SM
ketika orang mengatakan tuhan mengulur waktu, orang menimpakan penyebab kepada tuhan. penyebab apa, maksudmu? penyebab tidak dikabulkan? bukan lain kali tetap akan dikabulkan, hehe…
Dengan bilang Tuhan mengulur waktu bukankah itu sudah menimpakan sebab kepada Tuhan? Bagaimana bisa tahu kalau memang Tuhan mengulur waktu? Mengulur waktu tuh artinya memperpanjang dari yg seharusnya mas….jadi kalau harusnya senen, tapi baru terjadi sabtu….itu namanya molor…
saya memilih karena tuhan berkehendak tahu. emang kenapa siiih?
Deal…
Kalimat ‘Tuhan tidak mungkin enggan berkehendak mengetahui’ tidak membatasi kedaulatan pengetahuannya kok. misalnya, tuhan sudah mengetahui kepalaku bisulan (hehe… jujur, nih), apakah tiba-tiba tuhan berkehendak untuk tidak mengetahui bisul di kepalaku? Analoginya begini: kamu tahu bahwa dirimu sekarang sedang bernafas, apakah tiba-tiba kamu memiliki keinginan untuk tidak mengetahui bahwa kamu sedang bernafas. wew! begitu ya, pemahamanmu mengenai konsep maha tahu tuhan?
Saya tidak tahu tuh kalau saya sedang bernafas kalau saya tidak sengaja memperhatikannya. Cape aja kalau setiap saat harus ngecek bernafas tau tdk,,,
Hm, pendapat saya mengenai bagaimana wts menyikapi takdirnya sudah oke, kan? hahaha… memang begitulah seharusnya, Om. Para wts itu perlu diberi motivasi untuk terus berusaha menjadi bukan wts lagi. Janganlah menakut-nakuti dia dengan mengatakan takdirnya nanti akan tetap menjadi seorang wts. Sekali lagi, tak seorang pun mengetahui takdir sang wts itu nanti. Deal?
Jadi takdir menurut pemahamanmu berubah-ubah ya? sekarang ditakdirkan jadi wts, terus bisa saja tahun depan ditakdirkan jadi germo, terus tahun depannya lagi jadi anggota DPR, Trus yang takdir yang mana? wts atau germo? atau anggota DPR? Bukankah takdir itu sudah di tentukan dari sebelum lahir? Justru karena mengatakan bahwa itu sudah takdir maka motivasi itu jadi hilang.
Soal pertentangan yang kamu maksud: saya bilang, takdir (dari mulai orang brojol ke dunia sampai akhirnya terkubur di liang lahat) adalah rahasia tuhan. Kamu bertanya: kapan orang mengetahui takdirnya? Saya menjawab: ketika orang itu menjalaninya. Simpel, kan? Si wts tahu takdirnya sebagai wts ketika ia menjalaninya, tapi ia tak akan mengetahui takdirnya nanti. ia hanya akan tahu takdirnya nanti kalau dia sudah menjalaninya. Nggak rumit, kan?
bagaimana nih, pendapat saya mengenai wts? udah diterima akalmu, belum? xixixi…
Jadi seseorang bisa memiliki banyak takdir yang berbeda2?
Ketika saya bilang bahwa tuhan akan mengabulkan dan mengampuni, kamu membantah: bagaimana kalau tidak terjadi? Nah, ketika kamu bilang bahwa jalan keselamatan hanya pada YESUS. saya pun ingin membantah: bagaimana kalau itu tak terjadi? Pada akhirnya kita akan sama-sama mengatakan: insya Allah. ataaau… ”jika tuhan menghendaki” Kalau kamu bilang: keselamatan itu pasti, saya pun bisa bilang: ampunan tuhan juga pasti. Jadi, tidak ada yang salah dari setiap postingan saya, kan? Deal?
Hehehe….Oke deh…
__________________________________________________________________________________
__________________________________________________________________________________
__________________________________________________________________________________
__________________________________________________________________________________
KK
Dengan bilang Tuhan mengulur waktu bukankah itu sudah menimpakan sebab kepada Tuhan? Bagaimana bisa tahu kalau memang Tuhan mengulur waktu? Mengulur waktu tuh artinya memperpanjang dari yg seharusnya mas….jadi kalau harusnya senen, tapi baru terjadi sabtu….itu namanya molor…
Yap, itu memang namanya molor, bukan TIDAK DIKABULKAN. Mau Senin atau Sabtu, kalau ada janji akan dikabulkan, ya pasti dikabulkan. Kurang jelas, ya? Oke, saya tulis gede-gede: D-I-K-A-B-U-L-K-A-N. hehe….
Saya tidak tahu tuh kalau saya sedang bernafas kalau saya tidak sengaja memperhatikannya. Cape aja kalau setiap saat harus ngecek bernafas tau tdk,,,
Jadi kamu hanya tahu dirimu bernafas ketika sedang memerhatikannya saja? Dan kalau kamu tidak sedang memerhatikannya, berarti kamu tidak tahu sedang bernafas? Waddooh… kamu bisa nggak bedain antara kata ‘mengetahui’ dan kata ‘menyadari’? Atau kalimat ‘tidak mengetahui’ dan ‘tidak menyadari’? Ya jelas beda konteksnya. Kamu bukan tidak mengetahui dirimu sedang bernafas, melainkan kamu tidak sedang menyadarinya. Dan, sadar atau tidak sadar, kamu tetap mengetahuinya, kan? Dan ini pertanyaan saya: apakah ada kemungkinan kamu berkehendak untuk tidak mengetahui bahwa kamu sedang bernafas?
Jadi takdir menurut pemahamanmu berubah-ubah ya? sekarang ditakdirkan jadi wts, terus bisa saja tahun depan ditakdirkan jadi germo, terus tahun depannya lagi jadi anggota DPR, Trus yang takdir yang mana? wts atau germo? atau anggota DPR? Bukankah takdir itu sudah di tentukan dari sebelum lahir? Justru karena mengatakan bahwa itu sudah takdir maka motivasi itu jadi hilang.
Perjalanan manusia sudah ditetapkan oleh Tuhan yang Maha Kuasa sejak manusia itu belum ada. Indonesia dijajah Belanda, itu suratan dari-Nya. Kemudian tahun 45 Indonesia merdeka, itu juga sudah ditetapkan oleh-Nya. Lalu, Suharto jadi presiden, sami mawon atas kehendak Tuhan yang telah ditetapkan jauh sebelum Pak Harto lahir. Tiba-tiba datang reformasi dan Pak Harto turun tahta, itu juga takdir. Yap, perjalanan hidup manusia memang berubah-ubah sebagaimana takdir (penetapan) dari sananya.
Jadi seseorang bisa memiliki banyak takdir yang berbeda2?
Takdir itu penetapan. Setiap manusia hanya memiliki satu penetapan, dan penetapan itu meliputi semua perjalanan hidupnya; seperti yang sudah saya contohkan tentang Indonesia di atas. Mungkin kamu akan bertanya begini: jadi, kalau ada orang yang seumur hidupnya melarat, atau orang yang seumur hidupnya jadi pencuri, itu adalah adalah takdir/penetapan darinya? Jawab: YA. Itu berarti Tuhan tidak adil, dong? Jawab: untuk mengetahui makna keadilan, bukankah kita perlu mengetahui adanya ketidak adilan? Dan, apakah pantas suatu ciptaan memprotes kepada Yang Menciptakan? Dan, siapakah pula manusia ini, tak lain hanyalah ciptaan-Nya. Jadi kenapa takdir manusia dibikin berbeda, ada yang jahat dan ada yang baik? Jawab: sama seperti ketika kita mencari makna keadilan, manusia pun tidak akan mengenal yang namanya ‘kebaikan’ jika tidak ada yang namanya ‘keburukan’. Kenapa ada yang kaya dan ada yang miskin? Jawab: bagaimana manusia bisa mengenal kata SYUKUR, tanpa adanya kemiskinan? Masalah takdir erat hubungannya dengan tujuan penciptaan segala sesuatu.
Menyoal WTS yang hilang motivasi karena takdir, aku malah tambah bingung. Kan sudah saya kasih ilustrasinya: masa depan seseorang itu hanya Tuhan yang tahu. Memahami takdir jangan asal serobot aja dong, Bos. Tahun yang lalu, si A jadi WTS, tahun ini ia jadi germo, tahun depan adalah rahasia Tuhan. Itu semua ‘ditulis’ dalam satu ketetapan, dan ketetapan itulah yang namanya takdir. Sekali lagi: oleh karena ia tidak mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan, hari ini dia mestinya mulai berpikir dan berusaha melepas atribut WTS-nya.
Naaaah, sekarang saya mau balik ke soal KBM. Ini jawabanmu atas pertanyaan saya: TUHAN TIDAK MENGETAHUI PILIHAN HIDUP PARA MANUSIA, TAPI TUHAN BISA TAHU ASAL TUHAN BERKEHENDAK MENGETAHUINYA. Saya coba beranalogi lagi: hari ini si A membangun sebuah rumah untuk tempat tinggal keluarganya. Apakah ada kemungkinan si A berkehendak untuk tidak mengetahui tujuan pembangunan rumah itu? Mungkin kamu akan membantah bahwa bisa saja nantinya bangunan itu diubah jadi lapangan bulu tangkis (hehe…). yap, ini menandakan bahwa si A tidak konsisten atas tujuan awal pembangunannya. Nah, kita yakin bahwa Tuhan selalu konsisten atas tujuan penciptaan manusia. Pertanyaan saya: APAKAH ADA KEMUNGKINAN TUHAN BERKEHENDAK TIDAK MENGETAHUI FREEWILL MANUSIA CIPTAANNYA? Tolong dijawab.
__________________________________________________________________________________
__________________________________________________________________________________
__________________________________________________________________________________
__________________________________________________________________________________
SM
Yap, itu memang namanya molor, bukan TIDAK DIKABULKAN. Mau Senin atau Sabtu, kalau ada janji akan dikabulkan ya pasti dikabulkan. Kurang jelas, ya? Oke, saya tulis gede-gede: D-I-K-A-B-U-L-K-A-N. hehe….
Bukan masalah molor/tidak dikabulkan, tapi kamu kan bilang bahwa “Tuhan mengulur waktu”. Belum dikabulkan ≠ di ulur-ulur, bro….
Jadi kamu hanya tahu dirimu bernafas ketika sedang memerhatikannya saja? dan kalau kamu tidak sedang memerhatikannya, berarti kamu tidak tahu sedang bernafas? Waddooh… kamu bisa nggak bedain antara kata ‘mengetahui’ dan kata ‘menyadari’? Atau kalimat ‘tidak mengetahui’ dan ‘tidak menyadari’? Ya jelas beda konteksnya. Kamu bukan tidak mengetahui dirimu sedang bernafas, melainkan kamu tidak sedang menyadarinya. Dan, sadar atau tidak sadar, kamu tetap mengetahuinya, kan? Pertanyaan saya: apakah ada kemungkinan kamu berkehendak untuk tidak mengetahui bahwa kamu sedang bernafas? ini untuk membantah argumenmu yang mengatakan bahwa ”Tuhan tidak berkehendak mengetahui.”
Sebenernya analogimu tidak pas untuk menggambarkan ke mahatahuan Tuhan, Saya bernafas adalah aktivitas yang berada dalam diri saya sendiri, sedang Tuhan dan manusia belum/bukanlah satu kesatuan. Bernafas tidaklah melibatkan kehendak bebas, tapi berjalan dengan sendirinya selama manusia hidup (normal).
Perjalanan manusia sudah ditetapkan oleh Tuhan yang Maha Kuasa sejak manusia itu belum ada. Indonesia dijajah Belanda, itu suratan dari-Nya. Kemudian tahun 45 Indonesia merdeka, itu juga sudah ditetapkan oleh-Nya. Lalu, Suharto jadi presiden, sami mawon atas kehendak Tuhan yang telah ditetapkan jauh sebelum Pak Harto lahir. Tiba-tiba datang reformasi dan Pak Harto turun tahta, itu juga takdir. Yap, perjalanan hidup manusia memang berubah-ubah sebagaimana takdir (penetapan) dari sananya.
Takdir itu penetapan. Setiap manusia hanya memiliki satu penetapan, dan penetapan itu meliputi semua perjalanan hidupnya; seperti yang sudah saya contohkan tentang Indonesia di atas. Faham nggak, sih? Mungkin kamu akan bertanya begini: jadi, kalau ada orang yang seumur hidupnya melarat, atau orang yang seumur hidupnya jadi pencuri, itu adalah adalah takdir/penetapan darinya? Jawab: YA. Itu berarti Tuhan tidak adil, dong? Jawab: untuk mengetahui makna keadilan, bukankah kita perlu mengetahui adanya ketidak adilan? Dan, apakah pantas suatu ciptaan memprotes kepada Yang Menciptakan? Dan, siapakah pula manusia ini, tak lain hanyalah ciptaan-Nya. Jadi kenapa takdir manusia dibikin berbeda, ada yang jahat dan ada yang baik? Jawab: sama seperti ketika kita mencari makna keadilan, manusia pun tidak akan mengenal yang namanya ‘kebaikan’ jika tidak ada yang namanya ‘keburukan’. Kenapa ada yang kaya dan ada yang miskin? Jawab: bagaimana manusia bisa mengenal kata SYUKUR, tanpa adanya kemiskinan? Masalah takdir erat hubungannya dengan tujuan penciptaan segala sesuatu.
Saya tidak memprotes Tuhan, tapi saya memprotes paham takdir versi kamu! Dan saya tidak membantah bahwa Tuhan bisa campur tangan kepada kehidupan manusia, tapi jangan terus ambil kesimpulan bahwa SEMUA kejadian di dunia di dalangi oleh Tuhan. Dan Tuhan tidak harus menciptakan keburukan agar kebaikan dikenal, karena perbuatan jahat/buruk bukanlah dari Tuhan, melainkan dari Iblis. Dan yang pasti, manusia mengenal apa yang baik/benar adalah karena Firman Tuhan, bukan karena adanya yang buruk. Karena baik atau buruk adalah Tuhan penentunya.
Pada mulanya semua baik adanya, sampai saatnya Tuhan menentukan mana yang boleh dan mana yang tidak boleh, dan yang tidak boleh ini lalu di sebut buruk/jahat.
Itulah asal dari baik/buruk, jadi yang buruk/jahat tidaklah secara khusus di ciptakan, seperti pemahamanmu. Dan mengenal baik buruk tanpa kemampuan untuk berbuat baik adalah sia2 saja.
menyoal WTS yang hilang motivasi karena takdir, aku malah tambah bingung. Kan sudah saya kasihilustrasinya: masa depan seseorang itu hanya Tuhan yang tahu. Memahami takdir jangan asal serobot aja dong, Bos. Tahun yang lalu, si A jadi WTS, tahun ini ia jadi germo, tahun depan adalah rahasia Tuhan. Itu semua ‘ditulis’ dalam satu ketetapan, dan ketetapan itulah yang namanya takdir. Sekali lagi (biar kagak oot melulu): oleh karena ia tidak mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan, hari ini dia mestinya mulai berpikir dan berusaha melepas atribut WTS-nya.
Pemahaman seperti kamu ini yang kemudian membawa kesimpulan bahwa orang-orang yang akhirnya masuk neraka adalah karena sudah takdir. Orang yang matinya sebagai koruptor adalah takdir dari Tuhan. Buat apa Tuhan repot mengutus nabi-nabi kalau semua sudah tertulis di skenarioNya? Buat apa Tuhan melarang ini dan itu kalau perjalanan hidup manusia sudah di gariskan? Apa Tuhan menurut kamu sedang bersenda gurau?
Dan kamu juga gak konsisten, di depan kamu bilang bahwa “WTS itu tahu takdirnya ketika menjalaninya”, terus akhirnya bilang itu hanya Tuhan yang tahu…
Naaaah, sekarang saya mau balik ke soal KBM. Ini jawabanmu atas pertanyaan saya: TUHAN TIDAK MENGETAHUI PILIHAN HIDUP PARA MANUSIA, TAPI TUHAN BISA TAHU ASAL TUHAN BERKEHENDAK MENGETAHUINYA.
saya coba beranalogi lagi: hari ini si A membangun sebuah rumah untuk tempat tinggal keluarganya. Apakah ada kemungkinan si A berkehendak untuk tidak mengetahui tujuan pembangunan rumah itu?
Mungkin kamu akan membantah bahwa bisa saja nantinya bangunan itu diubah jadi lapangan bulu tangkis (hehe…). yap, ini menandakan bahwa si A tidak konsisten atas tujuan awal pembangunannya.
Bro, kalau bikin analogi yang pas dong ah….apakah rumah mempunyai kehendak bebas?……
nah, kita yakin bahwa Tuhan selalu konsisten atas tujuan penciptaan manusia. Pertanyaan saya: APAKAH ADA KEMUNGKINAN TUHAN BERKEHENDAK TIDAK MENGETAHUI FREEWILL MANUSIA CIPTAANNYA? tolong dijawab.
Bro, mengenai tujuan penciptaanpun kita pasti tidak sependapatan….Jadi akan menjadi OOT nanti. Tapi akan saya coba jawab: Ya, Tuhan memang menciptakan manusia dengan Free will, dan yang namanya FREE ya tetep FREE, dan penuh dengan ketidak pastian bagi pihak di luar manusia itu. Tapi jangan di kira freewill manusia bisa menggagalkan tujuan Tuhan dalam penciptaan. Dan Tuhanpun sengaja membiarkan freewill ini di luar kemahatahuanNya, TAPI BUKAN di luar kemahakuasaanNya, artinya Tuhan memiliki kuasa penuh untuk mempengaruhi will manusia, JIKA Ia bekehendak.
Sekali lagi, bahwa freewill manusia itulah yang akan menguji manusia untuk lolos atau tidak dalam seleksi Tuhan bagi manusia. Jadi sebenarnya freewill itu sendiri adalah merupakan beban bagi manusia. Tanpa freewill, maka yang ada hanyalah jiwa2 bentukanNya yang karena ketidakberdayaan-nya akan masuk ke neraka/sorga.
GBU
__________________________________________________________________________________
__________________________________________________________________________________
__________________________________________________________________________________
__________________________________________________________________________________
ODA
Perjalanan manusia sudah ditetapkan oleh Tuhan yang Maha Kuasa sejak manusia itu belum ada. Indonesia dijajah Belanda, itu suratan dari-Nya. Kemudian tahun 45 Indonesia merdeka, itu juga sudah ditetapkan oleh-Nya. Lalu, Suharto jadi presiden, sami mawon atas kehendak Tuhan yang telah ditetapkan jauh sebelum Pak Harto lahir. Tiba-tiba datang reformasi dan Pak Harto turun tahta, itu juga takdir. Yap, perjalanan hidup manusia memang berubah-ubah sebagaimana takdir (penetapan) dari sananya.
Maap… nyelak respondnya. Jadi maksudnya, Tuhan sudah “merancang” ketetapan takdirNYA, kira-kira begitu, ya? Misal: Tuhan merancang takdir untuk NKRI: pada tahun sekian dijajah oleh anu sekian lama, lalu oleh anu sekian lama, dan Tuhan personally merancang Indo proklamasi di 17/8/45, dst dst .. kesemuanya itu melibatkan pula rancangan/rencana takdir Tuhan yang ditetapkan pada tanggal sekian untuk Suharto adalah yang Dia tetapkan untuk proklamasi, dst dst, lalu Tuhan menetapkan setiap mahasiswa untuk berdemo karena rancangan pada Suharto – dia terguling karena demo mahasiswa, dst dst??
. Itu berarti Tuhan tidak adil, dong? Jawab: untuk mengetahui makna keadilan, bukankah kita perlu mengetahui adanya ketidak adilan? Dan, apakah pantas suatu ciptaan memprotes kepada Yang Menciptakan? Dan, siapakah pula manusia ini, tak lain hanyalah ciptaan-Nya. Jadi kenapa takdir manusia dibikin berbeda, ada yang jahat dan ada yang baik? Jawab: sama seperti ketika kita mencari makna keadilan, manusia pun tidak akan mengenal yang namanya ‘kebaikan’ jika tidak ada yang namanya ‘keburukan’. Kenapa ada yang kaya dan ada yang miskin? Jawab: bagaimana manusia bisa mengenal kata SYUKUR, tanpa adanya kemiskinan? Masalah takdir erat hubungannya dengan tujuan penciptaan segala sesuatu..
Sementara ini, saya belum terpikir “bagaimana cara kerja Tuhan”. Sementara ini, menurut saya – hukum kosmik memang sudah meliput sebab-akibat, baik-jahat, positip-negatip.
Sudah saya kasih ilustrasinya: masa depan seseorang itu hanya Tuhan yang tahu. Memahami takdir jangan asal serobot aja dong, Bos. Tahun yang lalu, si A jadi WTS, tahun ini ia jadi germo, tahun depan adalah rahasia Tuhan. Itu semua ‘ditulis’ dalam satu ketetapan, dan ketetapan itulah yang namanya takdir.
Jadi maksudnya sudah “tertulis/tersurat/ditakdirkan”, pada tahun menit detik sekian –> WTS, lalu sekian waktu berikutnya –> Germo, sekian waktu kemudian –> tidak diketahui… tapi SUDAH tertulis?
oleh karena ia tidak mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan, hari ini dia mestinya mulai berpikir dan berusaha melepas atribut WTS-nya.
Kalau semua sudah tertulis, ibarat baik diketahui maupun tidak diketahui “akan terjadi seperti apa WTS ini dimasa depan” – Lalu apa pengaruhnya WTS ini mesti berpikir dan berusaha melepas profesinya ini ? Bukankah “tanpa berpikir dan berusaha”, toh takdir –biar bagaimanapun juga– akan terjadi ? (berjalan dengan pasti) –> sekalipun memang belon diketahui oleh manusia? Apa maksudnya kira-kira begitu pada pengertian takdir? Seperti pada ungkapan “manusia boleh berusaha, tapi Tuhan jua yang menentukan (dari sebelum manusia itu lahir) ” ??
Dari ungkapan diatas, menurut pendapat pribadi saya (berdasarkan contoh NKRI): manusia TIDAK BISA atau TIDAK PERLU berusaha, kalau Tuhan memang sudah menentukan takdir setiap arah langkah, gerak-gerik si manusia tersebut –> karena semua itu sudah tersurat.
Teh atau kopi, bukanlah sebuah pilihan –> karena seseorang akhirnya minum kopi –> itu adalah hasil dari takdir yang sudah ditentukan sebelum dia lahir. (teh atau kopi, bisa diganti dengan: terus berkecimpung atau lepas profesi WTS – bisa diganti dengan : kawin ama Betty atau Juleha, keluar rumah jam 8 pagi atau jam 8.30 pagi, dst dst).
Seseorang tidak perlu berpikir: rumah dikunci atau tidak dikunci –> karena dia tidak pernah tau takdirnya di masa berikutnya. TOH…dikunci ataupun tidak, kalo yang kemalingan sejak belon lahir emang sudah ditakdirkan disatronin rampok jam 11 malem PLUS si rampokpun ditakdirkan sebelum dia lahir untuk melakukan aksi pencurian jam 11 malem di rumah tersebut –> maka peristiwa tersebut pasti terjadi , karena si penghuni rumah ditakdirkan ngantuk pada jam 10 dan tertidur jam 10.30 malem – dan si perampok ditakdirkan naek taxi sehingga tiba jam 10.55, melaksanakan aksi pada 11 malem. Namun memang bagus juga, karena dengan demikian si penghuni rumah tidak akan pernah menyalahkan keteledorannya sendiri setelah kejadian tersebut terjadi: “duh kenapa bisa sampe lupa ya kunci pintu rumah?” –namun– dengan lapang dada: “sudahlah… itu emang takdir Tuhan sejak kita belum lahir didunia agar kita lupa kunci rumah”…. Sementara si maling tersenyum: “untung saya ditakdirkan naik taxi, kalo telat dikit mungkin si satpam pas lewat depan rumah tersebut”….
Mohon dirubah “alurnya” berdasarkan contoh tersebut kalo saya salah mengerti pada pengertian tentang takdir.
Salam.
__________________________________________________________________________________
__________________________________________________________________________________
__________________________________________________________________________________
__________________________________________________________________________________
KK
Bukan masalah molor/tidak di kabulkan, tapi kamu kan bilang bahwa “Tuhan mengulur waktu”. Belum di kabulkan ≠ di ulur2 bro….
Oke, BELUM DIKABULKAN. Dan itu bukan berarti TIDAK DIKABULKAN. Deal?
Sebenernya analogimu tidak pas untuk menggambarkan ke mahatahuan Tuhan, Saya bernafas adalah aktivitas yang berada dalam diri saya sendiri, sedang Tuhan dan manusia belum/bukanlah satu kesatuan. Bernafas tidaklah melibatkan kehendak bebas, tapi berjalan dengan sendirinya selama manusia hidup (normal).
Ya, benar, bernafas adalah aktifitas yang ada dalam diri kita, dan sadar atau tidak kita mengetahuinya. Analogi bernafas sudah pas kok menggambarkan kemaha-tahuan Tuhan. Tuhan maha kuasa, ia mengetahui hati dan pikiran setiap manusia. Dengan kekuasaannya itu, Dia mengetahui segala niat yang terbersit di hati para makhluknya.
Saya tidak memprotes Tuhan, tapi saya memprotes paham takdir versi kamu! Dan saya tidak membantah bahwa Tuhan bisa campur tangan kepada kehidupan manusia, tapi jangan terus ambil kesimpulan bahwa SEMUA kejadian di dunia didalangi oleh Tuhan.
Dan Tuhan tidak harus menciptakan keburukan agar kebaikan dikenal, karena perbuatan jahat/buruk bukanlah dari Tuhan, melainkan dari Iblis. .
Jadi, sebagai seorang penganut Kristen, mestinya kamu mengakui kejahatan orang-orang yang menyalib Yesus, yang kemudian dijadikan alasan sebagai penebusan dosa umatnya, itu (idenya) berasal dari iblis. Begitukah?
Dan yang pasti, manusia mengenal apa yang baik/benar adalah karena Firman Tuhan, bukan karena adanya yang buruk. Karena baik atau buruk adalah Tuhan penentunya.
Pada mulanya semua baik adanya, sampai saatnya Tuhan menentukan mana yang boleh dan mana yang tidak boleh, dan yang tidak boleh ini lalu di sebut buruk/jahat.
Itulah asal dari baik/buruk, jadi yang buruk/jahat tidaklah secara khusus di ciptakan, seperti pemahamanmu. Dan mengenal baik buruk tanpa kemampuan untuk berbuat baik adalah sia2 saja.
Jadi menurutmu kita mengenal baik dan buruk hanya dari Firman Tuhan saja? Di atas kamu menulis, “Tuhan yang menentukan”, bisakah kamu jelaskan apakah nilai baik dan buruk suatu perbuatan itu ditentukan sebelum atau sesudah perbuatan itu dilakukan? Dan apakah yang namanya “ditentukan” itu sama artinya dengan “ditakdirkan”? Oke, saya contohkan: Tuhan memerintahkan kita untuk selalu jujur dalam setiap ucapan, misalnya, bagaimana manusia bisa mengenal istilah jujur kalau belum pernah ada manusia yang berkata tidak jujur/dusta. Tuhan melarang zina dalam firmannya, bagaimana manusia mengenal istilah zina kalau sebelum firman itu turun, Tuhan tidak menentukan sebagian manusia untuk melakukan perbuatan itu. Cobalah tunjukkan Firman Tuhan mengenai keburukan manusia yang ketika firman itu diturunkan, keburukan tersebut belum pernah ada? Kamu memang boleh menuding iblis karena memang iblislah dalang dari segala keburukan, tapi siapa gerangan yang menciptakan iblis?
Dan kamu juga gak konsisten, di depan kamu bilang bahwa “WTS itu tahu takdirnya ketika menjalaninya”, terus akhirnya bilang itu hanya Tuhan yang tahu…
Nggak konsisten bagaimana, maksudmu? Hari ini si WTS minggat dari lokalisasi, ia sedang menjalani bagian dari takdirnya, yaitu minggat dari lokalisasi. Ia tidak mengetahui apa yang akan terjadi di hari esok, karena itu adalah rahasia Tuhan. Lalu, besoknya, si WTS ketabrak mobil, masuk rumah sakit, dan si penabrak ternyata seorang duda keren dan baik hati, maka hari itu juga si WTS mengetahui bahwa ia memang ditakdirkan ketabrak oleh seorang duda, namun ia tidak mengetahui apa yang terjadi besok, dan itu masih berupa rahasia Tuhan. Besoknya lagi, sang WTS sembuh dan diajak si duda menjumpai keluarganya, ketika si duda menyatakan niatnya menikahi (bekas) WTS itu, maka hari itu juga si WTS mengetahui bagian dari takdirnya, yaitu dilamar seorang duda. Tapi, lagi-lagi dia nggak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, karena itu (lagi-lagi) masih rahasia Tuhan. Besoknya… besoknya…, besoknya dan besoknya…, huwaaaaaaa… masih nggak faham juga, ya?
Sudah saya bilang takdir itu adalah penetapan Tuhan mengenai seluruh perjalanan hidupnya, meliputi hari yang lalu, hari ini dan hari-hari yang akan datang.
Pemahaman seperti kamu ini yang kemudian membawa kesimpulan bahwa orang-orang yang akhirnya masuk neraka adalah karena sudah takdir. Orang yang matinya sebagai koruptor adalah takdir dari Tuhan.
Ya, iyalah, hehehe… Bahkan saya meyakini Tuhan sudah memiliki daftar orang-orang yang akan menjadi penghuni neraka, loh. Lha, kalau Dia tidak mengetahuinya, berarti Dia nggak Maha Tahu, dong? Oke deh, karena masalah takdir ini erat kaitannya dengan tujuan diciptakannya segala sesuatu (termasuk manusia), maka biar kagak OOT, mari kita bahas dulu soal tujuan diciptakan manusia. APA TUJUAN MANUSIA DICIPTAKAN?
Buat apa Tuhan repot mengutus nabi-nabi kalau semua sudah tertulis di skenarioNya? Buat apa Tuhan melarang ini dan itu kalau perjalanan hidup manusia sudah di gariskan? Apa Tuhan menurut kamu sedang bersenda gurau?
Mudah-mudahan bisa saya jelaskan di bawah quota-quota dari Om Oda ini:
Maap… nyelak respondnya. Jadi maksudnya, Tuhan sudah “merancang” ketetapan takdirNYA, kira-kira begitu, ya ? Misal: Tuhan merancang takdir untuk NKRI: pada tahun sekian dijajah oleh anu sekian lama, lalu oleh anu sekian lama, dan Tuhan personally merancang Indo proklamasi di 17/8/45, dst dst .. kesemuanya itu melibatkan pula rancangan/rencana takdir Tuhan yang ditetapkan pada tgl sekian untuk Suharto adalah yang Dia tetapkan untuk proklamasi, dst dst, lalu Tuhan menetapkan setiap mahasiswa untuk berdemo, karena rancangan pada Suharto – dia terguling karena demo mahasiswa, dst dst ??
Memang ada firman yang menyatakan bahwa: Tuhan tidak mengubah suatu kaum sebelum kaum itu mengubahnya sendiri. Ini bukan berarti perubahahan yang dilakukan oleh kaum tersebut terlepas dari kehendak serta kemaha-tahuanNya. Perjalanan hidup ini sudah tertulis dalam al-Lauhul mahfuzh (kitab tempat penulisan semua takdir serta ketetentuan-Nya kepada seluruh mahkluk-Nya). Adapun ayat di atas itu adalah semacam motivasi agar kaum manusia tidak beputus asa untuk berusaha mengubah keadaannya, karena meskipun masa depannya sudah ditakdirkan, mereka tidak mengetahui takdirnya nanti seperti apa.
Sementara ini, saya belon terpikir “bagaimana cara kerja Tuhan”. Sementara ini, menurut saya – hukum kosmik memang sudah meliputi sebab-akibat, baik-jahat, positip-negatip.
Jadi maksudnya sudah “tertulis/tersurat/ditakdirkan, pada tahun menit detik sekian –> WTS, lalu sekian waktu berikutnya –> Germo, sekian waktu kemudian –> tidak diketahui… tapi SUDAH tertulis.
Iya, seperti yang sudah saya bilang, takdir itu meliputi semua perjalanan hidup manusia, termasuk hukum kosmik yang kamu sodorkan itu. Tuhan merancang kemerdekaan negeri ini lengkap dengan siapa-siapa saja yang berperan di sana, serta sebab hukum akibatnya.
Kalau semua sudah tertulis, ibarat baik diketahui maupun tidak diketahui “akan terjadi seperti apa WTS ini di imasa depan” – Lalu apa pengaruhnya WTS ini mesti berpikir dan berusaha melepas profesinya ini ? Bukankah “tanpa berpikir dan berusaha”, toh takdir –biar bagaimanapun juga– akan terjadi ? (berjalan dengan pasti) –> sekalipun memang belon diketahui oleh manusia ? Apa maksudnya kira-kira begitu pada pengertian takdir? seperti pada ungkapan “manusia boleh berusaha, tapi Tuhan jua yang menentukan (dari sebelum manusia itu lahir)”??
Yap, seandainya ada WTS yang berpikir seperti itu, tak perlulah juga ia repot-repot menjadi WTS segala. Cukup ia menjalani hidup apa adanya, mau jadi gelandangan, kek, mau tidur di emperan, kek, bukankah semuanya sudah ditakdirkan? Tapi kenyataannya tidak begitu, kan? Sama halnya dengan ketika sang WTS mengetahui bahwa suatu hari nanti ia pasti mati, kenapa pula dia harus jadi WTS untuk berusaha menafkahi hidupnya?
Dari ungkapan di atas, menurut pendapat pribadi saya (berdasarkan contoh NKRI) : manusia TIDAK BISA atau TIDAK PERLU berusaha, kalo Tuhan memang sudah menentukan takdir setiap arah langkah, gerak-gerik si manusia tersebut –> karena semua itu sudah tersurat.
teh atau kopi, bukanlah sebuah pilihan –> karena seseorang akhirnya minum kopi –> itu adalah hasil dari takdir yang sudah ditentukan sebelum dia lahir. (teh atau kopi, bisa diganti dengan : terus berkecimpung atau lepas profesi WTS – bisa diganti dengan : kawin ama Betty atau Juleha, keluar rumah jam 8 pagi atau jam 8.30 pagi, dst dst).
Manusia diberi akal pikiran untuk mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk. Meskipun takdir sudah ditetapkan, dengan akalnya manusia dituntun untuk melakukan hal terbaik bagi masa depan yang tak diketahuinya (contohnya berusaha). Orang yang mengatakan tidak perlu berusaha karena sudah ditakdirkan, maka ia tidak menggunakan akalnya dengan baik, mungkin otaknya kongslet, atau mungkin juga soak, hehehe…
Bagaimana supaya akal pikiran manusia tidak kongslet, tidak soak dan tidak melenceng dari kebaikan, maka otak pun harus diberi wejangan. Tuhan merancang diturunkannya nabi-nabi serta kitab suci (ini jawaban untuk pertanyaan Om SM tentang kenapa nabi-nabi diturunkan), dan dengan adanya kitab suci itu, manusia dituntun untuk selalu melakukan kebaikan (contohnya berusaha) dan meninggalkan kemaksiatan (contohnya menjadi WTS).
Seseorang tidak perlu berpikir: rumah dikunci atau tidak dikunci –> karena dia tidak pernah tau takdirnya di masa berikutnya. TOH….dikunci ataupun tidak, kalo yang kemalingan sejak belon lahir emang sudah ditakdirkan disatronin rampok jam 11 malem PLUS si rampokpun ditakdirkan sebelum dia lahir untuk melakukan aksi pencurian jam 11 malem di rumah tersebut –> maka peristiwa tersebut pasti terjadi , karena si penghuni rumah ditakdirkan ngantuk pada jam 10 dan tertidur jam 10.30 malem – dan si perampok ditakdirkan naek taxi sehingga tiba jam 10.55, melaksanakan aksi pada 11 malem. Namun memang bagus juga, karena dengan demikian sipenghunii rumah tidak akan pernah menyalahkan keteledorannya sendiri… setelah kejadian tersebut terjadi : “duh kenapa bisa ampe lupa ya kunci pintu rumah ?” –namun– dengan lapang dada… “sudahlah… itu emang takdir Tuhan sejak kita belum lahir didunia agar kita lupa kunci rumah”…. Sementara si maling tersenyum : “untung saya ditakdirkan naik taxi, kalo telat dikit mungkin si satpam pas lewat depan rumah tersebut”….
Mohon dirubah “alurnya” berdasarkan contoh tersebut kalo saya salah mengerti pada pengertian tentang takdir.
salam.
Dengan akal pula, manusia akan dituntun untuk meninggalkan sifat keteledoran (contohnya: kisah orang yang kemalingan di atas).
Takdir itu erat kaitannya dengan tujuan diciptakannya segala sesuatu. Mengapa Tuhan merancang keburukan? Karena adanya ‘keburukan’ itu sejatinya untuk mengenalkan ‘kebaikan’ pada manusia, dan agar manusia mengenal Tuhannya yang maha baik, dan dengan akalnya ia dituntun untuk melakukan kebaikan. Kenapa Tuhan menciptakan pengekangan (penjajahan)? Agar manusia mengenal kebebasan, dan dengan akalnya manusia dituntun untuk berjuang. Adalah tak wajar ketika kita melihat orang hendak menusukkan bara api ke tubuh kita, kita hanya diam saja, dan kemudian mengambing-hitamkan tindakan diamnya itu sebagai takdir. Demikian juga, adalah tak wajar para pejuang sejati NKRI diam saja atas derita penjajahan, dan menyalahkan takdir atas sikap diamnya.
__________________________________________________________________________________
__________________________________________________________________________________
__________________________________________________________________________________
__________________________________________________________________________________
ODA
Iya, seperti yang sudah saya bilang, takdir itu meliputi semua perjalanan hidup manusia, termasuk hukum kosmik yang kamu sodorkan itu.
Di posting sebelomnya, saya pribadi “anggep” bahwa ini sebutannya adalah takdir manusia … , cumaaa… pada quote yang di bawah ini saya beda pendapat/pengertian :
Tuhan merancang kemerdekaan negeri ini lengkap dengan siapa-siapa saja yang berperan di sana, serta sebab hukum akibatnya.
Kalo saya mengertikannya, Tuhan nggak merancang “para pemainnya”, jadi cukup kosmik (sebab-akibat) serta ranah “ketentuanNYA” – yang berperan pada kehidupan manusia sehari hari.
manusia diberi akal pikiran untuk mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk. Meskipun takdir sudah ditetapkan, dengan akalnya manusia dituntun untuk melakukan hal terbaik (contohnya berusaha).
Jadi secara ungkapan, ya bener yang saya posting sebelumnya tentang “manusia boleh berusaha – Tuhan jua yang menentukan” ?? Susahnya, ungkapan tersebut memang kebanyakan sudah terpatri pada tiap-tiap diri seseorang, termasuk saya …. tapi kalo saya teliti lagi, perasaan kok ungkapan tersebut keliatannya kurang tepat yaa ??
Misalnya begini: peristiwa kemalingan sudah terjadi…. PADAHAL si tuan rumah sudah berusaha dan selalu tidak pernah lupa untuk mengunci pintunya, serta menjadikan rumahnya bak penjara (penuh teralis besi). Pertanyaannya: apa bener, Tuhan merancang “para pemain” dalam peristiwa kemalingan tersebut? (para pemain adalah : tuan rumah, maling, supir taxi, dst dst) –> AGAR tuan rumah tidur jam 10, AGAR maling bisa tau lewat jebol eternit baru bisa berhasil, AGAR supir taxi lewat di depan maling saat menuju ke tempat rampokan, dst dst). **kata AGAR = ditentukan/ditakdirkan Tuhan. apa bener Tuhan personally merancang/menentukan begitu sebelum mereka pada lahir ? TIDAKKAH, sebab tuan rumah cape kerja akibatnya tidur jam 10 ? TIDAKKAH, sebab maling mempelajari kondisi rumah, akibatnya dia tau mesti lewat eternit ? TIDAKKAH, sebab supir ngejar setoran, akibatnya taxi lewat di depan maling ?
Maka, yang cocok menurut saya adalah ungkapan “manusia boleh berusaha, kosmik yang menentukan”…. Mohon sanggahannya kalo ada …
Adalah tak wajar ketika kita melihat orang hendak menusukkan bara api ke tubuh kita, kita hanya diam saja, dan kemudian mengambing-hitamkan tindakan diamnya itu sebagai takdir.
Saya masih “mikir muter” tentang quote di atas…
Kronologi menit ke-1: kalo mr.X itu diem saja DAN ternyata si penusuk gak bisa nyundut bara api tersebut karena matanya “stereo”misalnya –> maka “segera” dibenak mr.X : “Tuhan, Engkau sudah mentakdirkan saya agar TIDAK kesundut bara”. (tidak mustahil mr.X diem saja, kalo si penusuk adalah orang yang sangat dicintainya).
Menit ke2: si penusuk –nyadar– sasarannya gak kena, kembali membidik bara tersebut ke dada mr.X — sementara mr.X karena sudah yakin takdirnya adalah tidak kesundut bara karena kejadian pada menit ke1 — kembali tidak bergeming untuk yang kedua kalinya…. DAN ternyata ini kali tusukan mengenai dada mr.X –> kira-kira kalimat apa yang ada di benak mr.X setelah kejadian ini, ya ?
Apakah di sini maksudnya takdir berubah-rubah pada timeline manusia yang terjadi ?
menit ke-1 Tuhan menetapkan gak kena – menit ke-2 Tuhan menetapkan kena. Nah, di sinilah yang saya pribadi “anggep dan menyebutnya” hal demikian, saya mengertikan sebagai takdir manusia. (seperti yang sudah kemukakan pada post2 saya sebelumnya) –> takdir yang saling berketergantungan dengan kosmik, para pemain, sebab-akibat.
Sementara yang namanya Takdir Tuhan – saya mengertikan hanya pada kematian (napas hidup), dimana tidak ada APAPUN yang bisa mempengaruhinya, baik usaha manusia yang berpedoman ajaran-ajaran, pemeran-pemeran lain, maupun waktu detik yang berjalan. MUTLAK.
Dengan percayanya pada Takdir Tuhan, maka seseorang bisa nyadar agar jangan sombong. Seseorang bisa berhasil, itu cuma gara-gara Tuhan masih kasih napas kepada dia. Gak ada napas, dia gak bisa ngapa-ngapain, harta dikejar banyak-banyak – dalam sekejap napas dicabut, semua gak ada artinya. Jadi, berterimakasih karena masih hidup – belon dicabut napasnya … (apapun kondisinya : miskin/cukup, menderita/bahagia, sedih/senang, ditipu/menipu , dsb)
Miskin menderita sedih –> berterimakasih karena dikuatkan/di-teduhin/di”cep cep”in NYA.
Cukup bahagia senang –> berterimakasih karena dapet bonus dariNYA. hehehe.
salam.
__________________________________________________________________________________
__________________________________________________________________________________
__________________________________________________________________________________
__________________________________________________________________________________
KK
Kalo saya mengertikannya, Tuhan nggak merancang “para pemainnya”, jadi cukup kosmik (sebab-akibat) serta ranah “ketentuanNYA” – yang berperan pada kehidupan manusia sehari hari.
Maksud saya mengatakan bahwa hukum sebab akibat itu bagian dari takdir adalah begini: takdir seseorang itu tidak terlepas dan berkaitan dengan takdir-takdir manusia lainnya. Jadi, pendapatmu bahwa ”Tuhan nggak merancang para pemainnya” menurut pemahaman saya itu malah menyesatkan. Tuhan tidak akan mentakdirkan seseorang melakukan pencurian, jika tak ada manusia yang ditakdirkan barangnya kemalingan. Tuhan tak akan mentakdirkan seseorang menusukkan bara api ke dada manusia, jika tak ada manusia yang ditakdirkan dadanya ditusuk bara api. Tuhan mentakdirkan seseorang menjadi dokter tidak asal ‘sim salabim’ langsung jadi dokter, melainkan harus melalui proses serta adanya hukum kosmik. Tuhan merancang siapa-siapa saja yang berperan menjadikan/memengaruhi dia menjadi seorang dokter, misalnya; Tuhan mentakdirkan Mr. B sebagai guru/dosennya, Mr. C sebagai pemberi dana, Mr. D sebagai atasannya dan Mr. E sebagai pasiennya.
Jadi secara ungkapan, ya bener yang saya posting sebelumnya tentang “manusia boleh berusaha – Tuhan jua yang menentukan” ??
”Manusia berusaha, Tuhanlah yang menentukan hasilnya” ungkapan itu benar adanya. Dan kamu coba membantah bahwa ”Manusia berusaha, hukum kosmik menentukan segalanya”, itu tak salah juga. Siapa gerangan yang mengatur hukum kosmik? Jawab: Tuhan. Siapa dan apa yang berperan dalam hukum kosmik? Jawab: segala sesuatu, dari yang hidup sampai yang tak hidup, dari perbuatan sampai niat yang timbul dalam hati. Lalu, siapakah pencipta segala sesuatu itu? Tak lain dan tak bukan adalah Allah. Tuhan yang maha Kuasa. Atau, kalau mau di-manusia sentris-kan (meskipun tidak dibenarkan) yang berperan dalam hukum kosmik adalah manusia. Siapa yang mentakdirkan manusia menjalani hukum kosmik? jawab: Tuhan. Nah, walau bagaimana pun, semua jawabannya akan kembali pada Tuhan. Jadi, mengapa kamu membantah dengan hukum kosmik, sementara dirimu tahu bahwa segala sesuatu (termasuk hukum kosmik itu) adalah ciptaan Tuhan? Itu yang saya nggak mengerti. Entahlah jika kamu merasa perlu membantah bahwa Tuhan tidak menciptakan segala sesuatu. Semoga saja tidak. Tuhan menciptakan segala sesuatu. Jadi, apakah ada yang tersisa dari segala sesuatu itu? nothing…’
Peristiwa kemalingan sudah terjadi…. PADAHAL si tuan rumah sudah berusaha dan selalu tidak pernah lupa untuk mengunci pintunya, serta menjadikan rumahnya bak penjara (penuh teralis besi). pertanyaannya : apa bener, Tuhan merancang “para pemain” dalam peristiwa kemalingan tersebut ? (para pemain adalah : tuan rumah, maling, supir taxi, dst dst) –> AGAR tuan rumah tidur jam 10, AGAR maling bisa tau lewat jebol eternit baru bisa berhasil, AGAR supir taxi lewat didepan maling saat menuju ketempat rampokan, dst dst). **kata AGAR = ditentukan/ditakdirkan Tuhan.apa bener Tuhan personally merancang/menentukan begitu sebelum mereka pada lahir ? TIDAKKAH, sebab tuan rumah cape kerja akibatnya tidur jam 10 ? TIDAKKAH, sebab maling mempelajari kondisi rumah, akibatnya dia tau mesti lewat eternit ? TIDAKKAH, sebab supir ngejar setoran, akibatnya taxi lewat didepan maling ?
maka, yang cocok menurut saya adalah ungkapan “manusia boleh berusaha, kosmik yang menentukan”….
Tuan rumah mengantuk pada jam 10 malam, Tuhanlah yang mengendalikannya. Hukum kosmiknya adalah capek? Rasa capek ini pemberian Tuhan, dalam rangka menjalankan hukum kosmik: seseorang mau tidak mau akan harus istirahat setelah bekerja dari pagi sampai petang. Pencuri mempelajari kondisi rumah, Tuhanlah yang mengendalikan pikirannya. Tuhan juga yang memberinya hasrat untuk mencuri. Atau, mungkin si pencuri kesulitan dalam ekonomi, dan Tuhan pula yang mengendalikan keadaan ekonomi orang itu. Begitu juga dengan kehendak mengejar setoran yang dimiliki supir taksi, Tuhanlah yang mengendalikan. Jika Tuhan tidak mengendalikan, apa artinya Tuhan memiliki gelar Maha Kuasa dan Maha Tahu? Seseorang akan melakukan pencurian, Tuhan pastinya sudah mengetahui sebelum tindakan itu terjadi. Jadi, apa bedanya Tuhan mengetahui dengan Tuhan mentakdirkan?
Mungkin kamu akan bertanya, untuk apa Tuhan mengendalikan seseorang berbuat mencuri? Jawabannya sudah diposting kemarin, bahwa dengan adanya tindak ‘kejahatan’ manusia justru bisa mengenal/memahami/memaknai ‘kebaikan’. Rumah kita dibobol maling, itu adalah ujian kesabaran yang membuahkan kebaikan. Anehnya, dengan mengatakan bahwa ”kejahatan” bukan ciptaan/kehendak Tuhan, orang Kristen umumnya menolak bahwa penebusan dosa berawal dari KEJAHATAN manusia yang ditimpakan kepada YESUS
saya masih “mikir muter” tentang quote diatas…
kronologi menit ke-1: kalo mr.X itu diem saja DAN ternyata sipenusuk gak bisa nyundut bara api tersebut karena matanya “stereo”misalnya –> maka “segera” dibenak mr.X: “Tuhan, Engkau sudah mentakdirkan saya agar TIDAK kesundut bara”. (tidak mustahil mr.X diem saja, kalo si penusuk adalah orang yang sangat dicintainya).
menit ke-2: si penusuk –nyadar– sasarannya gak kena, kembali membidik bara tersebut ke dada mr.X — sementara mr.X karena sudah yakin takdirnya adalah tidak kesundut bara karena kejadian pada menit ke-1– kembali tidak bergeming untuk yang kedua kalinya…. DAN ternyata ini kali tusukan mengenai dada mr.X –> kira-kira kalimat apa yang ada di benak mr.X setelah kejadian ini, ya ?
Apakah di sini maksudnya takdir berubah-rubah pada timeline manusia yang terjadi ?
menit ke-1 Tuhan menetapkan gak kena – menit ke-2 Tuhan menetapkan kena. Nah di sinilah yang saya pribadi “anggep dan menyebutnya” hal demikian, saya mengertikan sebagai takdir manusia. (seperti yang sudah kemukakan pada post-post saya sebelumnya) –> takdir yang saling berketergantungan dengan kosmik, para pemain, sebab-akibat.
Saya pernah baca sebuah perumpamaan mengenai takdir, mudah-mudahan saya bisa jelaskan meski memang sulit banget menjelaskannya, hehe…. Ibaratnya kita ini sedang bergantung pada seutas tali, dan kita tidak tahu kapan tali itu akan putus. Tali itu saya coba cocokkan ke (1) nyawa manusia: jika tali putus, maka nyawa melayang, dan (2) pekerjaan/bisnis: jika tali putus, maka bisnis kita (bisnis yang dibangun secara turun temurun, misalnya) bangkrut.
Oleh karena kita tidak mengetahui kapan tali itu akan putus (kata ‘putus’ ini adalah sebuah kepastian), maka kita dengan akal dan segenap kemampuan akan berusaha menyervis tali itu. (yeah, ini sebuah perumpaan, anggaplah tali itu bisa kita servis, hehe…)
Nah, pengibaratan menyervis tali itu bolehlah dicocokan dengan:
(1) kita mestinya menjaga diri kita dari kecelakaan, seperti menghindari berhubungan dengan pembunuh, menghindari makanan yang bisa membawa penyakit, dll.
(2) pengusaha yang baik, dengan akal dan segenap kemampuannya, akan selalu berusaha, berinovasi dan rajin mengevaluasi kondisi bisnisnya.
Bagaimana supaya akal bekerja? Tuhan pun menciptakan hukum kosmik; ada orang miskin karena tak bekerja, lalu ia melakukan pencurian; ada orang sakit karena tertular penyakit, lalu ia menularkan penyakitnya pada orang lain; dsb, dsb. Dengan memerhatikan hukum kosmik, maka akal pun bekerja. Dan, bagaimana caranya agar cara kerja akal ini bisa selaras tujuan Tuhan? Maka diturunkanlah agama. Dan siapa pun tahu bahwa agama selalu menganjurkan umatnya untuk giat berusaha.
Lalu, sebagian kita akan berkata: ”seandainya, kalau saja, misalnya Tuhan mentakdirkan tali ini putus hari ini, jadi untuk apa aku berusaha menyervisnya” Saya harap kamu bisa cocokkan sendiri perumpamaan di atas dengan masalah nyawa serta usaha. Yap, orang seperti itu tidak menggunakan akalnya dengan baik. Dia tidak mau menuruti saran yang dianjurkan agamanya untuk jangan berputus asa, jangan mendahului kehendak Tuhan, jangan berprasangka buruk, jangan menganiaya diri sendiri, dsb dsb. Dengan kata lain, orang demikian “kalah sebelum bertempur”.
Kemudian timbul pertanyaan lagi: bukankah pikiran manusia itu dikendalikan Tuhan, dan termasuk bagian dari takdir? Jadi, apakah benar orang yang berputus asa itu sudah ditakdirkan dari sananya bahwa hari ini ia akan berputus asa? Iya, benar. Dengan kata lain: Tuhan mentakdirkan sebagian manusia tidak menggunakan akalnya dengan baik. Atau, dengan kata lain: Tuhan mengunci pikiran mereka dari kebenaran. Dalam al-Quran ada ayat yang menyitir orang-orang seperti itu. Sayang banget, peraturan di forum ini tidak membolehkan kita mengutip ayat dari kitab suci al-Quran.
Untuk apa Tuhan mengunci sebagian manusia dari kebenaran? itu pelajaran bagi orang yang berpikir (menggunakan akalnya dengan baik). Coba bayangkan, bagaimana kita mengenal ‘cara menggunakan akal dengan baik’ tanpa diciptakan adanya orang-orang yang tidak menggunakan akalnya dengan baik? Lagi-lagi, ini pun menyangkut hukum kosmik yang kamu sebut, dan itu semua berangkat dari Tuhan. Maka bersyukurlah orang-orang yang (ditakdirkan) menggunakan akalnya dengan baik.
Demikian, Om Oda, harap disanggah pula kalau memang ada yang perlu disanggah.
Sementara yang namanya Takdir Tuhan – saya mengertikan hanya pada kematian (napas hidup), dimana tidak ada APAPUN yang bisa mempengaruhinya, baik usaha manusia yang berpedoman ajaran-ajaran, pemeran-peearan lain, maupun waktu detik yang berjalan. MUTLAK.
Dalam soal kematian kamu justru percaya bahwa itu adalah takdir Tuhan. Saya bingung, kok bisa bertentangan, ya? Bukankah kematian manusia juga melibatkan hukum kosmik? Tolong jelaskan, Om.
__________________________________________________________________________________
__________________________________________________________________________________
__________________________________________________________________________________
__________________________________________________________________________________
ODA
Dalam soal kematian kamu justru percaya bahwa itu adalah takdir Tuhan. Saya bingung, kok bisa bertentangan, ya? Bukankah kematian manusia juga melibatkan hukum kosmik? Tolong jelaskan, Om
Untuk “napas hidup” – menurut saya gak tergantung hukum kosmik. Misalnya, bayi lahir lahir cacat parah (karena hukum kosmik) – namun bernapas. Seseorang yang sehat secara klinis, tiba-tiba mati –> hasil otopsi pun tidak diketahui penyebabnya. Seseorang yang sudah berpenyakit parah – koma, tinggal tunggu kematian –> sembuh total. Saya perhatikan di situ, baik si subjek – maupun pemeran-pemeran lain (dalam hal ini dokter – keluarga dsb) dan juga termasuk timeline –> tidak berperan sama sekali dalam contoh-contoh di atas.
Titik awal (lahir dan bernapas) dan titik akhir (mati) pada kehidupan seseorang adalah MUTLAK kehendakNYA.
Hukum kosmik gak bisa berlaku: klinis para dokter seahli apapun secanggih apapun usaha mereka, kalo memang pasien harus mati di satu titik waktu – ya pasti mati. Hukum kosmik gak bisa berlaku: klinis para dokter seahli apapun yang sudah angkat tangan –> pasien mati dalam waktu dekat”, keluarga sudah pasrah (artinya sudah tidak ada usaha apa-apa lagi), kalo Tuhan emang belon mao cabut nyawa si pasien – maka pasien bisa hidup panjang bahkan sembuh sehat total.
Dari contoh-contoh tersebut, saya gak bisa mengajukan pertanyaan dengan kalimat pembuka “tidakkah”… (tentu “tidakkah” yang di dalam alur maksud saya, bukan yang di luar alur – seperti “tidakkah waktu operasi gara2 listrik lampu tiba2 padam ?” hehehe). Saya perhatikan juga di sini: bahkan WALAU pasien akhirnya bisa hidup (yang tadinya diklinis nol harapan namun masih dilakukan usaha2 penyelamatan oleh para ahli) …. itu semua BUKAN hanya karena para ahli – tetapi karena Tuhan yang emang belon mau berkehendak cabut napas si pasien saat itu. (jadi jangan sombong tuh ya… para dokter dan ahli…. ).
Begitu menurut pengertian Oom, dik …
Siapa gerangan yang mengatur hukum kosmik? Jawab: Tuhan. Siapa dan apa yang berperan dalam hukum kosmik? Jawab: segala sesuatu, dari yang hidup sampai yang tak hidup, dari perbuatan sampai niat yang timbul dalam hati. Lalu, siapakah pencipta segala sesuatu itu? Tak lain dan tak bukan adalah Allah. Tuhan yang maha Kuasa. Atau, kalau mau di-manusia sentris-kan (meskipun tidak dibenarkan) yang berperan dalam hukum kosmik adalah manusia. Siapa yang mentakdirkan manusia menjalani hukum kosmik? jawab: Tuhan. Nah, walau bagaimana pun, semua jawabannya akan kembali pada Tuhan.
Sebenernya pengertian saya pada cara kerja Tuhan pada kehidupan sehari-hari manusia itu sederhana aja –> ibarat cara ortu membesarkan anak:
kosmik: sebab-akibat, positip-negatip, time-space-matter exist. Kehendak manusia turut berperan. (kehendak yang bukan hasil skenario Tuhan). Ortu yang baik mengarahkan, membimbing, melarang, menasehati anak agar “tetap di alur”. Anak yang baik turut kata wejangan ortu dan vice versa.
Saya gak menyalahkan kalo menurutmu :
Tuhan tidak akan mentakdirkan seseorang melakukan pencurian, jika tak ada manusia yang ditakdirkan barangnya kemalingan. Tuhan tak akan mentakdirkan seseorang menusukkan bara api ke dada manusia, jika tak ada manusia yang ditakdirkan dadanya ditusuk bara api
Namun pada pengertian saya yang berangkat pada “ortu yang baik” –> maka Allah itu baik, dimana ortu yang baik tidak akan merencanakan (menyusun skenario dengan memakai pemeran-pemeran lain) agar terjadi kecelakaan menimpa anaknya.
Saya mengertikan di bawah ini sebagai contoh : bukan ortu yang baik.
(sementara ortu sudah merancang pada hari Rabu pk 10.00, dengan memakai si A B C D untuk menyrempet anaknya saat bepergian agar terjadi kecelakaan pada si anak), hari Rabu pk 9.40 menyuruh anaknya untuk pergi dengan sepeda motor. (walopun saat itu anak sedang buat PR, ortu dengan otoriter memaksa anaknya agar berangkat keluar rumah tepat pk 9.50)… saat sang anak akan keluar:
ORTU : hati-hati ya nak, jangan kebut-kebutan… berhati-hatilah mengendarai sepeda motor.
ANAK : iya bu, saya akan hati2 dan waspada.
Maka karena semua memang sudah ortu rencanakan, maka kecelakaanpun terjadi pada pk 10.00
Terus terang saya gak bisa mengertikan contoh di atas adalah contoh ortu yang baik.
Dan kalo saya “memaksakan” pengertian dari rencana/kehendak tersebut adalah contoh ortu yang baik = contoh Tuhan yang baik – maka timbul keanehan-keanehan dalam pengertian saya pribadi tentang “cara kerja Tuhan”… hehehe. (bukan maksud mao protes kepadaNYA loh…cumaaa,,, “kok aneh ya…” ).
salam
Tali itu saya coba cocokkan ke (1) nyawa manusia: jika tali putus, maka nyawa melayang. dan (2) pekerjaan/bisnis: jika tali putus, maka bisnis kita (bisnis yang dibangun secara turun temurun, misalnya) bangkrut.
Buat saya, tidak bisa diterapkan pada nomor 2… , karena :
Kita tidak mengetahui kapan tali itu akan putus (kata ‘putus’ ini adalah sebuah kepastian), maka kita dengan akal dan segenap kemampuan akan berusaha menyervis tali itu.
Tali putus pada nomor 2 terletak pada timeline hidup manusia. Jadi bisa putus berkali kali dan disambung lagi berkali kali. (ada orang bangkrut –> tali putus, lalu bisa bangkit –> tali nyambung, tetapi sekali lagi bangkrut karena ditipu –> tali putus lagi, dst dst).
pada nomor 1, nyawa manusia – sudah jelas, gak mungkin ada “tali nyambung” lagi. Sekali putus, bubarlah segalanya. Sia-sia lah manusia numpuk kekayaan bagi diri sendiri. (kecuali buat anak istri kali yeee …hehehe).
Lalu, sebagian kita akan berkata: ”seandainya, kalau saja, misalnya Tuhan mentakdirkan tali ini putus hari ini, jadi untuk apa aku berusaha menyervisnya”. Saya harap kamu bisa cocokkan sendiri perumpamaan di atas dengan masalah nyawa serta usaha
Loh… kan emang udah saya akuin… KHUSUS untuk tentang nyawa, saya emang percaya Takdir Tuhan yang MUTLAK tersebut (tidak akan berubah-rubah setelah mencapai titik akhir hidup seseorang)…. sedangkan peristiwa pada kehidupan, saya mengertikan juga takdir … dengan sebutan takdir manusia… karena berubah-rubah dan terkait dengan hukum kosmik.
Pada takdir manusia, DENGAN bimbingan/kekuatan/manual/hiburan dari Tuhan manusia “diharapkan” mampu, baik bagaimana menjalani ataupun mengatasi takdir tersebut. Pengertian saya pada bimbingan/kekuatan/manual/hiburan di sini adalah LAW Tuhan yang sudah berlaku secara global dan tidak mungkin tidak diketahui oleh seseorang iman percaya. Jadi BUKAN Tuhan personally urus-urus setiap gerak-gerik tiap tiap manusia tiap detik dan waktu pada kehidupan dunia, namun tidak menutup kemungkinan secara personal pada orang-orang tertentu. (misal para nabi).
Sekali takdir Tuhan pada nyawa berlaku, maka tidak akan ada kelanjutannya lagi “ceritanya” pada kehidupan dunia. Bukankah jelas, sekali Takdir Tuhan itu terjadi – setelah lewat beberapa masa, manusia bisa seyakin-yakinnya menyatakan itulah Takdir Tuhan yang MUTLAK? Tanpa ada lagi perkataan: “dia tidak tahu takdir Tuhan berikutnya yang akan terjadi pada masa depan”.
“Tidak ada yang abadi di dunia” –> kalo ada ungkapan “roda kehidupan berputar” – saya lebih milih ini pada timeline dunia tiap saat detik dan waktu (circle of life, yang bukan karena di skenario perannya olehNYA pada tiap makhluk binatang maupun manusia).
Jadi, mengapa kamu membantah dengan hukum kosmik, sementara dirimu tahu bahwa segala sesuatu (termasuk hukum kosmik itu) adalah ciptaan Tuhan? itu yang saya nggak mengerti. Entahlah jika kamu merasa perlu membantah bahwa Tuhan tidak menciptakan segala sesuatu. Semoga saja tidak.
Begini pengertian saya…. ciee… Tuhan menciptakan segala sesuatu, ya mengerti dan sependapat. Tetapi pengertian saya pribadi, “menciptakan segala sesuatu” itu BUKAN otomatis berarti SEGALA SEMUA TIAP AKSI para pemerannya juga diciptakanNYA (ditentukan, ditakdirkan, diprogram, dirancang, diskenario, dsb).
Manusia diciptakan dengan panca indra –> maka menurut saya, mata tidak Tuhan takdirkan/ciptakan untuk melihat film keagamaan pk 20.00 – lalu Tuhan takdirkan untuk nonton film porno pk 22.00, dimana pk 24.00 setelah kejadian tersebut, saat saya mau berangkat tidur berpikir: misalnya “ah…Tuhan ada ada aja deh… saya sih gak protes, cuma aneh aja… mosok takdir saya setelah nontoh film agama, lalu lanjut nonton bf..? skrg mao tidur ditakdirin horniiii lagi.”
“Manual menggunakan mata”, sudah Dia kasih agar begimana yang semestinya.
Terciptanya kosmik : sebab-akibat, positif-negatif, baik-buruk dst –> menurut saya bukan otomatis berarti Tuhan merancang/mencipta/mengskenario alur sebab-akibat itu sendiri pada diri tiap pemeran sebelum mereka lahir. (ibarat contoh ortu ngerancang kecelakaan pada post sebelumnya), seperti post kamu dibawah ini :
Tuan rumah mengantuk pada jam 10 malam, Tuhanlah yang mengendalikannya. Hukum kosmiknya adalah capek? rasa capek ini pemberian Tuhan.
Saya akui, rasa capek adalah pemberian Tuhan, tetapi bukan berarti rasa capek itu diberikan/ditakdirkan/diskenario/Dia kehendaki terjadi pada jam sekian, detik dan waktu sekian selama manusia hidup – dengan sebelumnya mentakdirkan/menghendaki/diatur/ditetapkan dahulu supaya manusia ini kerja berat, agar nanti jadi cape.
“Manual bagaimana hidup dalam kosmik”, sudah Dia kasih agar begimana semestinya.
Manual adalah menjadi nisbi, kalau toh tanpa manua lpun semua memang pasti berjalan begimana semestinya… karena Dia telah rancang, takdirkan, program, kehendakin apa yang terjadi pada tiap diri manusia tiap detik tiap saat sebelum seseorang lahir.
Manual: “agar anda tidak cape, janganlah kerja berat-berat” = NISBI.
Karena toh, kerja berat itu sendiri emang bagian alur dari jalan cerita yang sudah di skenarioNYA.
Ini bagi saya aja loh … : “larangan makan buah” menjadi seperti sebuah lelucon…
yang mao gak mao saya akui, lagu ahmad albar panggung sandiwara jadi bisa memang cocok…hehehe. Namun saya tidak mengertikan “jangan makan buah” adalah sebuah lelucon, karena menurut saya – dunia ini BUKAN : panggung sandiwara, skenario tertulis, para makhluk pemeran nunut, Tuhan sutradara dan penulis cerita.
“jangan makan buah” suatu bentuk wujud kasihNYA –> “hey… kosmik yang Aku ciptain itu terdiri dari unsur baik-buruk loh…, hati-hati ngejalaninnya” — kira-kira begitu pengertian saya…
Maka bersyukurlah orang-orang yang (ditakdirkan) menggunakan akalnya dengan baik.
Apakah “bersyukur” tersebut cuma milik orang-orang yang menyadari dia ditakdirkan/ditentukan/dikehendaki olehNYA pada peran menggunakan akal dengan baik ?
Bagaimana dengan orang-orang yang menurut pengertian kamu ditakdirkan/dikasih peran/ditentukan/dikehendaki olehNYA lamban dalam menggunakan akal dengan baik ? Tidakkah merekapun wajib untuk tetap bersyukur ? seperti apa ungkapan rasa syukurnya ?
Boleh tanya pada contoh orang nonton film di atas: bagaimana ungkapan rasa bersyukurnya ?
(asal jangan dijawab “oh, kalo orang yang pernah nonton bf itu adalah orang yang gak berTuhan. jadi gak mungkin terucap rasa syukur, sekali pun dia nonton film agama sebelumnya, ).
ini cuma pengertian pribadi saya yang nonK loh… bukan Kekristenan …
Seperti yang saya pernah post sebelumnya, menurut saya sebetulnya dua-duanya pada beda pengertian tentang hal ini gak ada yang salah, selama masih dalam ranah iman percaya.
sekelompok orang suka akan duren dan bilang “hm….haruuuum”, kelompok lain gak suka duren dan bilang “uh.. bau !”. Apa ada yang bisa menyatakan bahwa duren itu, enak&harum ataukah gak-enak&bau ?
salam.
__________________________________________________________________________________
__________________________________________________________________________________
__________________________________________________________________________________
__________________________________________________________________________________
KK
Tali putus pada nomor 2 terletak pada timeline hidup manusia. Jadi bisa putus berkali kali dan disambung lagi berkali kali. (ada orang bangkrut –> tali putus, lalu bisa bangkit –> tali nyambung, tetapi sekali lagi bangkrut karena ditipu –> tali putus lagi, dst dst).
Memang iya, sih, perumpamaan tali kurang cocok dengan poin nomer 2. Tapi ketidak-cocokan itu tidak mengubah pengertian saya mengenai bagaimana cara pengusaha menyikapi kenyataan akan kebangkrutan bisnisnya, kan? Dan, memang di situlah pengertian yang hendak saya bahas/umpamakan.
Pada takdir manusia, DENGAN bimbingan/kekuatan/manual/hiburan dari Tuhan manusia “diharapkan” mampu, baik bagaimana menjalani ataupun mengatasi takdir tersebut. Pengertian saya pada bimbingan/kekuatan/manual/hiburan di sini adalah LAW Tuhan yang sudah berlaku secara global dan tidak mungkin tidak diketahui oleh seseorang iman percaya. Jadi BUKAN Tuhan personally urus-urus setiap gerak-gerik tiap tiap manusia tiap detik dan waktu pada kehidupan dunia, namun tidak menutup kemungkinan secara personal pada orang-orang tertentu. (misal para nabi).
Sekali takdir Tuhan pada nyawa berlaku, maka tidak akan ada kelanjutannya lagi “ceritanya” pada kehidupan dunia. Bukankah jelas, sekali Takdir Tuhan itu terjadi – setelah lewat beberapa masa, manusia bisa seyakin-yakinnya menyatakan itulah Takdir Tuhan yang MUTLAK? Tanpa ada lagi perkataan: “dia tidak tahu takdir Tuhan berikutnya yang akan terjadi pada masa depan”.
Jadi, menurutmu takdir itu ada dua, ya? Takdir Tuhan (kehendak Tuhan) dan takdir manusia (kehendak manusia)? Lalu, bagaimana kalau dua takdir versi kamu itu ‘beradu-kambing’, takdir siapa yang akan menang? Misalnya begini;
(1). Kelahiran adalah takdir Tuhan. Nah, ketika seorang ibu mengandung, Tuhan mentakdirkan bahwa si jabang bayi kelak akan lahir ke dunia, tapi ternyata si ibu mengalami keguguran karena kecelakaan tak disengaja (takdir manusia). Apakah ini berarti takdir Tuhan bisa dikalahkan oleh manusia?
(2) Tuhan mentakdirkan kelahiran seorang bayi manusia pada hari H, tapi si ibu pemilik rahim tidak menghendaki kehadiran anak itu, lantas dengan kejamnya dia melakukan aborsi (takdir manusia) beberapa bulan sebelum hari H. Oleh karena takdir Tuhan itu bersifat mutlak, apakah jabang bayi yang ‘disedot’ paksa dan dikubur di belakang klinik itu tiba-tiba bisa hidup?
(3) si A berniat membunuh si B, dan si A punya kesempatan yang tepat untuk merealisasikan niatnya (takdir manusia): malam-malam ia menyelinap ke rumah si B, dan mendapati si B sedang tertidur pulas. Tanpa banyak cing-cong, si A pun langsung memenggal kepala si B sampai putus. Jika sebelumnya Tuhan tidak mentakdirkan si B mati hari ini, apakah tiba-tiba itu kepala si B bisa langsung nyambung kembali? Ataukah mungkin hidupnya akan hijrah ke dunia hantu, dan akhirnya gentayangan ke rumah si B? Bener-bener tak masuk akal ini mah.
(4). Tuhan mentakdirkan Mr. D hidup empat tahun lagi, tapi Mr. D putus asa dan berniat bunuh diri dengan cara terjun dari jendela kamar hotel tingkat 10 (takdir manusia). Apakah Mr D akan tetap hidup meskipun kepalanya pecah remuk menimpa lantai.
Dan ini kebingungan saya; ketika saya disodori teh dan kopi, apakah sebelumnya Tuhan mengetahui apa yang akan saya pilih nanti? Dan apa hubungan kemaha-tahuan Tuhan dengan takdir-takdir manusia itu?
Tuhan menciptakan segala sesuatu, ya mengerti dan sependapat. Tetapi pengertian saya pribadi, “menciptakan segala sesuatu” itu BUKAN otomatis berarti SEGALA SEMUA TIAP AKSI para pemerannya juga diciptakanNYA (ditentukan, ditakdirkan, diprogram, dirancang, diskenario, dsb).
Dengan mengatakan bahwa setiap gerak-gerik kita terlepas dari kehendak Tuhan, justru itu malah membatasi pengertian Tuhan mengetahui segala sesuatu. Apa artinya Tuhan Maha Tahu kalau begitu? Tuhan menciptakan segala sesuatu, termasuk kebaikan dan keburukan. Apakah kamu berpikir nilai baik dan buruk itu datangnya murni dari aksi dan tingkah laku manusia? Ah, jangan ngawur atuh! Justru manusialah yang musti diberi tahu hal baik dan buruk itu. Bagaimana cara Tuhan mengajarkan kebaikan? Tentunya dengan menciptakan skenario keburukan, untuk diambil pelajaran bagi orang yang berpikir, dan kemudian Dia berfirman: ”jangan sekali-kali kamu lakukan perbuatan itu, karena perbuatan itu buruk di mata-Ku!”
Tuhan menciptakan segala sesuatu, termasuk rasa lapar dan kenyang. Jika Tuhan tidak menciptakan lapar, tidak ada aksi orang mencari nafkah, tidak ada aksi pencurian dari rumah ke rumah, tidak ada aksi penjajah merampas rempah-rempah, tidak ada aksi demo petani membakar gabah. Setiap perbuatan manusia didasari oleh ragam rasa yang dimìlikinya. Susah senang, sedih bahagia, suka dan benci, kesabaran dan ketidak-sabaran, adalah ciptaan Tuhan. Ah, tidak etis rasanya mengatakan bahwa perbuatan manusia di luar kehendak Tuhan, padahal bayi yang baru lahir saja, ketika disodori ASI sama ibunya, dia bisa langsung ngemut. Dan tak perlu si ibu teriak-teriak ”ayo, sedot! ayo, sedot!” hihihi…
Manusia diciptakan dengan panca indra –> maka menurut saya, mata tidak Tuhan takdirkan/ciptakan untuk melihat film keagamaan pk 20.00 – lalu Tuhan takdirkan untuk nonton film porno pk 22.00, dimana pk 24.00 setelah kejadian tersebut, saat saya mau berangkat tidur berpikir: misalnya…
Tuhan menganugrahi manusia sepasang mata, tentu tak ada gunanya kalau tidak disertai akal pikiran. Ketika seseorang menonton film asoy begituan usai menonton acara reliji, bukan matanya yang salah, tapi otaknya. Panca indera hanya sekadar alat, otaklah yang pekerja utamanya. Dan seperti sudah saya bilang di atas, salah satu gunanya otak adalah untuk menyensor baik dan buruk sesuatu, sementara baik dan buruk itu asalnya dari Tuhan. Bukankah Tuhan sudah mengingatkan bahwa mendekati zina itu perbuatan terlarang, mengapa kamu lakukan? Orang bisa menuding bahwa keinginannya menonton film asoy juga dikendalikan Tuhan, jadi kenapa Tuhan berbuat begitu? Jawabannya sudah saya tulis di postingan kemarin, yaitu tentang perumpamaan tali itu, dan mari kita mengibaratkan tali tersebut adalah keimanan kita: jika kita menggunakan akal kita dengan baik, artinya senantiasa berpedoman pada agama atau hukum-hukum kebaikan, bukan tak mungkin kesempatan berbuat nakal dapat diminimalisir.
“ah…Tuhan ada ada aja deh… saya sih gak protes, cuma aneh aja… mosok takdir saya setelah nontoh film agama, lalu lanjut nonton bf..? sekarang mao tidur ditakdirin horniiii lagi.”
Jika dalam hal itu Tuhan sedang mengada-ada, coba kamu lihat apa yang diperbuat kumbang tahi, dengan sabar dia menggulung kotoran manusia menjadi bola. Untuk apa Tuhan menciptakan binatang seperti itu? Apakah Tuhan sedang mengada-ada?
Saya justru merasa aneh, mengapa setiap orang yang tak memercayai takdir selalu saja menyodorkan contoh-contoh buruk perbuatan manusia (dari WTS sampai nonton film hot), dan menafikan kenyataan bahwa justru orang yang percaya takdir umumnya adalah orang baik-baik dan berserah diri kepada Tuhan, tentunya buka “berserah diri” secara tidak melakukan usaha, melainkan percaya bahwa setiap daya dan usahanya senantiasa di bawah komando Tuhan.
Ketika kamu memberikan contoh jelek orang yang suka menonton film asoy untuk mengaitkan masalah takdir, pernahkah terpikir olehmu bagaimana jika kamu menampilkan contoh orang yang rajin ibadah saja?
yang mao gak mao saya akui, lagu ahmad albar panggung sandiwara jadi bisa memang cocok… Namun saya tidak mengertikan “jangan makan buah” adalah sebuah lelucon, karena menurut saya – dunia ini BUKAN : panggung sandiwara, skenario tertulis, para makhluk pemeran nunut, Tuhan sutradara dan penulis cerita.
Dunia ini panggung sandiwara, loh. Untungnya kita tidak mengetahui skenario hidup kita ini secara utuh. Itu hebatnya sutradara Tuhan. Makanya, kita perlu mengetahui, apa sebenarnya tujuan penciptaan alam semesta beserta isinya ini, agar kita memahami mengapa dalam Islam takdir itu ada dan menduduki posisi penting, yaitu Rukun Iman.
Terciptanya kosmik : sebab-akibat, positif-negatif, baik-buruk dst –> menurut saya bukan otomatis berarti Tuhan merancang/mencipta/mengskenario alur sebab-akibat itu sendiri pada diri tiap pemeran sebelum mereka lahir. (ibarat contoh ortu ngerancang kecelakaan pada post sebelumnya)
Terciptanya kosmik; sebab-akibat, baik-buruk, positif-negatif… berkaitan dengan tujuan diciptakannya manusia. Adam melanggar larangan makan buah sudah ditetapkan sebelum Adam sendiri diciptakan, itu semua dalam rangka mewujudkan tujuan diciptakannya manusia. Pemahaman apakah Tuhan berperan atau tidak terhadap hukum kosmik tidak akan menemukan titik temu jika sebelumnya kita tidak membahas apa tujuan Tuhan menciptakan manusia. Jadi, daripada saya ngotot mengkritisi pendapatmu, enaknya saya tanya dulu: menurutmu, apa tujuan diciptakan manusia?
Untuk “napas hidup” – menurut saya gak tergantung hukum kosmik. Misalnya, bayi lahir lahir cacat parah (karena hukum kosmik) – namun bernapas. Seseorang yang sehat secara klinis, tiba-tiba mati –> hasil otopsi pun tidak diketahui penyebabnya. Seseorang yang sudah berpenyakit parah – koma, tinggal tunggu kematian –> sembuh total. Saya perhatikan di situ, baik si subjek – maupun pemeran-pemeran lain (dalam hal ini dokter – keluarga dsb) dan juga termasuk timeline –> tidak berperan sama sekali dalam contoh-contoh di atas.
Titik awal (lahir dan bernapas) dan titik akhir (mati) pada kehidupan seseorang adalah MUTLAK kehendakNYA.
Yup, betul banget. Lahir dan mati seseorang itu adalah mutlak kehendak Tuhan. Seorang lelaki tua, penyakitan, tubuhnya tinggal kulit membalut tulang, kalau Tuhan mentakdirkan kematiannya setahun lagi, maka ia akan tetap menjalani hidupnya setahun lagi. Demikian sebaliknya, jika seseorang ditakdirkan mati hari ini, apa pun upaya, tak akan bisa menggagalkan kehendak-Nya.
Hukum kosmik gak bisa berlaku: klinis para dokter seahli apapun secanggih apapun usaha mereka, kalo memang pasien harus mati di satu titik waktu – ya pasti mati. Hukum kosmik gak bisa berlaku: klinis para dokter seahli apapun yang sudah angkat tangan –> pasien mati dalam waktu dekat”, keluarga sudah pasrah (artinya sudah tidak ada usaha apa-apa lagi), kalo Tuhan emang belon mao cabut nyawa si pasien – maka pasien bisa hidup panjang bahkan sembuh sehat total.
Namun, saya tetap percaya hukum sebab akibat berlaku pula di sini. Saya percaya, Tuhan tidak akan memanjangkan usia sang lelaki tua penyakitan dengan tanpa alasan. Sebaliknya untuk orang yang ditakdirkan mati, ketika segala daya dikerahkan namun pasien akhirnya mati juga, itu bukan berarti kematiannya lepas dari hukum sebab akibat. Tuhan tidak serta merta mentakdirkan seseorang mati tanpa alasan, itu keyakinan saya.
Hidup dan mati adalah kehendak Tuhan, dan setiap kehendak membutuhkan alasan atau motif atau tujuan di baliknya. Mengapa Tuhan menciptakan alam semesta? Mengapa Tuhan mentakdirkan seseorang lahir cacat? Mengapa Tuhan mentakdirkan seseorang mati? Manusia, dengan keterbatasan pengetahuan yang dimilikinya, terkadang sulit menemukan motif, alasan, tujuan, bahkan hikmah yang terkandung dari setiap peristiwa.
Ada orang tua renta, mengidap penyakit bertahun lama, hanya bisa tergolek sepanjang masa, buang hajat di kasur yang sama, sampai ‘repot’ anak dan cucunya, namun sang tua tak juga meregang nyawa. Kenapa oh kenapa dia ditakdirkan begitu rupa? Tentu ada sebab musababnya. Mungkin Tuhan ingin memberi ujian kesabaran padanya, atau mungkin dia memiliki utang maaf kepada salah satu keluarganya yang mestinya dilunasi, atau mungkin Tuhan masih memberi kesempatan padanya untuk bertemu dengan anaknya yang di luar negeri belum menjenguk, dan kemungkinan-kemungkinan lainnya yang hanya Tuhanlah yang tahu.
Apalagi jika tiba-tiba sang tua sembuh total, seribu kemungkinan bisa berseliweran di benak kita? Kalau menurutmu kematian tidak melibatkan hukum kosmik, lalu apa yang bisa kamu jelaskan mengenai peristiwa pembunuhan, serta akibat-akibat yang ditimbulkan dari kasus pembunuhan itu?
Menyoal peranan dokter dalam menyembuhkan pasien, justru hukum kosmik sangat berlaku di sini. Memang, Tuhan jua yang menghendaki bahwa si A mesti sembuh, dan memang dokter nggak boleh sombong dengan mengatakan bahwa kesembuhan si A murni karena perawatannya. Tetapi, jarang-jarang loh Tuhan mentakdirkan seseorang sembuh dengan cara ‘sim salabim abahkadabrah’ (ini bolehlah kita sebut mukjizat kali, ya?). Karena jika setiap manusia dikasih ‘mukjizat’ kesembuhan, untuk apa ada dokter?
Tuhan maha kuasa, Dia merancang para ilmuwan menemukan obat-obatan. Dia mentakdirkan sebagian manusia menjadi dokter. Untuk apa? Untuk menjalankan hukum kosmik: Takdir kesembuhan tak mesti menunggu datangnya ‘mukjizat’, melainkan dari upaya manusia itu sendiri.
Namun pada pengertian saya yang berangkat pada “ortu yang baik” –> maka Allah itu baik, dimana ortu yang baik tidak akan merencanakan (menyusun skenario dengan memakai pemeran-pemeran lain) agar terjadi kecelakaan menimpa anaknya.
Kamu pengen mengibaratkan cara kerja Tuhan terhadap kehidupan sehari-hari manusia dengan cara orang tua mendidik anak… Nah, ini dia, (setahu saya) dasar pemikiran yang kemudian melahirkan ide kehendak bebas. Orang tua tidak mengetahui apa yang ada dalam benak anaknya, jadi ketika suatu saat anaknya membangkang, orang tua akan mengeluh seraya mengusap dada, ‘Oh, kenapa anakku membangkang?’ dan ini berarti kehendak/tujuan/harapan yang telah ditentukan oleh orang tuanya bisa meleset jauh, bahkan sejauh-jauhnya. Apakah kehendak/tujuan Tuhan menciptakan manusia bisa meleset juga? Waduh, tak kebayang deh di benak saya.
Terus terang saya bingung bagaimana kamu bisa mengibaratkan: (a). hubungan Tuhan yang Esa terhadap mahkluk ciptaanya yang bejibun banyak, dengan (b) cara kerja orang tua terhadap anaknya yang melibatkan anak-anak manusia yang keluar dari rahim-rahim lain yang juga bejibun banyaknya.
Bagaimana pula kamu ‘tega-teganya’ mengibaratkan… (a) cara Tuhan mengatur dan mengurus semua jenis, tipe dan merk ciptaannya, dengan… (b) cara orang tua mengatur dan mengurus anak-anaknya sebatas lingkup keluarga saja. Padahal perjalanan hidup sang anak nantinya akan melibatkan anak-anak lain yang bukan anaknya??
Saya mengertikan dibawah ini sebagai contoh : bukan ortu yang baik.
(sementara ortu sudah merancang pada hari Rabu pk 10.00, dengan memakai si A B C D untuk menyrempet anaknya saat bepergian agar terjadi kecelakaan pada si anak), hari Rabu pk 9.40 menyuruh anaknya untuk pergi dengan sepeda motor)
Ketika orang tua merancang peristiwa penabrakan anaknya dengan memakai jasa si A B C D, ini adalah semacam konvirasi antara orang tua dengan si A B C D, dan si A B C D sadar betul dia bermaksud mencelakai seorang anak. Bandingkan dengan rancangan Tuhan: si A B C D sama sekali tidak mengetahui hari Rabu jam 10 dia akan menabrak seorang anak. Apakah ada kesesuaian di sini?
. (walopun saat itu anak sedang buat PR, ortu dengan otoriter memaksa anaknya agar berangkat keluar rumah tepat pk 9.50)… saat sang anak akan keluar:
Ketika orang tua yang otoriter memaksa anaknya keluar rumah, meski katanya si anak saat itu sedang mengisi PR, apakah si anak benar-benar menghendaki ‘acara’ keluar rumahnya? Bandingkan dengan otoritas Tuhan; si anak keluar rumah karena sinyal di otaknya sendiri yang menghendaki hal itu, dan ini melibatkan hukum sebab akibat, di mana Tuhan ikut mengendalikan.
ORTU : hati-hati ya nak, jangan kebut-kebutan… berhati-hatilah mengendarai sepeda motor.
ANAK : iya bu, saya akan hati2 dan waspada.
Maka karena semua memang sudah ortu rencanakan, maka kecelakaanpun terjadi pada pk 10.00
Tetapi saya meyakini, anak-anak yang berhati-hati karena teringat wejangan ortunya senantiasa dijauhkan dari bahaya. Jika memang ditakdirkan terjadi kecelakaan, itu artinya si anak kurang berhati-hati.
Terus terang saya gak bisa mengertikan contoh di atas adalah contoh ortu yang baik.
Dan kalo saya “memaksakan” pengertian dari rencana/kehendak tersebut adalah contoh ortu yang baik = contoh Tuhan yang baik – maka timbul keanehan-keanehan dalam pengertian saya pribadi tentang “cara kerja Tuhan”… hehehe. (bukan maksud mao protes kepadaNYA loh…cumaaa,,, “kok aneh ya…”
Jika orang tua ingin anak-anaknya berkepribadian baik, tentunya kepribadian baik itu hanya omong kosong saja jika si anak-anaknya tidak mengenal dulu contoh-contoh ketidak-baikan. Dari mana anak-anak mengenal contoh ketidak-baikan? Yap, dari kehidupan di luar rumahnya. Nah, bandingkan dengan Tuhan. Bagaimana Tuhan memberi contoh ketidak-baikan pada manusia-manusia ciptaannya? Apakah Tuhan harus mendatangkan makhluk nyata lain ke bumi untuk memberi contoh ketidak-baikan? Wew, mahkluk apa gerangan itu?
Apakah “bersyukur” tersebut cuma milik orang-orang yang menyadari dia ditakdirkan/ditentukan/dikehendaki olehNYA pada peran menggunakan akal dengan baik ?
Banyak hal yang mestinya disyukuri dalam hidup ini. Jika saya mengatakan ”maka bersyukurlah mereka yang masih menggunakan akalnya dengan baik”, apakah ada semacam larangan bersyukur kepada orang-orang yang tak menggunakan akalnya dengan baik? Jika saya berkata: ”bersyukurlah mereka yang selamat dari musibah” apakah itu mengandung larangan bersyukur bagi orang yang terkena musibah?
Saya menyarankan seseorang bersyukur karena diberi satu atau banyak kelebihan dibanding yang lain. Maka, saya percaya, semiskin apa pun, seberat apa pun derita, sebenarnya kita masih bisa bisa bersyukur karena masih diizinkan menghirup nafas dunia.
Bagaimana dengan orang-orang yang menurut pengertian kamu ditakdirkan/dikasih peran/ditentukan/dikehendaki olehNYA lamban dalam menggunakan akal dengan baik ? Tidakkah mereka pun wajib untuk tetap bersyukur ? seperti apa ungkapan rasa syukurnya ?
Ucapan syukur tidaklah tepat diucapkan atas kesuksesan serta kesenangan yang berakibat pada kebinasaan. Apa yang musti disyukuri dari menonton film porno jika kelak kita mendapat azab dan siksa? Apa yang musti disyukuri dari kesuksesan kita merampok jika kelak kita diceburkan neraka?
Boleh tanya pada contoh orang nonton film di atas: bagaimana ungkapan rasa bersyukurnya ?
Menurut pengertian saya: bersyukur setelah menonton film begituan berarti kita menghendaki suatu saat kita akan menononton lagi = bersyukur setelah membunuh berarti kita menghendaki suatu saat kita akan membunuh lagi. Kamu tahu sendiri deh hukumnya apa? Masak kejahatan disyukuri? Mensyukuri hidup tidak serta-merta kesalahan pun mesti disyukuri… (opss, maaf jika menurutmu nonton film porno itu bukan kejahatan. Bagi saya, itu kejahatan yang bisa merusak hati dan pikiran)
__________________________________________________________________________________
__________________________________________________________________________________
__________________________________________________________________________________
__________________________________________________________________________________
ODA
1. Tuhan mentakdirkan bahwa si jabang bayi kelak akan lahir ke dunia
2. Tuhan mentakdirkan kelahiran seorang manusia
3. si A berniat membunuh si B
4. Tuhan mentakdirkan Mr. D hidup empat tahun lagi
wew…contoh aplikasi kamu semua di atas gak masuk pada pengertian saya. Kau inget respond saya tentang ini : “seseorang mati, gara-gara lagi operasi – listrik padam” ?
keguguran = blm jadi bayi makanya disebut jabang bayi.
orok lahir terus dibunuh = ada campur tangan Tuhan
Mr.B mati dibunuh mr.A = ada campur tangan Tuhan
mr.D bunuh diri = ada campur tangan Tuhan
Tuhan tidak serta merta mentakdirkan seseorang mati tanpa alasan, itu keyakinan saya.
Saya juga setuju… tapi coba tolong perhatikan, dari siapakah “alesan” tersebut datang ? Tuhan kan ? hasilnya…, MUTLAK kan ? sekali mati ya udah mati.
Kalau menurutmu kematian tidak melibatkan hukum kosmik, lalu apa yang bisa kamu jelaskan mengenai peristiwa pembunuhan, serta akibat-akibat yang ditimbulkan dari kasus pembunuhan itu?
Pembunuhan dan bunuh diri adalah peristiwa menyangkut nyawa. Manusia hidup, otomatis bisa mengalami rasa senang sedih gembira cape dsb YANG semua itu karena NYAWA – Tuhan yang tentukan. Bunuh diri dan pembunuhan adalah peristiwa di luar alur… jadi, apabila Tuhan BELUM kehendaki mr.B yang pada pk 20.00 akan ditebas lehernya oleh mr.A untuk mati jam segitu, segala kemungkinan bisa saja terjadi, misal tiba-tiba mr.A pingsan pas mau tebas leher mr.B, atau misal mr.B “dibangunkan dari tidurnya” oleh Tuhan sehingga bisa lolos dari tebasan, dst dst – dimana (misal) takdir Tuhan adalah pk 20.05 mr.B mati – maka setelah pertarungan sengit 5 menit kemudian akhirnya mr.B perutnya berhasil ditusuk oleh mr.A sehingga mati.
Dan di sini saya nggak mengertikan, mr.B ini juga punya skenario tersendiri sejak dia belum lahir, karena Tuhan menghendaki/merancang dia melakukan pembunuhan ke mr.A agar skenario mr.B mati 20.05 terlaksana.
Takdir kesembuhan tak mesti menunggu datangnya ‘mukjizat’, melainkan dari upaya manusia itu sendiri.
quote di atas, saya jadi rada bingung nih. Bukankah kau mengertikan bahwa kalo seseorang menjadi sembuh (masalah nyawa) itu adalah takdir Tuhan ? tapi kok ada kalimat “upaya manusia itu sendiri” ?? bukankah kamu sudah mengertikan –jadi jangan sombong– bahwa “upaya dokter” itu BUKAN “upaya mereka sendiri” melainkan ada campur tangan Tuhan ?
jelas kan, pengertian saya tentang takdir Tuhan pada nyawa ? Tuhan “ikut campur” kalo urusannya sampe tentang nyawa seseorang.
Dengan mengatakan bahwa setiap gerak-gerik kita terlepas dari kehendak Tuhan, justru itu malah membatasi pengertian Tuhan mengetahui segala sesuatu.
Hm… kalo bagi saya, Tuhan tau – tapi “keTAHUan”NYA itu BUKAN karena Dia yang programkan pada manusia… “keTAHUan”NYA itu gak bisa ada manusia yang bilang, jadi entah sejak kapan Dia TAHU itu… entah sebelum – sedang – setelah manusia berbuat, gak akan ada yang bisa merumuskannya. Begitu yang saya mengertikan, berdasarkan bahwa Tuhan itu kekal – gak terikat ruang waktu.
Tuhan menciptakan segala sesuatu, termasuk kebaikan dan keburukan
Kalo saya : Tuhan menciptakan kosmik –> yang di dalamnya terdapat semua natur-natur. Saya gak akan pernah bisa berhenti berpikir, kalo saya memahami seseorang jadi pembunuh adalah SEBUAH CIPTAAN TUHAN karena dikehendaki/diprogramNYA.
Apakah kamu pikir nilai baik dan buruk itu datangnya murni dari aksi dan tingkah laku manusia? Ah, jangan ngawur atuh!
Di mana ada saya pernah katakan nilai baik dan buruk datang murni dari aksi tingkah laku manusia ? NILAI baik dan buruk ada di kosmik yang terkait pada hukum sebab-akibat. Kau tidak baca post saya tentang “jangan makan buah” ??
Justru manusialah yang musti diberi tahu hal baik dan buruk itu.
Coba deh… kau baca lagi post saya tentang “jangan makan buah” tersebut. Terus terang saya gak tau menurut kepercayaanmu, apakah ada “larangan makan buah PENGETAHUAN BAIK & JAHAT” atau tidak. Kalo gak ada, kita berkutat terus disini –> saya rasa gak akan ketemu-temu…:)
Bagaimana cara Tuhan mengajarkan kebaikan? Tentunya dengan menciptakan skenario keburukan, untuk diambil pelajaran bagi orang yang berpikir, dan kemudian Dia berfirman: ”jangan sekali-kali kamu lakukan perbuatan itu, karena perbuatan itu buruk di mata-Ku!’
Loh ?? Maksudnya pada kalimat “jangan sekali-kali” itu apa yach ? Kan dalam pengertianmu – perbuatan itu sendiri emang Dia yang programkan ? Kalo seseorang setelah melakukan aksi pembunuhan lalu teringat kalimat tersebut, tidakkah seseorang ini berpikir “kan Tuhan sendiri yang menetapkan/mentakdirkan/berkehendak agar saya membunuh”. ??
Bagi saya, cukup dengan firman-firmanNYA ,TANPA menciptakan skenario keburukan pada seseorang –> itu adalah cara Tuhan mengajar kebaikan sekaligus menunjukan kasihNYA. (ibarat ortu pada contoh saya tersebut).
Tuhan menciptakan segala sesuatu, termasuk rasa lapar dan kenyang
Kau tidak baca pada post saya bahwa saya akui cape emang pemberian Tuhan ? Kenyang, sedih, gembira, cape, ngantuk, dsb ITU SEMUA emang pemberian Tuhan. DAN kau sendiri yang bilang, mata digunakan karena kerja dari otak, otak itu otak manusia –> yang diciptakan itu adalah manusia = yang bisa cape, gembira, sedih, susah, ada otak, mata, dsb.
Semua yang warna biru itu, untuk pengertian saya : TIDAK Dia skenario-kan agar seseorang sedih jam sekian, cape jam sekian – membunuh jam sekian – tertawa jam sekian, sejak sebelum seseorang tersebut lahir.
Ah, tidak etis rasanya mengatakan bahwa perbuatan manusia di luar kehendak Tuhan
kamu : perbuatan seseorang membunuh adalah kehendak Tuhan
saya : perbuatan seseorang membunuh adalah BUKAN kehendak Tuhan
Kalau seseorang berTuhan, umumnya sudah bisa memahami bagaimana seharusnya yang baik dimataNYA – namun hidup di dunia gak bisa terlepas kosmik, sehingga sering kali apa yang diperbuat seseorang tersebut adalah tidak baik dimataNYA yang bukan merupakan kehendakNYA.
Orang bisa menuding bahwa keinginannya menonton film asoy juga dikendalikan Tuhan, jadi kenapa Tuhan berbuat begitu? Jawabannya sudah saya tulis di postingan kemarin, yaitu tentang perumpamaan tali itu, dan mari kita mengibaratkan tali tersebut adalah keimanan kita.
Lalu, bagaimana dengan kalimat “jangan sekali-kali” tersebut ?
Jadi maksudnya “tali putus” itu –> skenario Tuhan sebelum seseorang lahir untuk nonton film hot pada waktu yang ditentukan ? Lalu Tuhan “jangan sekali-kali lagi ya nonton film hot, perbuatan itu buruk di mataKU”. Terus… gimana dengan nasib tali tersebut ? Tetep putus ? atau nyambung lagi ?
Bagaimana dengan keimanan yang telah “putus/jatuh” karena nonton film hot ? (dimana itupun juga menurutmu BUKAN maunya iman seseorang tersebut nonton, melainkan kehendak Tuhan yang telah Dia tulis pada satu skenario panjang yang dibuat sebelum seseorang lahir tentang kisah kehidupannya dari awal-akhir hidupnya).
apakah jawabnya dari seseorang tersebut kira-kira seperti ini: “tidak tau, karena saya tidak tau apa kehendak/tadkirNYA nanti diwaktu berikutnya” ? ataukah : “ya… saya akan berusaha untuk tidak mengulangi perbuatan tersebut” Dan suatu ketika beberapa waktu kemudian seseorang ini nonton hot lagi, kira-kira seperti apa pernyataannya ? apakah kira-kira seperti ini : “yah… saya sih udah usaha loh – tapi itu sudah menjadi kehendakNYA untuk nonton lagi, mao gimana donk ?”
Menurutmu, apa tujuan diciptakan manusia?
Nah yang ini terus terang, saya sendiri gak tau apa tujuan diciptakan manusia. Tapi menurut saya, BUKAN agar Dia personally bisa bikin si A cacat sdgkan si B sehat, dengan alasan supaya si B bisa liat seperti apa cacat itu dan supaya si A bisa liat seperti apa sehat itu.
Nah, ini dia, (setahu saya) dasar pemikiran yang kemudian melahirkan ide kehendak bebas
Lah kok baru tau ? wong sejak awal saya emang udah mempunyai dasar pengertiannya kehendak bebas koooookkk … jadi…. :
Bagaimana pula kamu ‘tega-teganya’ mengibaratkan… (a) cara Tuhan mengatur dan mengurus semua jenis, tipe dan merk ciptaannya, dengan… (b) cara orang tua mengatur dan mengurus anak-anaknya sebatas lingkup keluarga saja. Padahal perjalanan hidup sang anak nantinya akan melibatkan anak-anak lain yang bukan anaknya??
jadi, point (a) kamu di atas itu – emang gak pernah jadi dasar pemikiran saya kok (kecuali saat pada urusan nyawa). Kalo menurutmu Dia urus dan atur itu semua gerak-gerik manusia tiap detik, lalu kalimatNYA “jangan sekali-kali” maksudNYA apa?
Bandingkan dengan rancangan Tuhan: si A B C D sama sekali tidak mengetahui hari Rabu jam 10 dia akan menabrak seorang anak. Apakah ada kesesuaian di sini?
Yap, gak ada kesesuaian. Karena A B C D suruhan ortu dengan freewillnya masih memungkinkan menolak pekerjaan tersebut, sedangkan A B C D yang menurutmu itu adalah rancangan program skenario Tuhan –ya tentu dalam pengertianmu– tinggal ngejalanin aja itu program tanpa perlu mengetahui kapan waktunya. Dalam pengertianmu, di dunia – seseorang katakan “tapi kita kan gak tau, takdirNYA akan seperti apa nanti, mungkin begini – mungkin juga begitu… siapa tau begono” adalah nisbi menurut saya. Sekarang, batalin dah contoh ortu yang baik pada cara kerja Tuhan. CUKUP pada kalimatmu yang memang bukan menjadi dasar pengertian saya :
dengan rancangan Tuhan: si A B C D sama sekali tidak mengetahui hari Rabu jam 10 dia akan menabrak seorang anak
yang nggak terlintas dipengertian saya seperti quote di atas, dimana A B C D dirancang untuk nabrak pada jam sekian, agar rancangan pada si anak ketabrak bisa klop.
Bandingkan dengan otoritas Tuhan; si anak keluar rumah karena sinyal di otaknya sendiri yang menghendaki hal itu, dan ini melibatkan hukum sebab akibat.
Kok jadi sinyal otak si anak itu sendiri ? Bukannya menurut pengertianmu itu karena otoritas kehendak Tuhan ? dimana skenario/programNYA memberi sinyal ke otak si anak agar keluar rumah ? Kok kamu bilangnya sinyal otak si anak itu SENDIRI yang menghendaki ?? apanya yang SENDIRI, kalo Tuhan “ikut campur” dengan memprogram agar anak keluar jam sekian, dengan alur program sebelumnya – memberi sinyal ke otak si anak untuk berkeinginan keluar ??
Apakah Tuhan harus mendatangkan makhluk nyata lain ke bumi untuk memberi contoh ketidak-baikan?
Entahlah kalo dalam pengertianmu. Karena apa pun juga, toh kan ujung-ujngnya cuma buat contoh aja “menghendaki seseorang membunuh pada jam sekian” agar bisa dinyatakan mana baik-buruk menurut pengertianmu.
Apa yang musti disyukuri dari menonton film porno jika kelak kita mendapat azab dan siksa?
jadi maksudmu, pada kepercayaanmu ucapan syukur hanya jika disaat diri sendiri menyadari perbuatan2nya tidak pernah menjurus pada kebinasaan atau vice-versa, setelah nonton porno tidak musti/pantas/perlu untuk berdoa syukur ?
Kalo buat saya mah, mao saya habis nonton bf kek – baru ngebohongin temen kek, dsb dsb (selama BUKAN perbuatan sengaja yang menyangkut bisa hilangnya nyawa seseorang) – berdoa syukur dan terimakasih tetep yang paling utama dan pertama diungkap, mohon ampun baru yang berikutnya. Karena, disaat saya berdoa – NAPAS kehidupan saya masih ada shg telah bisa ngerasain pahit-manis hal dunia pada waktu yang berlalu – adalah hal utama bagi saya yang perlu di syukuri dan terimakasihin. (jadi BUKAN kejadian2 secara spesific yang di syukuri, melainkan HIDUP/NAFAS yang didalamnya semua terdpt kejadian2 — yang disyukuri dan terimakasihin)
seperti saya post sebelumnya, saya suka duren – kamu tidak suka duren. Apapun pendapat2 & pengertian2 tentang duren baik dari saya maupun dari kamu –> tidak akan mengubah kamu jadi suka duren ataupun saya jadi gak suka duren …
Terserah kamu mau bilang adalah salah kalo seseorang suka duren, namun saya tidak berpendapat adalah salah seseorang yang tidak suka duren.
Kita sudahi sampe sini aja yach. Makasih atas masukan2nya.
salam.
__________________________________________________________________________________
__________________________________________________________________________________
__________________________________________________________________________________
__________________________________________________________________________________
KK
Pembunuhan dan bunuh diri adalah peristiwa menyangkut nyawa. Manusia hidup, otomatis bisa mengalami rasa senang sedih gembira cape dsb YANG semua itu karena NYAWA – Tuhan yang tentukan. Bunuh diri dan pembunuhan adalah peristiwa di luar alur…
Yang saya tanyakan dari kasus-kasus di atas adalah APAKAH CAMPUR TANGAN TUHAN ITU MELIBATKAN KEHENDAK MANUSIA? Orok dibunuh karena campur tangan Tuhan. persoalannya adalah, orang yang membunuhnya itu (kamu bilang) adalah kehendak manusia dan Tuhan tidak ikut campur.
Orang bunuh diri dengan cara terjun dari jendela hotel tingkat 10, itu adalah kehendak manusia menurutmu. Jika Tuhan belum mentakdirkan orang itu mati, apakah mungkin orang yang terjun dari lantai 10 itu tidak kehilangan nyawa saat tubuhnya membentur jalan? Kamu bisa saja mengatakan; oleh karena orang itu belum ditakdirkan mati, bisa saja ketika dia hendak melompat, dia berubah pikiran. Nah, siapa gerangan yang berkuasa merubah pikirannya? Tuhan, bukan?
Dan di sini saya nggak mengertikan, mr.B ini juga punya skenario tersendiri sejak dia belum lahir, karena Tuhan menghendaki/merancang dia melakukan pembunuhan ke mr.A agar skenario mr.B mati 20.05 terlaksana.
Tuhan maha tahu, nggak mungkin Tuhan tidak berkehendak mengetahui setiap skenario peristiwa yang akan terjadi di dunia ini. Jika Tuhan sudah “mengetahuinya”, apa bedanya dengan Tuhan “menghendaki”?
Hm… kalo bagi saya, Tuhan tau – tapi “keTAHUan”NYA itu BUKAN karena Dia yang programkan pada manusia… “keTAHUan”NYA itu gak bisa ada manusia yang bilang, jadi entah sejak kapan Dia TAHU itu… entah sebelum – sedang – setelah manusia berbuat, gak akan ada yang bisa merumuskannya. Begitu yang saya mengertikan, berdasarkan bahwa Tuhan itu kekal – gak terikat ruang waktu.
Itu, kamu bilang sendiri Tuhan itu nggak terikat ruang waktu, berarti pengetahuannya nggak terikat oleh apa pun juga, termasuk ruang dan waktu. Mau “sebelum”, “sedang” atau “setelah”, Dia mengetahuinya.
jadi, apabila Tuhan BELUM kehendaki mr.B yang pada pk 20.00 akan ditebas lehernya oleh mr.A untuk mati jam segitu, segala kemungkinan bisa saja terjadi, misal tiba-tiba mr.A pingsan pas mau tebas leher mr.B, atau misal mr.B “dibangunkan dari tidurnya” oleh Tuhan sehingga bisa lolos dari tebasan, dst dst – dimana (misal) takdir Tuhan adalah pk 20.05 mr.B mati – maka setelah pertarungan sengit 5 menit kemudian akhirnya mr.B perutnya berhasil ditusuk oleh mr.A sehingga mati.
Padahal kan sudah saya bilang mr. B sedang tertidur pulas, dan si A tak banyak cingcong langsung merealisasikan niatnya. Kalau tiba-tiba si B terbangun dan melakukan pertarungan sengit, itu kehendak siapa? Tuhan, bukan? Jadi, kamu tak bisa memungkiri bahwa kehendak Tuhan itu menguasai setiap gerak dan gerik manusia. Jadi, apa benar KBM itu ada?
Seseorang mati karena waktu operasi listrik padam… kenapa listrik bisa padam? Tuhan turut campur tangan, jawabmu. Kalau dalam soal lampu saja Tuhan campur tangan, bagaimana mungkin kamu akan mengatakan segala tingkah laku kita terlepas dari kehendak-Nya?
Tuhan menciptakan kosmik –> yang di dalamnya terdapat semua natur-natur. Saya gak akan pernah bisa berhenti berpikir, kalo saya memahami seseorang jadi pembunuh adalah SEBUAH CIPTAAN TUHAN karena dikehendaki/diprogramNYA.
Untuk memahaminya, kita harus memahami tujuan penciptaan alam semesta serta isinya.
Jelas kan, pengertian saya tentang takdir Tuhan pada nyawa ? Tuhan “ikut campur” kalo urusannya sampe tentang nyawa seseorang.
Okelah, kamu punya alasan; khusus dalam urusan nyawa, Tuhan turut campur tangan. Saya malah terpikir mengenai urusan nyawa ini bisa merasuk sampai ke setiap segi kehidupan manusia, itulah sebabnya kemudian saya bertanya: apa yang bisa kamu jelaskan mengenai pembunuhan massal (misalnya, holocaust Hitler) serta akibat-akibat yang muncul setelah peristiwa itu? Apakah takdir kematian ribuan manusia itu tidak memengaruhi ribuan kehendak manusia?
quote di atas, saya jadi rada bingung nih. Bukankah kau mengertikan bahwa kalo seseorang menjadi sembuh (masalah nyawa) itu adalah takdir Tuhan ? tapi kok ada kalimat “upaya manusia itu sendiri” ?? bukankah kamu sudah mengertikan –jadi jangan sombong– bahwa “upaya dokter” itu BUKAN “upaya mereka sendiri” melainkan ada campur tangan Tuhan ?
Quota yang kamu bingungkan itu jelas membingungkan soalnya kamu hanya memenggalnya pada bagian itu tanpa memedulikan kalimat sebelumnya. Kesembuhan seseorang tidak musti menunggu datang ‘mukjizat’ sembuh sendiri, melainkan dari upaya orang itu menyembuhkan penyakitnya.’ Kenapa harus diupayakan, padahal sembuh tidaknya seseorang itu sudah ditakdirkan? Bacalah kalimat sebelumnya. Saya menulis, DALAM RANGKA MENJALANKAN HUKUM KOSMIK (kemudian saya bubuhi tanda ‘titik dua’). Jadi, meskipun segalanya sudah ditetapkan oleh Tuhan, ketetapan itu tidak terjadi dengan serba kebetulan, melainkan sejalan dengan hukum sebab akibat.
Loh ?? Maksudnya pada kalimat “jangan sekali-kali” itu apa yach ? Kan dalam pengertianmu – perbuatan itu sendiri emang Dia yang programkan ? Kalo seseorang setelah melakukan aksi pembunuhan lalu teringat kalimat tersebut, tidakkah seseorang ini berpikir “kan Tuhan sendiri yang menetapkan/mentakdirkan/berkehendak agar saya membunuh”. ??
‘jangan sekali-kali’ itu pengandaian saya ketika Tuhan melarang manusia berbuat keburukan, jadi itu bukan mencomot dari kitab suci. hanya bahasa saya sendiri. ‘jangan sekali-kali melakukan dosa’ itu adalah semacam warning. kamu juga ternyata belum memahami perumpamaan ‘tali’ yang saya tulis kemarin. Contoh lainnya seperti ini; saya yakin bahwa saya akan mati meninggalkan dunia ini, entah esok, entah lusa. Meskipun begitu, saya tetap mengonsumsi buku-buku motivasi tentang masa depan. Kalau cara berpikirnya seperti dirimu, mungkin saya akan bilang begini; untuk apa aku membaca buku motivasi padahal kelak saya akan mati?
Sama halnya dengan perintah larangan. Tak dapat dipungkiri, atas kehendak-Nya, bisa saja setiap hari saya berbuat kesalahan, tetapi saya berusaha untuk mentaati semua perintah dan larangan-Nya, kok. Bukankah Tuhan itu Maha Pengampun.
Bagi saya, cukup dengan firman-firmanNYA ,TANPA menciptakan skenario keburukan pada seseorang –> itu adalah cara Tuhan mengajar kebaikan sekaligus menunjukan kasihNYA. (ibarat ortu pada contoh saya tersebut).
Tuhan tidak akan berfirman mengenai baik-buruk suatu perbuatan jika perbuatan itu belum pernah dilakukan.
Tuhan menciptakan rasa senang, sedih, kecewa, marah, capek, agar manusia melakukan aksi/tindakan. setiap aksi (baik atau pun buruk) berjalan seiring dengan hukum kosmik. Untuk apa semua ini berjalan? Untuk memenuhi tujuan penciptaan segala sesuatu, termasuk manusia di dalamnya. Itu pengertian saya. Lantas, apa tujuan Tuhan menciptakan segala sesuatu? Nantilah saya jelaskan menurut pengertian saya.
Tapi, bener nih mau pamit dari thread ini?
__________________________________________________________________________________
__________________________________________________________________________________
__________________________________________________________________________________
__________________________________________________________________________________
ODA
Saya pamit, soalnya menurut saya emang gak akan kelar2 …
Dari cikal-bakal pada pengertian “pohon larangan” aja udah beda, tentu berikut-berikutnya akan berbeda terus. Kecuali kamu memang cuma mau sekedar diskusi untuk tahu kenapa berbeda – tentu gak akan ada habisnya kalo kamu menganggep yang beda pendapat dengan kamu dalam hal ini adalah salah ..
Kamu: Tuhan “sengaja” taruh pohon dan “menyuruh/membiarkan/mengijinkan” iblis – sebagai peran pemain pelengkap agar kehendakNYA pada AdamHawa jatuh ke dalam dosa, supaya bisa bedain mana jahat mana baik. Larangan jangan makan buah dan pelanggaran Adam Hawa – sekedar skenario sebuah cerita karena menurutmu semua emang kehendakNYA.
Saya: natur buruk-baik SUDAH ADA pada AdamHawa & makhluk2 yang hidup bersama saat itu. Selama Adam Hawa “nggak milih masuk portal pengetahuan (esensi) buruk-baik” – maka tidak akan ada akibat. Larangan saya mengertikan “tulus” –> bukan alur skenario. Pelanggaran saya mengertikan “murni” –> bukan karena Adam Hawa emang ditakdirkan/ditentukan/dikehendakiNYA untuk melanggar.
Jadi bukan buahnya yang memberi pengetahuan baik-buruk, tetapi melanggarnya-lah yang memberi mereka pengetahuan baik-buruk –> yakni TAHU rasa bersalah.
Nah… jelas kan sangat berbeda ?
salam.
______________________________________________________________________________
__________________________________________________________________________________
__________________________________________________________________________________
__________________________________________________________________________________
KK
Saya bukan hendak mencari-cari kesalahan dalam diskusi ini, tetapi apabila ada suatu pendapat bertentangan dengan pemahaman kita, bukankah wajar jika kemudian kita bertanya, kenapa kok bisa begini dan begitu? Apa dasarnya? Bertentangankah dengan logika? dsb, dsb. Berbeda pemahaman itu wajar, bukan? Jika dari awal-awal pendapat kita udah sama, nggak mungkinlah kamu menolak bahwa NKRI ini merdeka dengan campur tangan Tuhan, hehe…
Memang, dulu-dulu saya juga mengaku bingung dengan masalah takdir ini, dan hampir saja saya tidak memercayainya, padahal dalam agama saya, Takdir itu termasuk rukun iman. Waktu itu, pemahaman saya mengenai kehidupan dunia ini sama persis seperti pemahaman yang kamu miliki. Saya juga mengira tidak mungkin rasanya Tuhan menskenariokan perbuatan-perbuatan jahat manusia, dan saya juga mengira perbuatan itu adalah pilihan manusianya sendiri. Tetapi, begitu saya menyadari kemaha-kuasaan Tuhan, dengan serta-merta saya berhadapan dengan sejumlah pertanyaan yang sulit dijawab jika saya masih berpendapat bahwa kehendak manusia itu terlepas dari campur tangan penciptanya. Ketika ada pertanyaan, apa tujuan diciptakan alam semesta beserta isinya? saya merasa ‘blank’ sama-sekali. Jika saya menjawab Tuhan tak perlu memiliki alasan, itu justru bertolak belakang dengan logika. Pikiran saya tambah ‘blank’ ketika saya disodori kenyataan bahwa dengan kemaha-kuasaanNya, bisa saja Tuhan menciptakan manusia dengan tanpa dibekali hawa nafsu, sehingga manusia tidak mengenal apa yang namanya kejahatan/keburukan/kesewang-wenangan/keserakahan. Tapi kenapa Tuhan (Yang Maha Kuasa) tidak menciptakan manusia seperti itu, padahal Dia berkuasa? Pertanyaan-pertanyaan seperti itulah yang kemudian menggiring saya masuk ke thread takdir di forum ini. Saya membaca beberapa postingan NN dari awal, dan sedikit demi sedikit saya mulai memahami apa itu takdir, dan kenapa Islam menempatkan masalah takdir ini ke dalam rukun iman.
Ternyata, pijakan utama untuk memahami takdir adalah mengetahui apa tujuan diciptakan segala sesuatu. Tentunya, Tuhan menciptakan segala sesuatu dari tiada menjadi ada ini membutuhkan alasan mutlak dari-Nya, yaitu Tuhan perlu mengaktualisasikan diri-Nya sebagai satu-satunya Tuhan. Berikut ini ilustrasinya:
Ada seseorang yang ingin dikenal orang sebagai seorang maestro seni lukis yang top banget sedunia, tapi dia belum pernah menciptakan satu karya lukisan pun. Kalau begini, apakah orang-orang akan menganggapnya sebagai maestro seni lukis paling top sedunia? Tentu tidak, bukan? Agar dikenal sebagai maestro, dia perlu menelorkan karya-karya lukis besar. Itu namanya kebutuhan untuk mengaktualisasi diri. Begitu pun juga Tuhan, dia perlu mengaktualisasi diri-Nya dengan menciptakan karya yang maha besar dan maha sempurna, agar Dia dikenal sebagai satu-satunya Tuhan yang top markotop, good marsogood, yang tiada cacat cela sedikit pun, agar dengan itu tersingkap keagungan-Nya yang tiada tara. Bedanya, sang pelukis ingin mendapat pengakuan sebagai maestro oleh orang-orang yang kedudukannya setara dengan dia. Sedangkan Tuhan… karena tiada sesuatu pun yang setara dengan Dia, dan karena dia adalah satu-satunya Tuhan, maka Dia ingin mendapat pengakuan sebagai Tuhan dari makhluk-makhluk ciptaanNya.
Nah, untuk mengakui dan memuliakan Tuhan, para manusia yang bercokol di bumi ini harus mengakui sifat-sifat Tuhan, di antaranya; Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Kuasa, Maha Tahu, Maha Pengampun, Maha Kaya, Maha Bijaksana, dan sebagainya. Dalam Islam itu disebut Asmaul Husna, yaitu nama-nama Allah yang mewakili sifat-sifatnya, jumlahnya 99.
Kemudian, ini juga pertanyaan-pertanyaan yang pernah ditulis NN:
1) Bagaimana Tuhan mengenalkan diri-Nya sebagai yang Maha Pengampun dari segala dosa?
2) Bagaimana Tuhan mengenalkan sifat-Nya yang Maha Perkasa?
3) Bagaimana Tuhan mengenalkan sifatNya yang Maha Adil?
4) Bagaimana Tuhan mengenalkan sifatNya yang Maha Pengasih?
Bagaimana caranya dan lewat peristiwa-peristiwa apa Tuhan mengenalkan sifat-sifat kemuliaan-Nya di atas?
Om Oda, sampai di sini aja dulu. Kalau ada yang perlu disanggah, jangan sungkan-sungkan loh silakan menyanggah, hehehe… Atau, jika kamu memang memutuskan berhenti diskusi, yeah… saya tak memaksa kok. Mana yang baik menurutmu sajalah.
_________________________________________________________________________________
__________________________________________________________________________________
__________________________________________________________________________________
__________________________________________________________________________________
ODA
Saya dari sebelum-sebelumnya sudah mengerti kok tentang pengertian takdir pada kepercayaan lain. Temen-teman baik saya banyak yang berdasarkan pengertian demikian….
Dari semua post-post saya tentang hal ini, itu juga cuma pendapat pribadi tentang pengertian yang cocok dengan diri sendiri, di mana kalo saya terapkan pengertian tentang takdir seperti kamu/temen-temen saya sendiri, malah saya sendiri juga yang jadi kebingungan…. –percis sama– apabila kamu terapkan pengertian saya ke kamu, tentu akan terasa aneh bagimu atau terkesan seseorang tersebut kok jadi sok ?
Bagi saya, untuk bisa mengakui kebesaran/keMAHAan Tuhan – saya nggak terlalu mentingin untuk perlu tahu “apa sih tujuan Dia bikin manusia?”. Karena mengetahui saya ini hidup – itu sudah cukup untuk nyadarin bahwa semua itu semata-mata karena Dia YME sehingga bisa saya akui segala atribut hebat yang ada pada Dia …
Seseorang tertusuk panah terluka parah, (menurut saya) –> akan mengurus panah yang nancep di dadanya tersebut, dan melakukan tindakantindakan yang pantas pada kondisi tersebut…. BUKANNYA panah didiemin nancep d idada, dan dia mencari-cari tahu kenapa panah dibidik menancep ke dada dia, mencari-cari tau apa tujuan si pemanah memanah dia.
Bukan berarti gak pernah terlintas, “apa sih tujuan Tuhan bikin manusia” — pernah kok berpikir demikian, tetapi malah jadi lieur sendiri…hehehe… jadi saya rasa bukan kemampuan saya untuk bisa mengetahui tujuanNYA…
salam.
__________________________________________________________________________________
__________________________________________________________________________________
__________________________________________________________________________________
__________________________________________________________________________________
__________________________________________________________________________________
KK
Baiklah, Om Oda, kalau kepala udah lieur mikiranana, upami dipaksakeun malah tambah lieur, hehehe…
Kalau menurut saya, justru penting banget mengetahui tujuan diciptakannya alam semesta ini, yaitu Tuhan berkehendak mengaktualisasi diri sebagai satu-satunya Tuhan yang Maha Kuasa. Mungkin ada teman-teman yang punya jawaban berbeda, tapi sejauh ini saya meyakini jawaban itulah yang menurut saya masuk akal. Bahkan di setiap saya hendak melakukan sesuatu, agama saya menganjurkan untuk selalu membaca basmalah: Allah, yang maha pengasih, lagi maha penyayang.
Memang pendapat itu selalu beda, yah? Jika ada panah tiba-tiba menancap di dada saya, memang yang pertama-tama saya lakukan adalah urusin panah itu, bagaimana cara mencabutnya? perih apa enggak? menyebabkan kematian apa enggak? Tapi jujur, sementara saya mengurus panah yang nancap itu, pikiran mah tetap bertanya-tanya itu perbuatan siapa? Maksudnya apa? Sebab dari apa? Dan sebagainya. Sama halnya ketika saya menginjak paku, setelah menjerit ‘maratan langit’, biasanya yang terpikir adalah kenapa saya bisa menginjak paku itu? Begitu pun mengenai hidup, adalah hal yang wajar jika saya berpikir untuk apa dan kenapa saya menjalani hidup? Ya, sudahlah, tak perlu diribuntukan, hehe….
Dan, daripada penjelasan saya di atas menggantung nggak jelas juntrungannya, saya pikir ada baiknya saya lanjutkan. Dan kamu nggak perlu deh membacanya jika memang udah tahu, entar bertambah lieur, hehe…
Bagaimana dan lewat peristiwa-peristiwa apa yang (nantinya) Tuhan bisa menunjukkan sifat-sifat kemulian-Nya? Sengaja saya tambahkan kata ”nantinya” karena pertanyaan ini masih berupa rancangan penciptaan segala sesuatu. Jadi jelas, segala sesuatunya belum diciptakan. Berikut di bawah sebagian penjelasannya dari NN:
1) Tuhan Maha Pengampun
Di sini ada kata kunci: DOSA. Kalau tidak ada kata dosa, apakah Tuhan akan diakui sebagai pengampun? Kalau mau diakui sebagai maha pengampun sebagai salah satu sifat kemuliaan-Nya, maka Dia menetapkan adanya dosa, supaya orang yang berdosa memohon ampun kepada-Nya, dan Dia mengampuni.
Nah, oleh karena dosa itu sudah ditetapkan dari awal penciptaan (di mana tujuan penciptaan segala sesuatu adalah untuk menunjukan kemuliaan-Nya), maka mau tak mau harus diakui bahwa dosa itu sudah DITAKDIRKAN dari awal oleh Tuhan. Tujuan penetapannya adalah agar manusia mengetahui dan mengakui salah satu sifat kemuliaan-Nya, yaitu Maha Pengampun.
Jika dosa tidak ditetapkan dari awal, bagaimana ciptaan-Nya bisa mengetahui bahwa Tuhan itu maha pengampun? Logikanya, jika tidak ada yang namanya dosa, Tuhan mau mengampuni apa?
2) Tuhan Maha Adil
Oleh karena keadilan itu berurusan pada timbangan-timbangan, hukum-hukum dan keseimbangan serta berhubungan dengan pemberian keputusan/penghakiman, maka untuk mengeluarkan sifat kemaha-adilanNya, di awal penciptaan Tuhan perlu menentukan adanya sebagian dari ciptaan-Nya yang berlaku melawan hukum keseimbangan yang telah ditetapkan-Nya, sebab dengan adanya mereka, Dia bisa menunjukkan kemaha-adilanNya kepada seluruh makhluk ciptaan-Nya.
Jika Tuhan menentukan semua ciptaan-Nya berada pada jalan yang lurus saja, maka Dia nggak akan pernah dikenal sebagai yang Maha Adil. Untuk sebab itulah, maka segala sesuatu diciptakan serba berpasangan, di mana sifat yang satu selalu berlawanan dengan sifat yang lainnya. Semua itu ada dalam ketetapan sejak awal-awal penciptaan segala sesuatu, di mana tujuan penciptaan itu adalah untuk menunjukkan sifat-sifat kemuliaan-Nya.
3) Tuhan Maha Perkasa.
Untuk menunjukkan sifat Perkasa yang membentuk segala kemuliaan-Nya, Tuhan perlu menetapkan adanya sekelompok ciptaan yang akan menerima hukuman dari-Nya, dengan demikian seluruh ciptaan akan mengakui betapa perkasa Tuhan mereka.
Kalau ada rancangan hukuman pra penciptaan, maka tidak bisa tidak dibutuhkan pula rancangan atas orang-orang yang bakal terlibat dalam hukuman-hukuman itu.
4) Tuhan Maha Pengasih
Kalau Tuhan menginginkan manusia mengetahui bahwa diri-Nya maha pengasih, mau tak mau Dia harus memperkenalkan dulu pada manusia tentang apa itu kasih dan bagaimana rasa dari kasih itu? Kasih itu kata sifat, bukan kata benda, dan berarti kasih itu berhubungan dengan rasa, tidak bisa hanya dilihat dengan mata. Jadi, rasa kasih itu harus dirasakan dan dimengerti manusia agar mereka mengetahui diri-Nya Maha Kasih.
Seperti gula yang rasanya manis, rasa manis tidak bisa diajarkan dengan kata-kata, melainkan harus dicicipi. Dan anda bisa mengetahui rasa manis itu setelah otak anda membandingkannya dengan rasa-rasa lainnya; asin, pahit, masam, kecut, hambar, dll. Tanpa ada rasa-rasa yang lain itu, rasa manis tidak akan berarti apa-apa.
Begitu pula dengan rasa kasih. Agar ciptaan-Nya merasakan kasih dari-Nya yang maha pengasih, maka Tuhan perlu menghadirkan pengalaman TIDAK KASIH pada diri ciptaan-Nya, agar rasa kasih dari-Nya menemukan makna.
Jika rasa tidak kasih pun dihadirkan, maka Dia juga membutuhkan sebagian ciptaanNya untuk membawa dan menyebarkan rasa tidak kasih itu ke alam ciptaanNya, agar para ciptaan yang merasa tidak nyaman dengan rasa tidak kasih bisa berpaling pada rasa kasih yang ditawarkanNya pada mereka. Dan mereka akan menyebutnya Maha Kasih sebagai salah satu sifat kemuliaanNya. Jadi, KASIH dan TIDAK KASIH itu semuanya dikehendaki dan ditetapkan untuk terjadi oleh Tuhan untuk kemuliaanNya sendiri.
Allah berfirman:
Al Qamar: 49. Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran (takdir) .
Ash-Shaffaat: 96. Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.
Ar-Rahmaan: 29. Setiap hari Dia (mengatur) urusan (semua makhluk-Nya).
Al Furqaan: 2. yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagiNya dalam kekuasaan(Nya), dan dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.
Al Hadiid: 22. Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.
Al Hajj: 70. Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.
Al An’aam: 125. Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.
Ali ‘Imran: 166. Dan apa yang menimpa kamu pada hari bertemunya dua pasukan, maka (kekalahan) itu adalah dengan izin (takdir) Allah, dan agar Allah mengetahui siapa orang-orang yang beriman.
Al Ahzab: 17. Katakanlah: “Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?” Dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah.
Adz Dzaariyaat: 22. Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezkimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu.
ar Ruum: 41. Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).
Ali ‘Imran: 154. Kemudian setelah kamu berdukacita, Allah menurunkan kepada kamu keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan dari pada kamu, sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri, mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah. Mereka berkata: “Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?.” Katakanlah: “Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah.” Mereka menyembunyikan dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu; mereka berkata: “Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini.” Katakanlah: “Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh.” Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati.
Yusuf: (67). Dan Ya’qub berkata: “Hai anak-anakku janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlain-lain; namun demikian aku tiada dapat melepaskan kamu barang sedikitpun dari pada (takdir) Allah. Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah; kepada-Nya-lah aku bertawakkal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakkal berserah diri.” (68). Dan tatkala mereka masuk menurut yang diperintahkan ayah mereka, maka (cara yang mereka lakukan itu) tiadalah melepaskan mereka sedikitpun dari takdir Allah, akan tetapi itu hanya suatu keinginan pada diri Ya’qub yang telah ditetapkannya. Dan sesungguhnya dia mempunyai pengetahuan, karena Kami telah mengajarkan kepadanya. Akan tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.
Al Fath: 6. dan supaya Dia mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang mereka itu berprasangka buruk terhadap Allah. Mereka akan mendapat giliran (kebinasaan) yang amat buruk dan Allah memurkai dan mengutuk mereka serta menyediakan bagi mereka neraka Jahannam. Dan (neraka Jahannam) itulah sejahat-jahat tempat kembali.
.
__________________________________________________________________________________
__________________________________________________________________________________
__________________________________________________________________________________
__________________________________________________________________________________
panjang sekali sob.. saya mengcopasnya kedalam dokumen, ternyata sebanyak 44hal. dan baru 36 saya membacanya..dari postingan ini saya dapat menemukan salah satu hikmah dari ayat Alqur’an
“walaa tujadiluu ahlal kitabi illa billati hia ahsan” jangan berdebat dgn ahli kitab kecuali dengan bijak.
“kecuali dengan bijak,” kalau saya ga bisa bijak , janganlah coba- coba berdebat. walau pun pendapat saya benar.
di ayat lain” Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”.
jadi kita hanya di suruh mengajak mereka, bukan mendebat,kalau pun terjadi perdebatan, lakukanlah dgn cara yang baik.
terimakasih sob, tulisannya aku simpan, nanti dilanjutkan..
http://sayyidahqurani.wordpress.com/2011/02/27/maksud-manusia-diciptakan/
oia,,apa tujuan diciptakan manusia?
sekalian promosi
Wah… rupanya perbincangan masih berlanjut ya…
Manusia hanya sebatas menjadi pelaku kehidupan yang sudah digariskan olehNya. Namun demikian manusia boleh memilih apakah akan mengubah dirinya ke tingkat yang lebih baik ataukah sebaliknya, sebab Allah pun telah mengisyaratkan demikian bukan sekedar menjalani apa adanya.
Dedeeeeesssss, lagi-lagi nggak bisa nulis komen ah, saya mah nggak berkompeten…