan bahwa Dia mau tidak mau harus tahu segala sesuatu, bahkan ketika seekor kutu buang kotoran di rambut seekor kucing!. Ini menjadikan segala sesuatunya menjadi absurd.
Kita semua yakin bahwa Tuhan memiliki dan bisa berkehendak.
Bagaimana jika Tuhan tidak ingin tahu sesuatu? menurut pemahaman anda maka Tuhan menjadi tidak bisa berkehendak tidak mengetahui sesuatu, dan ini bertabrakan dgn ke maha kuasaan Tuhan.
Hubungannya dgn KBM?
Justru “Inherent Omniscience of God” inilah yg memberikan ruang bg manusia untuk berkehendak “bebas”, Dimana Tuhan memberikan suatu ruang lingkup kepada manusia untuk berkehendak bebas dalam ruang lingkup tersebut.
Instead of “Total omniscience” concept yg sepertinya tidak lebih drpd sekedar “euphoria” iman semata.
—————————————————————————————————-
KK=
Apakah kalau syarat itu di penuhi oleh manusia maka itu otomatis langsung terjadi? Bgmn jika Allah tidak berkehendak mengabulkan/mengampuni?
Saya percaya, setiap hamba yang bertobat akan diampuni oleh Tuhan, asalkan kita bersungguh-sungguh menyesali dan berjanji tak akan mengulangi lagi dosa yang telah kita lakukan. Tuhan pasti akan mengampuni karena TUHAN MAHA PENGAMPUN. Jika Tuhan tidak mengampuni dosa hambanya yang bertobat dengan sungguh-sungguh, maka dia bukan Tuhan yang maha pengampun, tapi Tuhan yang sombong.
Demikian juga, saya percaya Tuhan akan mengabulkan doa setiap manusia, asalkan doa itu dipanjatkan dengan sepenuh hati. memang tak jarang Tuhan menguji kesabaran kita dengan mengulur-ulur pengkabulan doanya, dan terkadang juga Tuhan mengabulkannya dalam bentuk lain, yang pasti sesuatu ‘dalam bentuk lain’ itu akan lebih bermanfaat ketimbang apa yang dipinta. Nah, jika ada Tuhan yang tak mau mengabulkan doa hambanya, baik sekarang atau nanti, maka dia bukan Tuhan yang maha pemberi, tapi tuhan-tuhanan yang pelit.
ke-Maha tahuan Allah adalah sebatas “maha potensi/ability”, yg harus di gerakkan dengan kehendakNya. Dan ketika kehendak itu ada, maka tidak ada yg tidak bisa di ketahuiNya.(Inherent Omniscience)
Mungkin anda akan bertanya : “Bagaimana jika Tuhan mau agar Dia tau segala sesuatu tanpa harus berkehendak?”
Ya, Jika Tuhan mauNya begitu maka Diapun sedang berkehendak. Tapi apakah Tuhan seperti itu?
I don’t think so…Di Alkitab penuh dgn kehendak Allah yg membuat segala sesuatu terjadi.
Kemahatahuan versi anda akan membelenggu Tuhan bahwa Dia mau tidak mau harus tahu segala sesuatu, bahkan ketika seekor kutu buang kotoran di rambut seekor kucing!. Ini menjadikan segala sesuatunya menjadi absurd.
Kita semua yakin bahwa Tuhan memiliki dan bisa berkehendak.
Saya nggak bilang Tuhan mau tidak mau HARUS tahu segala sesuatu, karena toh (emang dasarnya) Tuhan sudah tahu, kok. tak perlu lagi ada kata ‘harus’. itu malah memberi kesan kalau Tuhan itu sama dengan manusia.
Bagaimana jika Tuhan tidak ingin tahu sesuatu? menurut pemahaman anda maka Tuhan menjadi tidak bisa berkehendak tidak mengetahui sesuatu, dan ini bertabrakan dgn ke maha kuasaan Tuhan.
Bagaimana kalau Tuhan tak ingin tahu? ini bicara tentang Tuhan atau apa, siiih? mana ada sifat Tuhan yang kayak gitu.
Pemahaman saya, bahwa Tuhan maha tahu segalanya, tak akan menimbulkan pertanyaan sebodoh itu, kecuali jika kamu ingin menyamakan Tuhan seperti manusia.
Hubungannya dgn KBM?
Justru “Inherent Omniscience of God” inilah yg memberikan ruang bg manusia untuk berkehendak “bebas”, Dimana Tuhan memberikan suatu ruang lingkup kepada manusia untuk berkehendak bebas dalam ruang lingkup tersebut.
Instead of “Total omniscience” concept yg sepertinya tidak lebih drpd sekedar “euphoria” iman semata.
Penjelasanmu mengenai hubungan antara sifat maha tahu Tuhan dengan KBM sama sekali bukan jawaban. Padahal pertanyaanku sangat sederhana sekali: APAKAH TUHAN MENGETAHUI APA YANG AKAN DIPILIH/DIKEHENDAKI PARA MANUSIANYA? Ya di jawab dengan sederhana juga, dong. Tahu? Ataukah tidak tahu?
Baiklah, Om SM, jika kamu menjawab TUHAN TIDAK TAHU, cukuplah itu menjadi kesimpulan buat saya bahwa dalam ajaran agamamu kemaha-tahuan Tuhan itu sangat-sangat-sangat terbatas. Jadi, wajarlah jika ada Tuhan yang berkeluh kesah. dan tak mustahil pula ada Tuhan yang mengusap dada karena miris melihat begitu banyak manusia memilih jalan yang salah.
Atau, jika kamu menjawab: TUHAN TAHU, berarti kamu mengakui bahwa KBM itu nihil adanya. karena, bukankah di atas kamu mengatakan bahwa Tuhan tahu karena Tuhan berkehendak. maka, jika TUHAN TAHU DARI AWAL APA YANG AKAN DIPILIH MANUSIA, berarti TUHAN SUDAH MENGHENDAKI DARI AWAL APA YANG AKAN DIPILIH MANUSIA. inilah yang namanya… TAKDIR.
—————————————————————————————————-
SM=
Baiklah, Om SM, jika kamu menjawab TUHAN TIDAK TAHU, cukuplah itu menjadi kesimpulan buat saya bahwa dalam ajaran agamamu kemaha-tahuan Tuhan itu sangat-sangat-sangat terbatas. Jadi, wajarlah jika ada Tuhan yang berkeluh kesah. dan tak mustahil pula ada Tuhan yang mengusap dada karena miris melihat begitu banyak manusia memilih jalan yang salah.
Atau, jika kamu menjawab: TUHAN TAHU, berarti kamu mengakui bahwa KBM itu nihil adanya. karena, bukankah di atas kamu mengatakan bahwa Tuhan tahu karena Tuhan berkehendak. maka, jika TUHAN TAHU DARI AWAL APA YANG AKAN DIPILIH MANUSIA, berarti TUHAN SUDAH MENGHENDAKI DARI AWAL APA YANG AKAN DIPILIH MANUSIA. inilah yang namanya… TAKDIR.
Lho belum saya jawab kok udah di jawab sendiri?
Seperti saya bilang, Tuhan pasti tahu jika Dia berkehendak untuk tahu.
Jer 17:10 Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya.”
Ro 8:27 Dan Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, berdoa untuk orang-orang kudus.
Jumlah rambut manusiapun Dia tahu, kalau ingin tahu….tapi apa perlu tahu Tuhan ngurusin jumlah rambut. Semua itu tidak terlepas dari kehendakNya.
Contoh lain :
Matius 10:29
“Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekorpun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu.”
Bayangkan kalau semua bisa terjadi di luar kehendaknya…..
Pengertian saya akan ke mahaan Allah bukanlah membabi buta seperti anda, at least itulah yg saya peroleh dari Alkitab.
Dan saya belum melihat satu dasarpun dari pengertian anda, kecuali hanya “euphoria iman” anda belaka.
saya percaya, setiap hamba yang bertobat akan diampuni oleh Tuhan, asalkan kita bersungguh-sungguh menyesali dan berjanji tak akan mengulangi lagi dosa yang telah kita lakukan. Tuhan pasti akan mengampuni karena TUHAN MAHA PENGAMPUN. jika Tuhan tidak mengampuni dosa hambanya yang bertobat dengan sungguh-sungguh, maka dia bukan Tuhan yang maha pengampun, tapi Tuhan yang sombong.
demikian juga, saya percaya Tuhan akan mengabulkan doa setiap manusia, asalkan doa itu dipanjatkan dengan sepenuh hati. memang tak jarang Tuhan menguji kesabaran kita dengan mengulur-ulur pengkabulan doanya, dan terkadang juga Tuhan mengabulkannya dalam bentuk lain, yang pastinya lebih bermanfaat. nah, jika ada Tuhan yang tak mau mengabulkan doa hambanya, baik sekarang atau nanti, maka dia bukan Tuhan yang maha pemberi, tapi Tuhan-Tuhanan yang pelit.
Itu namanya iman, tidak salah kok, tapi……itu tidak menjadikan Allah ter dikte oleh iman anda itu, kalau memang Allah tidak mengabulkan itu hak Allah, biarpun doa sampe nungging2 jungkir balik…
Dan orang spt anda selalu menyalahkan Tuhan jika permohonan anda tdk di kabulkan, di bilang mengulur2 waktulah,….. menguji kesabaranlah. Apakah anda pernah instropeksi, kenapa kok keinginan anda belum terwujud juga?
saya nggak bilang Tuhan mau tidak mau HARUS tahu segala sesuatu, karena toh (emang dasarnya) Tuhan sudah tahu, kok. tak perlu lagi ada kata ‘harus’. itu malah memberi kesan kalau Tuhan itu sama dengan manusia. lebih heran lagi saya membaca pertanyaanmu: bagaimana kalau Tuhan tak ingin tahu? ini bicara tentang Tuhan atau apa, siiih? mana ada sifat Tuhan yang kayak gitu.
pemahaman saya, bahwa Tuhan maha tahu segalanya, tak akan menimbulkan pertanyaan sebodoh itu. kecuali jika ingin menyamakan Tuhan seperti manusia.
Dengan mengatakan bahwa Tuhan tahu segalanya terlepas dari kehendakNya itu sama saja bilang bahwa Tuhan harus tahu segala2 nya, kalau tidak tahu segalanya (walaupun jika Ia berkehendak pasti akan tahu) maka bukan Tuhan.
Anda pasti sering mendengar atau mengucapkan kata2 “God’s will” atau insya Allah? Dgn mengatakan bahwa “Tuhan pasti “ini itu” kalau orang “ini itu” otomatis menunjukan bahwa orang itu tidak tahu apa yg di ucapkan ketika mengucapkan kata “God’s will/insya Allah”.
Ketika seseotang WTS mengatakan bahwa “Saya menjadi WTS karena takdir Allah”, kemudian besoknya di tanya : “apakah kamu tahun depan masih jadi WTS?” Dia jawab “Insya Allah”. Lalu di mana letak takdir? bukankah takdir itu berarti “di tetapkan sebelumnya?”. Seharusnya WTS itu bilang, “Ya pasti! karena itu sudah takdir saya!”
penjelasanmu mengenai hubungan antara sifat maha tahu Tuhan dengan KBM sama sekali bukan jawaban. padahal pertanyaanku sangat sederhana sekali: APAKAH TUHAN MENGETAHUI APA YANG AKAN DIPILIH/DIKEHENDAKI PARA MANUSIANYA? ya, jawab dengan sederhana juga dong. tahu? ataukah tidak tahu?
Dgn hanya menyediakan jawaban Ya atau Tidak berarti anda telah menyamakan Tuhan dgn manusia. Kalau yg anda tanyakan di atas adalah tentang manusia maka bisa di jawab dgn ya/tdk.
Dan untuk kesekian kalinya saya katakan bahwa semua itu tdk terlepas dari kehendakNya.
Coba anda definisikan kata “MAHATAHU” versi anda (bukan pengertiannya). Saya ingin tahu.
GBU
—————————————————————————————————-
KK
Itu namanya iman, tidak salah kok, tapi……itu tidak menjadikan Allah ter dikte oleh iman anda itu, kalau memang Allah tidak mengabulkan itu hak Allah, biarpun doa sampe nungging2 jungkir balik…
Dan orang spt anda selalu menyalahkan Tuhan jika permohonan anda tdk di kabulkan, di bilang mengulur2 waktulah,….. menguji kesabaranlah. Apakah anda pernah instropeksi, kenapa kok keinginan anda belum terwujud juga?
Belum apa-apa, lagi-lagi anda (ahai, saya ketularan memanggilmu anda) menuduh saya menyalahkan Tuhan jika doa saya tak terkabul. Mana buktinya, hehe… kenal aja nggak. Justru orang yang percaya bahwa Tuhan maha pemberi yang jarang menyalahkan Tuhan. Justru orang yang percaya Tuhan maha pemberi yang selalu mengintrospeksi diri dan mencari apa yang menghalangi doanya sehingga tak dikabulkan. Bener, nggak?
Dengan mengatakan bahwa Tuhan tahu segalanya terlepas dari kehendakNya itu sama saja bilang bahwa Tuhan harus tahu segala2 nya, kalau tidak tahu segalanya (walaupun jika Ia berkehendak pasti akan tahu) maka bukan Tuhan.
Hei, coba baca postingan saya lagi. Apakah saya pernah mengatakan bahwa kemaha-tahuan Tuhan lepas dari kehendaknya? Nggak ada tuh. Kenapa dirimu ujug-ujug mengatakan, ‘dengan menganggap bahwa kemaha-tahuan Tuhan terlepas dari kehendaknya’? Mana tulisan saya yang demikian? Lagi-lagi, tuduhan membabi buta darimu.
Anda pasti sering mendengar atau mengucapkan kata2 “God’s will” atau insya Allah? Dgn mengatakan bahwa “Tuhan pasti “ini itu” kalau orang “ini itu” otomatis menunjukan bahwa orang itu tidak tahu apa yg di ucapkan ketika mengucapkan kata “God’s will/insya Allah”.
Ketika seseotang WTS mengatakan bahwa “Saya menjadi WTS karena takdir Allah”, kemudian besoknya di tanya : “apakah kamu tahun depan masih jadi WTS?” Dia jawab “Insya Allah”. Lalu di mana letak takdir? bukankah takdir itu berarti “di tetapkan sebelumnya?”. Seharusnya WTS itu bilang, “Ya pasti! karena itu sudah takdir saya!”
Waduh, mau ngungkit soal WTS lagi, ya? kan udah dijawab tuh sama om Bolot. Begini; apakah WTS itu tahu takdir masa depannya akan tetap menjadi seorang WTS? Nggak tahu, kan? Yang tahu hanya Tuhan saja, itu rahasia Tuhan, dan tak seorang pun diizinkan mengetahui/mencampuri rahasianya.
Nah, tuduhan membabi-butamu selalu saja MENGHARUSKAN si WTS bilang: ya, itu takdirku, dan aku harus menjalaninya!
Coba kamu pikir, apa alasan si WTS mengucapkan hal itu, padahal ia sama sekali tidak mengetahui takdirnya nanti? Atau, mungkin kamu sendiri yang mengira si WTS itu akan tetap menjadi seorang WTS? wahai, Om SM, janganlah dirimu berburuk sangka kepada Tuhan.
Mengenai kata ‘Insya Allah’, itu adalah harapan untuk hal kebaikan. Jangan pakai kata ‘insya Allah’ dengan membabi-buta, dong. kamu sendiri kan bilang, kalau segala sesuatu itu harus diletakan pada tempatnya, tak kurang, tak lebih.
Pengertian saya akan ke mahaan Allah bukanlah membabi buta seperti anda, at least itulah yg saya peroleh dari Alkitab.
Dan saya belum melihat satu dasarpun dari pengertian anda, kecuali hanya “euphoria iman” anda belaka.
GBU
Om SM…
Sudah saya tulis tuh di atas tentang kemahatahuan Tuhan. Masak harus diulang melulu. Tuhan maha tahu artinya mengetahui segala sesuatu. Kenapa dia tahu? karena dia adalah Tuhan, yang menciptakan segala sesuatu. Kalau ada hal yang tidak dia ketahui, berarti ada hal yang bukan dia penciptanya. Kenapa saya punya pemikiran seperti ini? Karena saya percaya akan kedaulatan Tuhan.
Tuhan maha kuasa, dan tak ada sesuatu pun yang lepas dari kuasanya. Sama dengan: Tuhan maha tahu, dan tak ada sesuatu pun yang lepas dari pengetahuannya. Masak belum mengerti juga, siiih?
Yap, kamu bilang pemahaman seperti itu adalah ‘iman membabi buta’.
Coba, ah, berandai-andai: saya bertanya pada Tuhan, “Tuhan, tahukah Engkau berapa jumlah helai rambut di kepalaku?” Apakah Tuhan harus berkehendak tahu dulu untuk menjawab pertanyaanku?????
Ah, jawaban kamu mengenai KBM itu makin ‘blur’ aja, hehe… Saya meminta jawaban antara ”ya” atau ”tidak”, antara ”Tuhan tahu” atau ”Tuhan tidak tahu”, kamu bilang pertanyaan itu tak bisa dijawab dengan kata ”ya” maupun ”tidak”. Mungkinkah ini yang dinamakan keraguan dalam beriman? Yap, mungkin. Di satu sisi ada pengakuan bahwa Tuhan dari awal-awal sudah mengetahui freewill manusia-manusianya, di sisi lain ada ajaran bahwa freewill itu terpisah dari kehendak Tuhan (atau dengan kata lain, freewill tiap manusia tidak diketahui olehnya).
Bolehlah saya berandai-andai lagi: misalnya, saya punya dua cewek kenalan, sama-sama cantik, sama-sama baik. Saya ingin menikahi salah satunya, tapi saya belum memutuskan pilih si a atau si b. Nah, pertanyaan saya sederhana kok: APAKAH TUHAN SUDAH MENGETAHUI MANA YANG AKAN SAYA PILIH NANTI?
(berkehendak) TAHU? ataukah TIDAK (berkehendak) TAHU?
—————————————————————————————————-
SM=
Belum apa-apa, lagi-lagi anda (ahai, saya ketularan memanggilmu anda) menuduh saya menyalahkan Tuhan jika doa saya tak terkabul. Mana buktinya, hehe… kenal aja nggak. Justru orang yang percaya bahwa Tuhan maha pemberi yang jarang menyalahkan Tuhan. Justru orang yang percaya Tuhan maha pemberi yang selalu mengintrospeksi diri dan mencari apa yang menghalangi doanya sehingga tak dikabulkan. Bener, nggak?
Lha di bawah ini apa kalau bukan menyalahkan Tuhan namanya? :
KK says : demikian juga, saya percaya Tuhan akan mengabulkan doa setiap manusia, asalkan doa itu dipanjatkan dengan sepenuh hati. memang tak jarang Tuhan menguji kesabaran kita dengan mengulur-ulur pengkabulan doanya, dan terkadang juga Tuhan mengabulkannya dalam bentuk lain, yang pastinya lebih bermanfaat
Dari mana KK bisa tahu kalau Tuhan mengulur2 waktu? Apa ga mungkin kalau KK -nya yg kurang berusaha?
hei, coba baca postingan saya lagi. apakah saya pernah mengatakan bahwa kemaha-tahuan Tuhan lepas dari kehendaknya? nggak ada tuh. kenapa dirimu ujug-ujug mengatakan, ‘dengan menganggap bahwa kemaha-tahuan Tuhan terlepas dari kehendaknya’? mana tulisan saya yang demikian? lagi-lagi, tuduhan membabi buta darimu.
Ini tulisan KK :
KK says : saya nggak bilang Tuhan mau tidak mau HARUS tahu segala sesuatu, karena toh (emang dasarnya) Tuhan sudah tahu, kok. tak perlu lagi ada kata ‘harus’. itu malah memberi kesan kalau Tuhan itu sama dengan manusia
Lho gimana seh? Kan kata KK Tuhan itu sudah tahu “segalanya”, artinya kalau tidak tahu segalanya kan bukan Tuhan toh menurut KK? Jadi logikanya kan yg namanya Tuhan itu menurut KK “harus selalu tahu”, dan tidak bisa berkehendak untuk tidak mau tahu sedikitpun.
Kalaupun KK menyangkal itu dan menerima bahwa Kemahatahuan Allah tdk terlepas dari kehendakNya, maka berarti ada saatnya Tuhan untuk tidak tahu yg tidak di kehendaki untuk di ketahuiNya bukan?
Jadi gimana sebenarnya pendapat KK ini?
waduh, mau ngungkit soal WTS lagi, ya? kan udah dijawab tuh sama om bolot. begini; apakah WTS itu tahu takdir masa depannya akan tetap menjadi seorang WTS? nggak tahu, kan? yang tahu hanya Tuhan saja, itu rahasia Tuhan, dan tak seorang pun diizinkan mengetahui/mencampuri rahasianya.
Nah terus kapan manusia bisa tahu takdirnya? setelah mati nantikah? Lalu kenapa kok ada orang sering berkeluh kesah “yah….sudah takdirku” . Sebenarnya Takdir itu sudah ditetapkan atau masih bisa berubah2 ?
Rahasia Tuhan? Kenapa selalu bilang begitu jika tdk bisa memberikan jawaban atas konsep yg kamu buat sendiri? Jangan2 konsep takdir versi KK memang hanya karangan belaka untuk menutupi ketidak tahuan akan sesuatu?
mengenai kata ‘Insya Allah’, itu adalah harapan untuk hal kebaikan. jangan pakai kata ‘insya Allah’ dengan membabi-buta, dong. kamu sendiri kan bilang, kalau segala sesuatu itu harus diletakan pada tempatnya, tak kurang, tak lebih.
Bukankah insya Allah berarti “Jika Allah menghendaki”? KK kan bilang begini :
saya percaya, setiap hamba yang bertobat akan diampuni oleh Tuhan, asalkan kita bersungguh-sunggu menyesali dan berjanji tak akan mengulangi lagi dosa yang telah kita lakukan. Tuhan pasti akan mengampuni karena TUHAN MAHA PENGAMPUN. jika Tuhan tidak mengampuni dosa hambanya yang bertobat dengan sungguh-sungguh, maka dia bukan Tuhan yang maha pengampun, tapi Tuhan yang sombong.
Artinya KK melupakan “insya Allah” dalam tulisan KK di atas. Dan kalaupun Tuhan sombong terus knp? Apa hak manusia untuk menjudge Tuhan? Tuhan membunuh dengan air bah di jaman Nuh, apakah KK juga bilang kalau Tuhan sadis?
sudah saya tulis tuh di atas tentang kemahatahuan Tuhan. masak harus diulang melulu. Tuhan maha tahu artinya mengetahui segala sesuatu. kenapa dia tahu? karena dia adalah Tuhan, yang menciptakan segala sesuatu. kalau ada hal yang tidak dia ketahui, berarti ada hal yang bukan dia penciptanya. kenapa saya punya pemikiran seperti ini? karena saya percaya akan kedaulatan Tuhan.
Tuhan maha kuasa, dan tak ada sesuatu pun yang lepas dari kuasanya. sama dengan: Tuhan maha tahu, dan tak ada sesuatu pun yang lepas dari pengetahuannya. masak belum mengerti juga, siiih?
Kan saya minta definisi menurut KK, bukan pengertian KK.
Coba anda definisikan kata “MAHATAHU” versi anda (bukan pengertiannya). Saya ingin tahu.
coba ah, berandai-andai: saya bertanya pada Tuhan, ‘Tuhan, tahukah engkau berapa jumlah helai rambut di kepalaku?’. apakah Tuhan harus berkehendak tahu dulu untuk menjawab pertanyaanku?????
Lha iyalah, atau paling tidak di suatu saat sebelum kamu tanya itu Dia pasti sudah berkehendak untuk tahu (kalau memang penting di mata Tuhan). Lagian mana ada seh orang yg nanya jumlah rambut?
ah, jawaban kamu mengenai KBM itu makin ‘blur’ aja, hehe… saya meminta jawaban antara ”ya” atau ”tidak”, antara ”Tuhan tahu” atau ”Tuhan tidak tahu”, kamu bilang pertanyaan itu tak bisa dijawab dengan kata ”ya” maupun ”tidak”. mungkinkah ini yang dinamakan keraguan dalam beriman? yap, mungkin. di satu sisi ada pengakuan bahwa Tuhan dari awal-awal sudah mengetahui freewill manusia-manusianya, di sisi lain ada ajaran bahwa freewill itu terpisah dari kehendak Tuhan (atau dengan kata lain, freewill tiap manusia tidak diketahui olehnya).
APAKAH TUHAN MENGETAHUI APA YANG AKAN DIPILIH/DIKEHENDAKI PARA MANUSIANYA?
Saya jawab : Tidak, TAPI Dia pasti bisa tahu dan punya kuasa penuh untuk mempengaruhi freewill manusia jika Dia menghendaki.
bolehlah saya berandai-andai lagi: misalnya, saya punya dua cewek kenalan, sama-sama cantik, sama-sama baik. saya ingin menikahi salah satunya, tapi saya belum memutuskan pilih si a atau si b. nah, pertanyaan saya sederhana kok: APAKAH TUHAN SUDAH MENGETAHUI MANA YANG AKAN SAYA PILIH NANTI?
(berkehendak) TAHU? ataukah TIDAK (berkehendak) TAHU?
Anda sendiri sudah membatasi pilihan dgn si A atau si B, bagaimana jika ternyata anda menikahi keduanya? atau tidak sama sekali. Atau menikah dgn si C?
Tahu atau tidak? Dan jawabannya tetap sama,……Jika Allah menghendaki (insya Allah?) maka pasti tahu.
GBU
—————————————————————————————————-
KK=
Dari mana KK bisa tahu kalau Tuhan mengulur2 waktu?
Saya bilang Tuhan terkadang mengulur waktu untuk mengabulkan doa hambanya, apa itu berarti saya menyalahkan Tuhan? Tidakkah anda melihat betapa yakinnya saya bahwa Tuhan maha pemberi? Tidak hari ini, mungkin besok. tidak besok, mungkin lusa. Apakah itu berarti saya menyalahkan Tuhan?
Apa ga mungkin kalau KK-nya yg kurang berusaha?
Ya, mungkin saja. lalu apanya yang salah, nih? Apakah karena saya tidak menyebut bahwa orang yang kurang berusaha akan ditolak doanya? Masak sih saya harus memberi penjelasan sedetìl itu?
Yang jelas, Tuhan maha pemberi. Dan dia senantiasa mengabulkan doa hambanya yang beriman dan yang memenuhi syarat. Salah satu syaratnya adalah orang harus beriman sepenuh hati. Dan tak perlu saya berbusa-busa menjelaskan kalau orang itu harus berusaha agar doanya diterima, karena toh anak kecil juga tahu itu kok.
Lho gimana seh? Kan kata KK Tuhan itu sudah tahu “segalanya”, artinya kalau tidak tahu segalanya kan bukan Tuhan toh menurut KK? Jadi logikanya kan yg namanya Tuhan itu menurut KK “harus selalu tahu”, dan tidak bisa berkehendak untuk tidak mau tahu sedikitpun.
Kalaupun KK menyangkal itu dan menerima bahwa Kemahatahuan Allah tdk terlepas dari kehendakNya, maka berarti ada saatnya Tuhan untuk tidak tahu yg tidak di kehendaki untuk di ketahuiNya bukan?
Jadi gimana sebenarnya pendapat KK ini?
Apakah ketika saya bilang Tuhan tak perlu kata HARUS untuk mengetahui sesuatu, maka itu berarti saya menganggap kemaha-tahuan Tuhan lepas dari kehendaknya? Tuhan tahu karena Tuhan berkehendak tahu, nggak sama dengan Tuhan tahu karena Tuhan harus tahu.
Sekali lagi, Tuhan tahu segalanya. Dan tak perlu lagi pake kata HARUS, karena toh (dari sononya) Tuhan sudah tahu. Tak perlu lagi ada kalimat ‘Tuhan mau tak mau harus tahu’ karena toh (dari sononya) Tuhan sudah tahu. Ini bukan mendikte Tuhan seperti yang anda tuduhkan. Ini adalah pengakuan akan kedaulatan Tuhan. Tuhan berdaulat mengetahui segalanya, maka tak akan ada anggapan bodoh yang mengatakan Tuhan tidak berkehendak mengetahui sesuatu, kecuali anggapan orang yang tidak/kurang mengakui kedaulatan Tuhan, contohnya… ya, dirimu.
Nah terus kapan manusia bisa tahu takdirnya? setelah mati nantikah?
Manusia mengetahui takdirnya ketika ia menjalaninya. Emang kenapa?
Lalu kenapa kok ada orang sering berkeluh kesah “yah….sudah takdirku” . Sebenarnya Takdir itu sudah ditetapkan atau masih bisa berubah2 ?
Orang yang suka berkeluh kesah ‘yeah… sudah takdirku’ adalah orang yang putus asa dan ogah berusaha. Belum apa-apa, dia sudah keok.
Berandai-andai lagi, boleh kan?
Misalnya, saya dan anda adalah seorang novelis yang hendak menulis cerita tentang perjalanan hidup seorang WTS. Bisa dipastikan novel versi anda akan dipenuhi oleh keluh-kesah, sumpah serapah, gugatan-gugatan terhadap Tuhan. Dan, bisa dipastikan endingnya akan berakhir tragis. Kenapa? karena anda melihat kehidupan WTS dari sisi negatifnya saja. anda akan senantiasa mengorek keburukan wataknya; pesimis, putus asa, menyerah, benci diri sendiri, imperior, iri terhadap orang lain, menggugat bahwa Tuhan tak adil, dsb dsb. Ini terbukti karena kamu selalu saja menjejalkan ucapan ”yah… sudah takdirku.”
Bagaimana dengan saya? Oh, tidak. Saya tak akan menulis novel seburuk itu. Saya akan menciptakan tokoh WTS yang tegar, yang optimis dan yang selalu berusaha melakukan hal terbaik bagi dirinya.
Saya juga akan menulis dialog seperti ini:
”Hei, cewek WTS, tahukah kau apa yang kau jalani itu adalah takdir?”
”Iya, aku tahu, emang kenapa?”
”Kok kamu tidak mengeluh telah ditakdirkan sebagai WTS?”
”Mengeluh tak akan membuat hidupku lebih baik, Coy. Mendingan berusaha.”
”Bagaimana kalau Tuhan tetap mentakdirkan kamu sebagai WTS?”
”Lha, kok musti berandai-andai mengenai masa depan, sih? Aku tak pernah ingin mendahului sesuatu yang belum terjadi. Untuk apa aku menyibukan diri memikirkan hari esok yang belum dapat diraba? Jika aku mencemaskan apa yang akan terjadi di masa depan, itu sama halnya dengan perang melawan bayang-bayang. Hari ini adalah hari milikku, maka aku akan memanfaatkan hari yang sedang kujalani ini sesibuk (seoptimal) mungkin. Sebab, hari esok… siapa yang tahu?”
Rahasia Tuhan? Kenapa selalu bilang begitu jika tdk bisa memberikan jawaban atas konsep yg kamu buat sendiri?
Jangan2 konsep takdir versi KK memang hanya karangan belaka untuk menutupi ketidak tahuan akan sesuatu?
Memang takdir itu rahasia Tuhan, kok, karena hanya Tuhan yang tahu. Coba pikir, jika anda ditanya apa yang akan terjadi pada dunia 1000 tahun mendatang, apakah kamu bisa menjawabnya? Itu rahasia Tuhan, kan? Entahlah kalau dirimu termasuk orang yang mudah percaya pada peramal, ahli nujum atau hal-hal yang berbau klenik, bisa saja kamu menjawabnya dengan sok tahu.
Bukankah insya Allah berarti “Jika Allah menghendaki”? KK kan bilang begini: Saya percaya, setiap hamba yang bertobat akan diampuni oleh Tuhan, asalkan kita bersungguh-sungguh menyesali dan berjanji tak akan mengulangi lagi dosa yang telah kita lakukan. Tuhan pasti akan mengampuni karena TUHAN MAHA PENGAMPUN. jika Tuhan tidak mengampuni dosa hambanya yang bertobat dengan sungguh-sungguh, maka dia bukan Tuhan yang maha pengampun, tapi Tuhan yang sombong.
Artinya KK melupakan “insya Allah” dalam tulisan KK di atas. Dan kalaupun Tuhan sombong terus knp? Apa hak manusia untuk menjudge Tuhan? Tuhan membunuh dengan air bah di jaman Nuh, apakah KK juga bilang kalau Tuhan sadis?
Pemakaian kata ”insya Allah” tak lantas menyebabkan kita meragukan apa yang sudah kita yakini. Contohnya begini: dalam ajaran Kristen, anda meyakini bahwa jika anda percaya Yesus adalah penyelamat, maka anda akan selamat (jika anda menolak hal ini, berarti ada yang salah dalam imanmu). Biar begitu, kamu tetap saja menggunakan istilah ”jika Bapa menghendaki”. Nah, ucapan ”jika bapak menghendaki” itu tidak serta merta merubah keyakinan mengenai jalan keselamatan itu, kan?
Begitu pun, ucapan ”insya Allah” (Tuhan mengabulkan/mengampuni), tidak serta merta merubah keyakinan kita bahwa Tuhan akan senantiasa mengabulkan/mengampuni.
Dan kalaupun Tuhan sombong terus knp? Apa hak manusia untuk menjudge Tuhan? Tuhan membunuh dengan air bah di jaman Nuh, apakah KK juga bilang kalau Tuhan sadis?
Apabila memang Tuhan tak mau mengampuni dosa orang yang bertobat padanya, ya, saya akan bilang Tuhan itu sombong. Tapi, mana ada sih Tuhan yang tak mau mengampuni orang yang bertobat? Nggak, kan? Tuhan akan selalu mengampuni, kan? Maka, oleh karena Tuhan selalu mengampuni, jadi kepada siapa ‘judge sombong’ saya diarahkan. Tidak kepada siapa pun, kan? Hehehe… kamu ini selalu memaksakan hal yang sederhana menjadi rumit.
Lha iyalah, atau paling tidak di suatu saat sebelum kamu tanya itu Dia pasti sudah berkehendak untuk tahu (kalau memang penting di mata Tuhan). Lagian mana ada seh orang yg nanya jumlah rambut?
Untuk apa Tuhan mengetahui hal-hal detil? sudah saya bilang Tuhan itu (dari sononya) sudah tahu, jadi nggak perlu ada pertanyaan sebodoh itu.
Ya, sudahlah, dari pada terus berbusa-busa nggak pake ngerti, kita coba simpulkan aja konsep kemaha-tahuan Tuhan versi masing-masing.
KK: Tuhan mengetahui segala apa yang ada di alam ini, ia tahu bahkan detil-detilnya. maka, tidak ada sesuatu pun yang lepas dari pengetahuannya.
SM: Tuhan hanya tahu hal-hal yang dikehendakinya saja. kalau ada hal yang tidak dikehendakinya tahu, maka Tuhan tidak tahu.
Deal?
Saya jawab : Tidak, TAPI Dia pasti bisa tahu dan punya kuasa penuh untuk mempengaruhi freewill manusia jika Dia menghendaki.
Wew! Apakah ini berarti ada freewill yang dikehendaki tahu dan ada yang tak dikehendaki tahu? Kok bisa begitu? Siapa aja yang dikehendaki tahu dan siapa yang tidak? Apakah tidak ada kemungkinan dari awal Tuhan sudah menghendaki tahu freewill manusianya?
—————————————————————————————————-
SM=
saya bilang tuhan terkadang mengulur waktu untuk mengabulkan doa hambanya, apa itu berarti saya menyalahkan tuhan? tidakkah anda melihat betapa yakinnya saya bahwa tuhan maha pemberi. tidak hari ini, mungkin besok. tidak besok, mungkin lusa. apakah itu berarti saya menyalahkan tuhan?
Bro, ketika mengatakan bahwa Tuhan mengulur waktu bukankah itu sudah menimpakan penyebab kepada Tuhan bro?
mungkinkah tuhan tidak mengabulkan doa karena orang yang berdoa tidak berusaha? ya, mungkin saja. lalu apanya yang salah, nih? apakah karena saya tidak menyebut bahwa orang yang kurang berusaha akan ditolak doanya? masak sih saya harus memberi penjelasan sedetìl itu?
Iya, karena ada orang yg seperti itu bro…biar jelas posisi kira dlm berdiskusi.
yang jelas, tuhan maha pemberi. dan dia senantiasa mengabulkan doa hambanya yang beriman dan yang memenuhi syarat. salah satu syaratnya adalah orang harus beriman sepenuh hati. dan tak perlu saya berbusa-busa menjelaskan kalau orang itu harus berusaha agar doanya diterima, karena toh anak kecil juga tahu itu kok.
hehe..ya ga usah sampai berbusa2 bro…saya pun percaya kekuatan doa, beberapa kali sudah terbukti…sampai saya heran sendiri.
apakah ketika saya bilang tuhan tak perlu kata HARUS untuk mengetahui sesuatu, maka itu berarti saya menganggap kemaha-tahuan tuhan lepas dari kehendaknya? tuhan tahu karena tuhan berkehendak tahu nggak sama dengan tuhan tahu karena tuhan harus tahu.
Jadi yg mana yg anda pilih, karena berkehendak tahu atau karena harus tahu?
sekali lagi, tuhan tahu segalanya. dan tak perlu lagi pake kata HARUS, karena toh (dari sononya) tuhan sudah tahu. tak perlu lagi ada kalimat ‘tuhan mau tak mau harus tahu’ karena toh (dari sononya) tuhan sudah tahu. ini bukan mendikte tuhan seperti yang anda tuduhkan. ini adalah pengakuan akan kedaulatan tuhan. tuhan berdaulat mengetahui segalanya, maka tak akan ada anggapan bodoh yang mengatakan tuhan tidak berkehendak mengetahui sesuatu. kecuali anggapan orang yang tidak/kurang mengakui kedaulatan tuhan, contohnya… ya, dirimu.
Hehe…justru dengan mengatakan bahwa Tuhan tidak mungkin untuk berkehendak tdk mengetahui sesuatu maka itu membatasi kedaulatan Tuhan bro.
berandai-andai lagi, bolehkan?
misalnya, saya dan anda adalah seorang novelis yang hendak menulis cerita tentang perjalanan hidup seorang wts. bisa dipastikan novel versi anda akan dipenuhi oleh keluh-kesah, sumpah serapah, gugatan-gugatan terhadap tuhan. dan, bisa dipastikan endingnya akan berakhir tragis. kenapa? karena anda melihat kehidupan wts dari sisi negatifnya saja. anda akan senantiasa mengorek keburukan wataknya; pesimis, putus asa, menyerah, benci diri sendiri, imperior, iri terhadap orang lain, menggugat bahwa tuhan tak adil, dsb dsb. ini terbukti karena kamu selalu saja menjejalkan ucapan ”yah… sudah takdirku.”
Woo…kapan saya sekejam itu bro? Lagi pula kalau menulis cerita perjalan hidup kan saya tinggal menulis apa yg saya lihat dari WTS itu bro….apa adanya bro…
bagaimana dengan saya? oh, tidak. saya tak akan menulis novel seburuk itu. saya akan menciptakan tokoh wts yang tegar, yang optimis dan yang selalu berusaha melakukan hal terbaik bagi dirinya.
Dan bagi kliennya? …..ops…sorry..
saya juga akan menulis dialog seperti ini:
”hei, cewek wts, tahukah kau apa yang kau jalani itu adalah takdir?”
”iya, aku tahu, emang kenapa?”
”kok kamu tidak mengeluh telah ditakdirkan sebagai wts?”
”mengeluh tak akan membuat hidupku lebih baik, coy. mendingan berusaha.”
”bagaimana kalau tuhan tetap mentakdirkan kamu sebagai wts?”
”lha, kok musti berandai-andai mengenai masa depan sih? aku tak pernah ingin mendahului sesuatu yang belum terjadi. untuk apa aku menyibukan diri memikirkan hari esok yang belum dapat diraba? jika aku mencemaskan apa yang akan terjadi di masa depan, itu sama halnya dengan perang melawan bayang-bayang. hari ini adalah hari milikku, maka aku akan memanfaatkan hari yang sedang kujalani ini sesibuk mungkin. sebab, hari esok… siapa yang tahu?”
Huahah….berarti yg anda tulis itu bener2 wts pro bro…..mungkin kita bertemu dgn wts yg berbeda kelas bro…
Memang takdir itu rahasia tuhan, kok, karena hanya tuhan yang tahu. coba pikir, jika anda ditanya apa yang akan terjadi pada dunia 1000 tahun mendatang, apakah kamu bisa menjawabnya? itu rahasia tuhan, kan? entahlah kalau dirimu termasuk orang yang mudah percaya pada peramal, ahli nujum atau hal-hal yang berbau klenik, bisa saja kamu menjawabnya dengan sok tahu.
kapan manusia mengetahui takdirnya? manusia mengetahui takdirnya ketika ia menjalaninya. emang kenapa?
Bro, yg saya underline kok bertentangan bro…
pemakaian kata ”insya Allah” tak lantas menyebabkan kita meragukan apa yang sudah kita yakini.
contohnya begini:
dalam ajaran Kristen, anda meyakini bahwa jika anda percaya YESUS adalah penyelamat, maka anda akan selamat (jika anda menolak hal ini, berarti ada yang salah dalam imanmu). biar begitu, kamu tetap saja menggunakan istilah ”jika bapa menghendaki”. nah, ucapan ”jika bapak menghendaki” itu tidak serta merta merubah keyakinan mengenai jalan keselamatan itu, kan?
Oh tidak, karena itu sudah pasti kehendak Tuhan bro, Allah langsung bicara melalui FirmanNya yg hidup. Jadi kalau saya percaya YESUS sbg juru selamat dan melakukan perintahnya, maka saya pasti selamat bro, bukan insya Allah lagi bro.
Yohanes 3:18
“Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.”
begitu pun, ucapan ”insya Allah” (tuhan mengabulkan), tidak serta merta merubah keyakinan bahwa tuhan akan senantiasa mengabulkan.
Bagaimana jika memang ternyata tdk terjadi?
saya menjudge tuhan sombong? apabila memang ada tuhan yang tak mau mengampuni dosa orang yang bertobat padanya, saya bilang tuhan sombong. tapi, mana ada sih tuhan yang tak mau mengampuni orang yang bertobat? nggak, kan? tuhan akan selalu mengampuni, kan? maka, oleh karena tuhan selalu mengampuni, jadi kepada siapa ‘judge sombong’ saya diarahkan. tidak kepada siapa pun, kan? hehehe… kamu ini selalu memaksakan hal yang sederhana menjadi rumit.
Di sini anda melupakan insya Allah lagi bro…itu mengebiri kedaulatan Allah.
untuk apa tuhan mengetahui hal-hal detil?
sudah saya bilang tuhan itu (dari sononya) sudah tahu, jadi nggak perlu ada pertanyaan sebodoh itu.
ya, sudahlah, dari pada terus berbusa-busa nggak pake ngerti. kita coba simpulkan aja konsep kemaha-tahuan tuhan versi masing-masing.
KK: tuhan mengetahui segala apa yang ada di alam ini, ia tahu bahkan detil-detilnya. maka, tidak ada sesuatu pun yang lepas dari pengetahuannya.
SM: tuhan hanya tahu hal-hal yang dikehendakinya saja. kalau ada hal yang tidak dikehendakinya tahu, maka tuhan tidak tahu.
deal?
Ok deal…berarti tuhan menurut KK hanya tahu yg ada di alam ini ya?
soal KBM, kamu menjawab: tidak, tapi jika tuhan menghendaki tahu, maka tuhan tahu.
wew! apakah ini berarti ada freewill yang dikehendaki tahu dan yang tak dikehendaki tahu? kok bisa begitu? siapa aja yang dikehendaki tahu dan siapa yang tidak? apakah tidak ada kemungkinan dari awal tuhan sudah menghendaki tahu freewill manusianya?
Ya…namanya juga freewill bro, begitulah rancangan Allah untuk manusia, agar manusia berbuah yg baik di tengah tarik menarik will yg baik dan yg buruk. Di situlah jiwa manusia mengalami ujian dan tempaan, agar barangsiapa menang, ia akan menjadi buah yg manis, bukan buah asam yg di olesi gula biar manis.
—————————————————————————————————-
KK=
Bro, ketika mengatakan bahwa Tuhan mengulur waktu bukankah itu sudah menimpakan penyebab kepada Tuhan bro?
Ketika orang mengatakan Tuhan mengulur waktu, orang menimpakan penyebab kepada Tuhan. Penyebab apa, maksudmu? Penyebab tidak dikabulkan? bukankah lain kali tetap akan dikabulkan, sama aja toh dikabulkan, hehe…
Jadi yg mana yg anda pilih, karena berkehendak tahu atau karena harus tahu?
Saya memilih karena tuhan berkehendak tahu. emang kenapa siiih?
Hehe…justru dengan mengatakan bahwa Tuhan tidak mungkin untuk berkehendak tdk mengetahui sesuatu maka itu membatasi kedaulatan Tuhan bro.
Kalimat ‘Tuhan tidak mungkin enggan berkehendak mengetahui’ tidak membatasi kedaulatan pengetahuannya kok. Misalnya, Tuhan sudah mengetahui kepalaku bisulan (hehe… jujur, nih), apakah tiba-tiba tuhan berkehendak untuk tidak mengetahui bisul di kepalaku?
Analoginya begini:
kamu tahu bahwa dirimu sekarang sedang bernafas, apakah tiba-tiba kamu memiliki keinginan untuk tidak mengetahui bahwa kamu sedang bernafas. Wew! Begitu ya, pemahamanmu mengenai konsep maha tahu tuhan?
Ehm, jadi pendapat saya mengenai bagaimana WTS menyikapi takdirnya sudah oke, kan? Hahaha… memang begitulah seharusnya, Om. para WTS itu perlu diberi motivasi untuk terus berusaha menjadi bukan wts lagi. janganlah menakut-nakuti dia dengan mengatakan takdirnya nanti akan tetap menjadi seorang WTS. Sekali lagi, tak seorang pun mengetahui takdir sang WTS itu nanti.
Deal?
Soal pertentangan yang kamu maksud:
Saya bilang, takdir (dari mulai orang brojol ke dunia sampai akhirnya terkubur di liang lahat) adalah rahasia Tuhan.
Kamu bertanya: kapan orang mengetahui takdirnya.
Saya menjawab: ketika orang itu menjalaninya.
Simpel, kan?
Si WTS tahu takdirnya sebagai WTS ketika ia menjalaninya seorang WTS.Tapi ia tak akan mengetahui takdirnya nanti. Ia hanya akan tahu takdirnya nanti kalau dia sudah menjalaninya.
Nggak rumit, kan?
Bagaimana nih, pendapat saya mengenai WTS? udah diterima akalmu, belum? xixixi…
Pemakaian kata ”insya Allah” tak lantas menyebabkan kita meragukan apa yang sudah kita yakini. Contohnya begini: dalam ajaran Kristen, anda meyakini bahwa jika anda percaya Yesus adalah penyelamat, maka anda akan selamat (jika anda menolak hal ini, berarti ada yang salah dalam imanmu). biar begitu, kamu tetap saja menggunakan istilah ”jika Bapa menghendaki”. nah, ucapan ”jika Bapa menghendaki” itu tidak serta merta merubah keyakinan mengenai jalan keselamatan itu, kan?
Oh tidak, karena itu sudah pasti kehendak Tuhan bro, Allah langsung bicara melalui FirmanNya yg hidup. Jadi kalau saya percaya YESUS sbg juru selamat dan melakukan perintahnya, maka saya pasti selamat bro, bukan insya Allah lagi bro.
Yohanes 3:18
“Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.”
Begitu pun, ucapan ”insya Allah” (tuhan mengabulkan), tidak serta merta merubah keyakinan bahwa tuhan akan senantiasa mengabulkan.
Bagaimana jika memang ternyata tdk terjadi?
Ketika saya bilang bahwa tuhan akan mengabulkan dan mengampuni, kamu membantah: bagaimana kalau tidak terjadi?
Nah, ketika kamu bilang bahwa jalan keselamatan hanya pada Yesus, saya pun ingin membantah: Bagaimana kalau itu tak terjadi? hehe…
Pada akhirnya kita akan sama-sama mengatakan: insya Allah. Ataaau… ”jika tuhan menghendaki”
Kalau kamu bilang: keselamatan itu pasti. Saya pun bisa bilang: ampunan tuhan juga pasti.
Jadi, tidak ada yang salah dari setiap postingan saya, kan?
Deal?
Di sini anda melupakan insya Allah lagi bro…itu mengebiri kedaulatan Allah.
Soal mengebiri kedaulatan tuhan… tolong jelaskan karena saya belum mengerti.
Okelah, sampai di sini aja dulu. saya udah menyimpan jawabanmu mengenai kbm itu, nanti saya akan tanya-tanya lagi. sekarang, kita deal-kan dahulu satu persatu bahasan kita agar makin enteng diskusinya.
—————————————————————————————————-
KK = Kurang Kerjaan
Trus, KBM itu apa?
SM itu siapa?
@ Kakak Akin:
KBM itu singkatan dari KEHENDAK BEBAS MANUSIA. artinya manusia bebas memilih antara yang baik dengan yang buruk, antara memlih jalan yang lurus atau yang bengkok (menyimpang). dan, KBM ini terlepas dari campur tangan Tuhan, dalam arti: apa pun pilihan manusia, semuanya bukanlah kehendak Tuhan. maka, KBM bertolak belakang dengan TAKDIR (yang termasuk rukun iman dalam Islam)
SM itu inisial dari teman diskusi di Forum Kristen.
KK emang kurang kerjaan…
ngapain diskusi tentang konsep keTuhanan dengan mereka..
sangat buang2 waktu Des…
Seseorang yg telah mengunci hatinya dari cahaya iman, maka sia2 sajalah segala ucapannya.. nggak usah didengerin… apalagi konsep keTuhanan… doooh…
@mbak Thia: ini masalah takdir, Mbak. bukan tentang konsep ketuhanan. Mereka umumnya tidak percaya akan takdir, padahal dalam Islam kan itu termasuk rukun iman. mungkin berdiskusi dengan mereka memang sangat buang-buang waktu, tapi seru juga, Mbak, hehehe….
Wah, panjang bangeeet.. tapi saya baca loh semuanya,…
Kalau diskusi dan berusaha menyamakan persepsi sama orang seperti itu emang bakal panjaaaaaaang sekali, ga ada habisnya..
pikiran ku lagi ga nyambung tuk memahaminya..tapi aku penasaran,,aku copas yaa
terimakasih..
sebebas apapun.. klo dah ditakdirkan sesat… ya sesat… beruntunglah orang2 yg mendapat hidayah-Nya…
kita sebagai manusia hanya bisa
berusaha agar tidak tersesat ke jalan yang salah…,
Serius dan sangat menarik,,,,
hanya saja mata tua ini agak kesulitan membacanya karena tulisan yg redup dan latar belakang yg gelap.
Salam.
Aduuuh, berat nih diskusinya…!
Setelah berkali-kali kesini dan belum ada posting baru, ternyata sang pemilik blog sedang berdiskusi tentang hal-hal yang menurut saya lumayan beresiko buat didiskusikan
Jadi, gimana nih?
Kita terusin aja diskusinya?
*lho*
kadang ku tersenyum saat membacanya, kadang juga ikut terbawa tegang…
teringat cerita bani israil, dengan mengutarakan berbagai pertanyaan, tapi mereka tak ada niatan mengamalkan.
beda dengan beriman” sami’naa wa atha’naa” tapi merka mampu mengambil hikmah dari setiap hukum dan kejadian, sehingga iman mereka malah bertambah..
tulisan ini, memberiku pelajaran. bahwa pentingnya kita do’a minta hidayah, minta iman, dan istiqamah..
terimakasih
pembahasan yang sulit euy ..
makasih udah di bahas