Cerita sebelumnya: Bunuh Diri
Isya sudah berlalu, Emak kecil masih terpekur sendiri di saung tengah sawah. Hati yang nelangsa serta kesepian yang sempurna menimbulkan keinginan-keinginan aneh. Dalam benaknya berkelebatan bisikan putus asa: Emak ingin minggat dari kampung ini, ia ingin menghilang selamanya, bahkan ingin menenggelamkan dirinya di Waduk Darma. Sedang berjuang menghalau semua bisikan itu, tiba-tiba kantuk yang luar biasa datang menyergapnya. Emak segera merebahkan tubuh, dan tak lama kemudian tertidur dengan gelisah, dan Emak pun bermimpi. Dalam mimpinya, Emak sedang berlari menapaki tegalan sawah menuju ke arah waduk. Tekadnya sudah bulat, ia akan mengakhiri hidupnya malam itu juga.
Mimpi memang aneh, meskipun pada kenyataannya suasana malam di pesawahan itu gelap-gulita, namun mata Emak seperti mata kucing saja, ia bisa melihat jalan setapak yang hendak dilaluinya. Ia berlari dengan sangat cepat. Memasuki perkebunan pisang, tiba-tiba langkahnya dihadang sosok berbaju serba putih. Tak terlalu jelas wajah orang itu, semakin Emak mencoba melihat wajahnya, semakin kabur pula pandangannya.
”Mau ke mana, Emoh?” sosok putih itu bertanya lembut sambil merentangkan tangan.
”Aku akan bunuh diri di waduk, Bapak!” Emak menjawab setengah berteriak. Ah, Emak tak hirau dari mana lelaki itu tahu nama panggilannya adalah Emoh. Emak juga tak tahu mengapa ia merasa nyaman dengan sebutan ’Bapak’ ketika memanggil lelaki itu.
”Aih, jangan lakukan itu, Emoh! Lebih baik sekarang kamu ikut Bapak saja.”
”Aku tak mau bertemu Embi lagi! Aku ingin mati saja, Bapak!” Emak terisak.
Sang lelaki tua berbalik, lalu membungkukkan badannya. ”Kamu ikut Bapak saja. Ayo, naiklah ke gendongan.”
”Mau ke mana, Bapak?”
”Naik saja dulu. Nanti di sana kamu pasti senang melihatnya,” suara lelaki tua itu begitu lembut hingga Emak seakan-akan terhipnotis karenanya.
Tanpa ragu sedikit pun Emak kecil mencangklok di atas gendongan lelaki itu. Entah kenapa, Emak merasa sangat nyaman bersama si Bapak yang tak dikenalnya ini, padahal Emak tak tahu akan dibawa ke mana gerangan dirinya. Seandainya hal ini terjadi di alam nyata, pastinya Emak akan menolak. Emak pasti akan takut kalau-kalau si lelaki itu punya niat jahat terhadapnya. Bagaimana kalau dirinya diculik, lalu dijual ke pabrik? Jaman dahulu memang pernah ada isu tentang penculikan bermotif tumbal; pengusaha pabrik di kota setiap tahun musti memenggal kepala anak kecil agar pabriknya lancar. Emak sama sekali tak memikirkan hal itu.
Sekali lagi, mimpi memang aneh, di atas gendongan lelaki tak dikenal itu Emak merasa tubuhnya seringan kapas, ia melayang. Ya, mirip di film-film khas Indosiar, lelaki itu membawa Emak terbang melayang-layang, arahnya ke alun-alun desa. Suasana kampung begitu senyap. Dari pucuk pepohonan, Emak melihat satu dua rumah penduduk, suram sekali. Kerlap-kerlip cahaya lampu stum di beranda sekonyong-konyong mencuatkan kerinduannya pada Mama dan Embi. Dan, aih, Emak terlupa sore tadi Embi memarahinya.
Setelah beberapa menit lamanya mengitari pedusunan, Emak kemudian diturunkan di tengah-tengah alun-alun. Begitu kakinya menginjak rerumputan, Emak langsung terkesiap karena sekarang ia bukan sedang berada di alun-alun desa. Emak tidak menemukan pemandangan apa pun di sekelilingnya, melainkan ia merasa seperti sedang berada di sebuah ruangan luas tak berbatas, tak terlihat apa pun selain dirinya sendiri. Tanah yang dipijaknya pun bukanlah tanah berumput alun-alun, melainkan sesuatu yang terlihat seperti awan putih. Ke arah mana pun Emak memandang, sejauh matanya sanggup memandang, yang terlihat hanya warna putih. Tak ada suara apa pun, bahkan denyut jantungnya sendiri tak terdengar.
Ah, jika hal demikian terjadi di alam nyata, bisa jadi hati Emak akan disergap perasaan hampa atau kesepian yang tiada tara. Tapi anehnya, Emak tak mengenal perasaan-perasaan negatif itu. Emak seolah telah dihipnotis untuk melupakan rasa susah, sedih, cemas, kecewa, bingung dan takut. Emak lupa akan semua penderitaan hidup di dunia, bahkan Emak merasa tak pernah menginjak dunia. Emak tak lagi merasa apa pun selain kebahagiaan yang tiba-tiba berbunga-bunga dalam dadanya, kebahagiaan yang sulit diungkapkan kata-kata, tanpa sebab kenapa ia sedemikian bahagianya. Absurd… ya, dan memang mimpi itu aneh.
Emak teringat akan lelaki berbaju putih yang barusan membawanya ke tempat itu. Beliau menghilang entah ke mana. Emak berlari-lari dan mencoba berteriak memanggil lelaki itu. Tak lama kemudian, di kejauhan samar-samar terlihat ada sesosok tubuh sedang duduk bersila. Lelaki itu…, ya lelaki itu tampak gagah sekali. Dia tidak tua, tapi juga tidak muda (atau mungkin di tempat itu Emak tidak mengenal batasan usia). Lelaki itu tersenyum, wajahnya memancarkan aura bahagia. Wajah yang penuh kedamaian. Ketika aku bertanya, apakah wajah lelaki itu tampan? Emak menjawab bahwa sampai saat ini dia tak pernah mampu mengingat detilnya.
”Emoh, bangun! Solat subuh dulu. Usai solat kamu boleh tidur lagi!” suara Embi tiba-tiba membangunkan Emak dari tidurnya.
Emak terbangun, mengucek-ngucek mata. Ia melihat dinding anyaman bambu kamarnya, ia melihat adik-adiknya tidur berdesakan di atas dipan. Emak mendengar suara dzikir di mushola. Tak lama kemudian Emak terperanjat kaget begitu menyadari bahwa malam tadi ia bukan tidur di saung, melainkan di kamarnya sendiri. Ah, bukankah setelah Embi marah, Emak langsung pergi ke sawah, lalu tertidur di saung, mengapa tiba-tiba ketika bangun Emak sudah berada di rumah sendiri? Pertanyaan itu terus mengganggu.
Siang harinya, Emak bertanya sama Mama. Mama yang bijaksana menjawab, ”Memang benar, sebelum maghrib kamu pergi dari rumah. Usai sholat isya, Mama melihat kamu pulang dan langsung tidur.”
***
Dedeess… aku merinding baca tulisan akhirnya…
ternyata Bapak misterius itu… menuntun Emak kembali pulang ke rumah…
Ya Allah, itu pasti semua rencana Allah yang sangat sayang pada Emak ya Des!
Ah, banyak kejadian tak terduga yang bisa menimpa siapa saja ya, Des…termasuk Emak. betapa manusia memang tak punya daya, bila Sang Kuasa sudah punya rencana.
Kisah ini seperti cermin buat saya. Sudahkah saya melakukan yang terbaik dalam hidup saya? Bukan buat diri pribadi tentu saja, tapi untuk keluarga dan orang lain diluar sana…
Ups, kapan postingnya nih?
Bolak balik kesini, nggak pernah ada tulisan baru, begitu nggak saya tengokin…eh, eh…ternyata udah ada
Mimpi adalah bunga tidur
mampiir
ko saya link cerita ‘Bunuh Diri’nya ngga bisa ketemu ya? mw bacanya nanggung .___.