
Benar kata orang, beda pendapat antara suami dan istri itu lumrah adanya di kehidupan rumah-tangga, termasuk dalam hal mendidik anak. Seperti istriku, selama ini aku menganggap dia sebagai sosok ibu yang terlalu protektif. Dan mungkin sebaliknya, istriku menganggap aku adalah ayah yang terlalu memanjakan anak dalam hal kebebasan. Tak perlu bertanya mana yang benar dan mana yang salah, karena aku percaya perbedaan itu justru bisa saling melengkapi nantinya.
Pasalnya adalah ketika pada suatu sore, usai hujan Setya dan salah satu temannya sedang asyik bermain patung tanah di halaman rumah. Tiba-tiba, istriku yang baru pulang dari sumur memarahinya. “Emak nggak mau punya anak yang suka bermain kotor-kotoran begitu. Ayo mandi!” teriaknya.
Anak mana yang tak bersedih hati jika keasyikannya dihentikan? Maka Setya pun merengut, matanya mendelik ke arahku minta dukungan. Yeah, seperti biasa, di depan emaknya, aku lebih suka berkata: “Turuti apa kata emakmu!”

Malam harinya, iseng-iseng aku berkata pada istriku: “Setya masih kecil, loh, Mak. Mestinya kita biarkan saja dia bermain sesuka hati. Aku pernah baca artikel tentang cara mendidik anak di internet. Konon katanya, bermain itu sangat penting untuk perkembangan otaknya.”
Istriku menggeleng. “Entahlah, tapi aku paling merasa tak nyaman melihat tubuhnya kotor belepotan tanah. Degil banget dia. Kuman penyakitnya itu yang kutakutkan.”
“Ah, kotor itu kan perkara mudah. Setelah dia puas bermain, kita kan bisa memandikannya bersih-bersih agar kumannya hilang,” aku tak mau kalah.
“Wew, bukankah mencegah itu lebih baik daripada mengobati, Yah?” istriku juga ngotot.
“Tapi aku khawatir Setya akan mengalami masa-masa kecil kurang bahagia,” aku mencoba menakut-nakuti dia.
“Iya juga sih, tapi apakah kamu pikir bahagianya Setya cuma bisa diraih dengan cara bermain kotor-kotoran?”
“???!!!!!”


naniknara
boleh beda pendapat, asal jangan sampai berantem gara-gara beda pendapat.
Sebaiknya juga, jangan perlihatkan perbedaan pendapat itu di depan anak. Karena bisa jadi hal ini akan dimanfaatkan anak untuk ‘mengadu’ kedua orang tuanya
dokter anak
harus ada yang mengalah salah satu kalau tidak ingin bertengkar…makasih ya udah share pengalamannya disini…jadi pembelajaran untuk yang lainnya…
ysalma
beda pendapat dan diskusinya dibelakang si anak, itu biasa,
saya rasa ortu yang berbeda pendapat, tetapi tetap kompak untuk keputusan akhirnya, itu penyeimbang juga bagi anak, kondisi seperti ini, emakku lebih tegas, kondisi lain bapakku yang agak tegas..
kontraktor bangunan
nice story…
Muhammad Irfan Firdaus
Pak Dedes…
Memang benar ya…kelihatannya gampang untuk mendidik anak,
Tapi kenyataannya…hmmm butuh orang tua bijak untuk mengatasi berbagai masalah anak tentunya, dan kebersamaan pandangan dalam mendidik anak, menjadi modal kuat untuk kebahagiaan dan kemandirian anak kelak,
Terima kasih atas sharingnya ya pak Dedes… ^_^
Ummu El Nurien
aku juga tak suka anak ku main kotor-kotoran , bermain masih bisa dengan cara yang lain.
kakaakin
Orang tua memang sering berbeda pendapat dalam menangani anak ya
Semoga tak membuat pertengkaran antar ortu
model busana muslim
jgn saling berselisih..
mengalah demi kedamaian…:)
lozz akbar
Saya kok malah pingin ya suasana ribut kecil dengan istri gara-gara metode mendidik anak? hehehe
Selamat Ramadhan Kang
SITI FATIMAH AHMAD
Assalaamu’alaikum wr.wb, sahabat…
Lama sekali tidak bersilaturahmi dan bertanya khabar.
Semoga selalu sihat di sana.
Hadir ingin menyapa dengan ucapan,
Marhaban yaa Ramadhan..
Pucuk selasih bertunas menjulang
Dahannya patah tolong betulkan,
Puasa Ramadhan kembali menjelang,
Semoga amal ibadah kita diterima Allah dan amalan kita semakin bertambah baik dari sebelumnya.
Salah dan khilaf mohon dimaafkan.
Selamat Menunaikan Ibadah puasa
Salam Ramadhan dari Sarikei, Sarawak.