Apa yang akan kau rasakan seandainya kau terbangun dari mimpi indahmu dan mendapati dirimu berada di tempat yang bukan seperti biasanya kalau kau bangun tidur? Terkejut, itu juga yang saya rasakan. Butuh waktu sejenak untuk menyusun kembali kepingan memori di otak ini yang terberai setelah menyelam terlalu dalam di dunia mimpi. Pertama-tama, di batas antara tidur dan jaga, saya mendengar ramai suara serangga bernyanyi, saya mendengar jerit-pekik binatang sebangsa monyet begitu dekat. Saya mendengar kreket bunyi papan diinjak dan merasakan goyangan kasar pada dipan sempit tempat tidur saya. Saya mendengar suara priuk ditutup, tiupan songsong, disusul kemudian suara air menggelegak di atas tungku. Dan ketika perlahan-lahan membuka mata, saya melihat bayangan baju bergelantungan pada kusamnya dinding papan. Maka berkelebatan peristiwa-peristiwa kemarin, berjejalan mengisi lubang ingatan. Barulah saya sadari, saat itu saya bukan sedang berada di rumah yang damai di kampung halaman, melainkan saya sedang berada di sebuah bedeng kecil tengah hutan, di sebuah tempat asing bernama tanah perantauan.
Sungguh saya tak mengira begitu rapi Tuhan menyimpan rahasia takdir atas hamba-hambaNya. Serasa baru kemarin saya memahat harapan pada lembar demi lembar buku pelajaran di sekolah, bahkan sempat pula saya gantungkan cita-cita setinggi langit, sekarang saya mendapatkan diri ini tengah berada di tempat yang jauh dari mimpi-mimpi itu. Ah, saya tak ingin meratapi takdir. Saya telah camkan sejak lama bahwa saya tak akan membiarkan hidup ini berlarut-larut dalam penyesalan, lalu dengan mudahnya saya mengatakan bahwa “itu sudah takdir saya”. Tidak! Sejauh apa pun perjalanan hidup, saya tetap percaya sesungguhnya inilah jalan terbaik yang telah digariskan olehNya. Hidup adalah pilihan. Bagaimana pun juga, keberadaan saya di tempat asing itu bukan karena paksaan siapa pun, melainkan karena pilihan saya sendiri. Ya, pilihan untuk menemani kedua orang tua saya. Dan mestinya saya berbahagia berada di tengah-tengah mereka, bukan malah meratapinya.
Kesadaran saya berangsur pulih ketika mendengar suara pintu terbuka.
“Bangunlah, Nak! Sholat subuh dulu!” Mak meraba kening saya. Dingin telapak tangannya meresap sampai ke tulang. Dengan sungkan saya melorotkan selimut, lalu duduk termenung. Kesepian langsung menyergap batin. Lampu stum yang tergantung di paku dinding mengingatkan saya pada film-film laga Barry Prima yang sering diputar pada acara layar tancap di alun-alun desa semasa saya kecil. Hitam jelaga membekas di atap seng yang hanya satu meteran tingginya dari tempat lampu itu tergantung. Dinginnya angin subuh yang menelusup dari celah rapatan papan membuat tengkuk terasa beku. Ingin rasanya saya menarik kembali selimut hingga menutup sekujur tubuh, namun segera saya tersadar: tidak! Saya tidak akan membiarkan kenyamanan yang semu ini mendarah-daging menjadi kemalasan akut yang susah diobati. Saya bukan lagi anak kecil yang suka bermanja-manja dengan waktu. Saya harus bergerak!
Hari itu adalah hari pertama saya menjadi seorang kuli penyadap karet. Ketika perlahan kabut putih menampakan diri, Ayah sudah mengenakan seragam kerjanya yang hampir menutupi sekujur tubuh kecuali mata dan telapak tangan. Ia duduk di beranda sambil mengasah sugu. Saya mendengar suaranya yang parau ketika melantunkan ayat-ayat suci al-Quran. Sesekali ia terbatuk-batuk.
Setelah sarapan seadanya, saya mengenakan seragam kerja yang sudah disiapkan Mak; celana dan baju berlengan panjang, topi, kain penutup wajah serta sepatu ladam. Ah, saya pikir ribet sekali kalau harus mengenakan seragam lengkap seperti Ayah. Saya hanya mengenakan kaos tipis, celana pendek, topi dan sepatu saja, kemudian dengan semangat yang hebat saya membuntuti langkah Ayah menuju kebun.
Tak dinyana, sesampainya di kebun, nyamuk tiba-tiba berdatangan mengurubungi saya. Belasan, puluhan, atau mungkin ratusan. Semakin lama semakin tambah banyak jumlahnya, mengiang-ngiang di telinga, berputar-putar di sekeliling tubuh saya, bahkan membuntuti ke mana pun arah langkah saya. Dalam hitungan detik, betis, tangan, leher, wajah dan telinga saya dipenuhi bintil-bintil bekas tusukan jarum mereka. Ya Tuhan, gatalnya bukan main! Saya berlari terbirit-birit kembali ke pondok. Saya baru percaya bahwa celana dan baju lengan panjang serta penutup wajah yang sudah disiapkan Mak itu memang ada gunanya. Alhasil, saya kembali ke kebun dengan kostum ala ninja, hanya mata dan telapak tangan saja yang terlihat.
“Perhatikan baik-baik,” Ayah mulai mengajari saya menyadap karet. Ia menempelkan mata pisaunya yang berbentuk v pada bidang sayatan pohon, kemudian mengirisnya secara melingkar dari atas ke bawah dengan sudut kemiringan kira-kira tiga puluh derajat. Hasil irisan itu mirip seperti saluran kecil, dari sanalah cairan getah mengalir. Sebelum cairan getah jatuh menetes, dengan sigap Ayah memasang cawan pada posisi tepat di atas jatuhnya tetesan getah itu.
“Ah, mudah,” saya berseru seraya menghampiri batang pohon karet lain. Saya menyayat kuat-kuat kulit pohon itu. Sret! Sret! Sret! Hasilnya mengecewakan. Alur sadapan punya saya memang tak serapi bekas sadapan di atasnya, irisannya tampak bertangga-tangga, bahkan mata pisau yang setajam silet itu dengan ganas mengoyak tulang pohon karet tersebut. Ayah berulangkali mewanti-wanti agar penyadapan jangan dilakukan terlalu dalam, karena jika hal itu terjadi terus-menerus, luka sayatan di kulit pohon tidak akan pulih kembali, bekasnya bisa berlubang, dan pohon akan lekas mati karenanya.
Ah, yang jelas hari itu juga saya mulai menyukai pekerjaan ini. Ada kepuasan ketika saya melihat cairan lateks berwarna putih merembes keluar dari pori-pori, mengalir pelan di sepanjang sayatan kemudian jatuh menetes ke dalam cawan yang terbuat dari batok kelapa. Getah yang terkumpul sedikit demi sedikit dalam cawan inilah rejeki kami setiap hari.


Adi Nugroho
susah juga ya ternyata. Tapi kalau dilihat enak gitu tinggal ngerat2 batang..
Ayahnya Ranggasetya
iya, mas, susah. Saya sendiri butuh waktu seminggu lamanya agar bisa menyadap dengan lancar dan rapi.
dudi
sangat membosankan, yah
Ayahnya Ranggasetya
tidak ‘sangat’ kok, tapi ‘kadang’.
bintangtimur
Ada kepuasan ketika melihat cairan lateks berwarna putih itu keluar dari pori-pori…
Syukurlah. Memang itu yang dicari setiap orang yang bekerja. Kepuasan.
kalau kita sudah senang dan merasa puas dengan hasil yang didapat, percaya deh, tidak akan ada pekerjaan yang dirasa terlalu berat…
Dedeees, apa kabar?
Lama saya nggak kesini, maaf ya. Bukan lupa apalagi malas bercengkrama, tapi gitu deh, alasannya bisa berjuta-juta
Ayahnya Ranggasetya
saya merasa kepuasan yang sangat karena waktu itulah untuk pertama kalinya (sejak keluar sekolah) saya mencicipi apa yang namanya kerja, hehe… Dan kepuasan yang paling tak terlupakan adalah ketika untuk pertama kalinya saya menerima uang hasil jerih payah saya menyadap karet, meski uangnya memang tak seberapa.
Waduh, sebenarnya sayalah mestinya yang minta maaf sama ibu karena sudah berbulan lam nggak nongol-nongol lagi di blog.
bintangtimur
Jadi terharu Des, banyak banget ngerapel komen di tempat saya…makasih ya, buat perhatian dan waktunya
Ayahnya Ranggasetya
hehehe…
~Amela~
aaah.. kalau bisa menyukai pekerjaan yang sedang digeluti itu pasti bakal lebih mudah dan menyenangkan..
saya juga sedang berusaha menikmati pekerjaan saya yah.
salam buat rangga yaa
Ayahnya Ranggasetya
Iya, Mbak Amel, seperti kata orang-orang pintar di ‘luar’ sana, syarat penting terciptanya suasana nyaman ketika bekerja adalah dengan mencintai pekerjaan itu sendiri. Apapun pekerjaannya, semoga Mbak Amel menikmatinya dengan sepenuh hati. Salam kembali dari ranggasetya, yah.
Darmanto Muat
semangat berjuangnya tinggi mas.. dan saya suka sekali bait yg ini:
“Sungguh aku tak mengira begitu mudahnya Tuhan mengubah takdir seseorang. Serasa baru kemarin aku memahat harapan pada lembar demi lembar buku pelajaran di sekolah, bahkan sempat pula kugantungkan cita-citaku setinggi langit, sekarang aku mendapatkan diriku tengah berada di tempat yang jauh dari mimpi-mimpiku itu. Ah, aku tak ingin meratapi takdir.”
Luar biasa…!! Allah Maha Mengetahui apa yg terbaik untuk hamba-Nya. dan endingnya, mas sangat menikmati hal itu.. Usaha maksimal, tawakkal pada-Nya.. Insya Allah sukses..!!
Ayahnya Ranggasetya
Aamiin, terima kasih banyak doa dan apresiasinya, Mas. Sukses juga buat Mas Darmanto. Takdir memang rahasia Tuhan saja, dan saya selalu percaya, apapun yang terjadi pada hidup saya, itulah jalan tebaik yang telah Dia pilihkan untuk saya.
Ely Meyer
jadi membayangkan gambar dgn latar belakang pohon karet yang disayat sayat, kira kira merasa sakit nggak ya batang pohonnya ?
Ayahnya Ranggasetya
haha.. Saya juga selalu membayangkan bagaimana sakitnya pohon karet itu setiap hari saya sayat kulitnya…
zoothera
Assalamualaikum mas Dedes, apa kabar? jarang keliatan nih… Setya dan isterimu juga apa kabar? saya baru mulai rajin lagi nih ngeblog, khususnya sejak mulai keranjingan ikutan kontes-kontesan atau giveaway-giveaway-an….
Keep in touch ya mas… Wassalam
Ayahnya Ranggasetya
Waalaikumsalam, Mbak Anis, saya baru muncul lagi, nih. Alhamdulillah, dengan semangat baru tentunya, hehehe… Kami sekeluarga sehat wal’afiat, mbak. Semoga mbak Anis juga demikian. Wah, saya pengen ikutan giveaway2-an nih di blog. Sepertinya seru, haha.
ais ariani
mau komen ini: suka header nya Ki Dedes
apa kabar Ki Dedes? sehatkah? september 1997? aku baru kelas satu SMP keknya, gak paham apa itu pohon karet, gak ngerti letak kambium…
Ayahnya Ranggasetya
ais, headernya udah saya ubah lagi, hehe…
Tahun 97 kamu masih dalam kondisi culun-culunnya, yah, hehe… Yah, nggak apa-apa deh nggak ngerti pohon karet, nggak ada yang maksa buat ngerti kok, xixixi…
Lyliana Thia
oot Dedes… gimana kabarnya? Setya lagi suka makan ya..? seneng dengernya… semoga sehat selalu ya…
Ayahnya Ranggasetya
iya, mbak, senengnya kalu setya banyak makan di rumah, dia nggak kepengen jajan lagi. Kalau vania gimana? Semoga sehat, yah. Nanti saya pasti berkunjung ke blog THE GREEN PENSIEVE lihat-lihat kabar Vania.
Sayyidah 'Ali
jadi perjuangan suamiku dulu, sedih sekali lihat pertama kali lihat dia tinggal didaerah hutan,, ternyata disinilah dia menemukan kebebasan hidup dan jati dirinya,,semoga berkah des, hasil karetnya..salam kenal buat keluarga
Ayahnya Ranggasetya
makasih, mbak, salam kembali buat mbak sekeluarga. Wah, saya belum membaca cerita lengkapnya tentang suami mbak yang pernah kerja di hutan…