September 1997

Apa yang akan kau rasakan seandainya kau terbangun dari mimpi indahmu dan mendapati dirimu berada di tempat yang bukan seperti biasanya kalau kau bangun tidur? Terkejut, itu juga yang kurasakan. Butuh waktu sejenak untuk menyusun kembali kepingan memori di otakku yang terberai setelah menyelam terlalu dalam di dunia mimpi. Pertama-tama, di batas antara tidur dan jaga, aku mendengar suara burung ramai bernyanyi, aku mendengar jerit-pekik binatang sebangsa monyet begitu dekat di atasku. Aku mendengar kreket bunyi pelupuh diinjak dan merasakan goyangan kasar pada dipan sempit tempat tidurku. Aku mendengar suara priuk ditutup, tiupan songsong (selongsong bambu untuk meniup tungku perapian), disusul kemudian suara air menggelegak di atas tungku. Dan ketika perlahan-lahan aku membuka mata, aku melihat bayangan baju bergelantungan pada kusamnya dinding papan. Maka berkelebatan peristiwa-peristiwa kemarin, berjejalan mengisi lubang ingatan. Barulah aku sadari, saat ini aku bukan sedang berada di rumahku yang damai di kampung halaman, melainkan aku sedang berada di sebuah bedeng kecil tengah hutan, di sebuah tempat asing bernama Tanah Perantauan.

Sungguh aku tak mengira begitu mudahnya Tuhan mengubah takdir seseorang. Serasa baru kemarin aku memahat harapan pada lembar demi lembar buku pelajaran di sekolah, bahkan sempat pula kugantungkan cita-citaku setinggi langit, sekarang aku mendapatkan diriku tengah berada di tempat yang jauh dari mimpi-mimpiku itu. Ah, aku tak ingin meratapi takdir. Telah aku camkan sejak kemarin bahwa aku tak akan membiarkan hidupku berlarut-larut dalam kemiskinan, lalu dengan mudahnya aku mengatakatan bahwa ”itu sudah takdirku”. Tidak! Seburuk apa pun aku merasa perjalanan hidupku, aku tetap percaya sesungguhnya inilah jalan terbaik yang telah digariskan oleh-Nya. Bagaimana pun juga aku berada di sini bukan karena paksaan siapa pun, melainkan karena pilihan hidupku sendiri, yaitu keinginan untuk menemani kedua orang tuaku. Yah, mestinya aku berbahagia berada di tempat ini untuk menemani mereka, bukan malah meratapinya.

Tiba-tiba kudengar suara pintu terbuka.

”Bangunlah, Nak! Sholat subuh dulu!” Emak meraba keningku. Dingin telapak tangannya meresap sampai ke tulang punggung. Dengan sungkan kulorotkan selimut, lalu aku duduk termenung. Kesepian langsung menyergap batinku. Lampu stum yang tergantung di paku dinding mengingatkan aku pada film-film laga Barry Prima yang sering diputar pada acara layar tancap di alun-alun desa semasa aku kecil. Hitam jelaga membekas di atap seng yang hanya satu meteran tingginya dari tempat lampu itu tergantung. Dinginnya angin subuh yang menelusup dari celah rapatan papan membuat tengkuk terasa membeku. Ingin kutarik kembali selimut hingga menutup sekujur tubuh, namun segera aku tersadar: tidak! Aku tidak akan membiarkan kenyamanan yang semu ini mendarah-daging menjadi kemalasan akut yang susah diobati. Aku bukan lagi anak kecil yang musti bermanja-manja dengan waktu. Aku harus bergerak!

Hari ini adalah hari pertama aku menjadi seorang buruh penyadap karet. Ketika perlahan kabut putih menampakan diri, Bapak sudah memulai pekerjaannya. Aku mendengar suara senandungnya melantunkan ayat-ayat suci al-Quran, disusul kemudian suara kasar sayatan pisau pada sebatang pohon karet tak jauh di samping bedeng. Sesekali ia terbatuk-batuk. Langkah kakinya gemerusukan menginjak daun-daun kering.

Setelah sarapan seadanya, aku mengenakan seragam kerja yang sudah disiapkan Emak; celana panjang, baju lengan panjang, topi, kain penutup wajah serta sepatu ladam (sepatu warna hitam berbahan campuran karet kasar dan plastik). Ah, karena merasa ribet, aku hanya mengenakan kaos tipis, celana pendek, topi serta sepatu ladam saja, kemudian dengan semangat yang hebat aku menyusul Bapak. Tak dinyana, sesampainya di depan pohon karet, nyamuk tiba-tiba berdatangan mengurubungiku, mengiang-ngiang di telinga, berputar-putar di sekeliling tubuhku, bahkan membuntuti ke mana pun arah langkahku. Dalam hitungan detik, betis, tangan, leher, wajah dan telingaku dipenuhi bintil-bintil bekas gigitan mereka. Masya Allah, gatalnya bukan main! Aku berlari masuk bedeng. Baru aku tahu bahwa lengan panjang serta penutup wajah yang sudah disiapkan Emak itu berguna untuk melindungi gigitan nyamuk. Alhasil, aku kembali ke kebun dengan kostum ala ninja, hanya mata dan telapak tangan saja yang terbuka.

“Perhatikan dulu cara Bapak menyadap,” kata Bapak ketika aku sampai di sebelahnya. Ia menempelkan mata pisaunya yang berbentuk v pada bidang sayatan pohon, kemudian mengirisnya secara melingkar dari atas ke bawah dengan sudut kemiringan kira-kira 30 derajat. Hasil irisan itu mirip seperti saluran kecil, dari sanalah cairan getah mengalir. Sebelum lateks jatuh menetes, dengan sigap Bapak membetulkan letak cawan yang miring.

“Ah, mudah,” pikirku. Kuhampiri pohon karet lain, lalu mulai menyayatkan pisauku pada kulitnya yang kering. Sret! Sret! Sret! Kulihat alur sadapanku tak serapi bekas sadapan di atasnya. Irisan pisauku bertangga-tangga, bahkan mata pisauku yang setajam silet ini dengan ganas mengoyak tulang pohon karet tersebut.

“Itu namanya tekayu, pisaumu melukai kayu,” kata Bapak.

Wah, ternyata menyadap bukanlah pekerjaan yang mudah. Bapak berulangkali mewanti-wanti agar penyadapan jangan dilakukan terlalu dalam, karena jika hal itu terjadi terus-menerus, luka sayatan di kulit pohon tidak akan pulih kembali, bekasnya bisa berlubang seperti jendela, pada akhirnya pohon karet pun akan lekas mati. “Sisakan kulitnya minimal 1 mili dari tempat keluarnya air masam,” jelas Bapak. Yap, di sekolah aku pernah belajar biologi, mungkin yang disebut Bapak tentang air masam itu adalah kambium. Ah, yang jelas aku mulai menyukai pekerjaan ini. Ada kepuasan ketika aku melihat cairan lateks berwarna putih itu merembes keluar dari pori-pori, mengalir pelan di sepanjang sayatan kemudian jatuh menetes ke dalam cawan yang terbuat dari batok kelapa. Getah yang terkumpul sedikit demi sedikit dalam cawan inilah rejeki kami setiap hari.